7 Hal yang Harus diHindari dalam Peresepan Obat

7 hal yang harus dihindari di dalam proses peresepan

Tanpa disadari dokter sering meresepkan obat, merasa bahwa obat itu tepat untuk pasien. Tapi dalam kenyataannya tidak selalu seperti yang kita harapkan. Sebagai contoh salah satu studi menunjukkan bahwa apabila seseorang dokter meresepkan 5 obat maka satu diantaranya pasti bermasalah. Studi yang lain mengatakan bahwa dari studi yang diikuti selama 5 tahun terlihat bahwa kira-kira sebagian besar kesalahan ada pada kesalahan dosis, kesalahan dalam cara memberikannya dan frekuensi pemberian obat. Inilah salah satu dari medication eror. Tanpa kita sadari, dokter memberikan lebih dari satu obat dan antar obat itu bisa berinteraksi dan itu bermasalah untuk pasien.

Tujuh hal yang harus dihindari di dalam proses peresepan yaitu

  1. Tidak semua obat bermanfaat

Sebagai contoh obat batuk (cough mixture). Semua orang pasti pernah minum obat batuk. Dalam studi yang terakhir menunjukkan bahwa obat batuk tidak bermanfaat. Yang paling penting adalah menemukan penyebab dari batuknya bukan mengatasi simptom dari batuk. Data dari berbagai kajian ilmu maupun randomize control trial menunjukkan bahwa obat batuk tidak memberikan manfaat. Demikian juga untuk Suplemen, imunomodulator, vitamin yang mana itu hanya bermanfaat untuk sedikit orang dan sebagian tidak memerlukan.

  1. Tidak Sesuai Indikasi (Off Label)

Sebagai contoh dokter bisa saja memberikan obat statin untuk pasien dengan dislipidemia. Tetapi ingat, bahwa studi yang digunakan untuk itu menyatakan bahwa obat statin hanya bermanfaat apabila diberikan sebagai tambahan. Yang paling utama adalah diet nya. Jadi jangan lupa sampaikan pada pasien bahwa obat statin hanya bermanfaat apabila pasien melakukan diet.

Kesalahan yang sering terjadi, dokter merasa sepanjang obat sudah diberikan dan obat itu bisa menurunkan kadar lemak atau kolesterol maka akan bermanfaat namun kenyataannya tidak.

  1. Frekuensi pemberian obat keliru

Sangat umum dokter meresepkan obat signa 3 DD1, Signa 2 DD 1, atau diberikan setiap 2 kali sehari atau 3 kali sehari. Itu adalah cara-cara yang sebenarnya harus sudah ditinggalkan. Mengapa demikian ? Saat obat masuk ke dalam tubuh, obat memerlukan absorbsi di dalam lambung, kemudian akan mencapai kadar puncak lalu turun. Sebelum turun, ia harus diisi lagi. Sebagai contoh antibiotik diberikan 3×1. Harapannya kadar terapetik selama 24 jam tetapi ingat bila diminum 3×1 (pagi minum jam 7, siang minum jam 12, malam minum jam 7) maka jam 7.00-12.00 hanya 5 jam, jam 12.00-19.00 hanya 7 jam, sedang jam 19.00-07.00 itu 12 jam. Maka saat itu di dalam darah tidak ada obat. Itu sebabnya sebagian besar penyakit mungkin tidak dapat sembuh dengan baik karena cara pemberian yang keliru. Jadi koreksinya adalah jika meresepkan obat, tuliskan “diberikan atau diminum tiap 8 jam sekali atau 12 jam sekali atau 24 jam sekali). Itu yang paling tepat yang akan menggambarkan manfaat di dalam tubuh

  1. Sediaan yang salah

Masih ditemukan dokter meresepkan obat yaitu dijadikan puyer dari berbagai jenis obat. Ingat, obat sediaannya bermacam-macam. Ada satu istilah, obat yang boleh di potek/digerus atau dijadikan puyer adalah obat yang tengahnya ada belah tengahnya. Jadi tablet yang ada belah tengahnya adalah satu-satunya obat yang boleh di gerus. Bagi yang lainnya sediaan lepas lambat, tablet salut gula yang mengkilap bentuknya sama sekali tidak boleh dihancurkan karena itu akan merusak struktur obat, maka kebermanfaatan dari obat itu menjadi hilang atau tidak bermanfaat. Apalagi mencampurkan dengan banyak obat.

Apakah semua obat yang diresepkan banyak akan bermanfaat untuk pasien? Kasian anak-anak bila terlalu banyak diresepkan dengan obat-obat yang mungkin akan mengekspos mereka dengan resiko efek samping.

  1. Tulisan resep jelek yang mencelakakan pasien

Jaman sekarang, orang tulisannya harus bagus. Karena tulisan dokter yang jelek akan mencelakakan pasien karena apabila apotik salah memberikan obat berdasarkan tulisan yang tidak bisa dibaca, pasti akan merugikan pasien.

  1. Preparation error

Masih diulang-ulang cara-cara yang sebenarnya harus sudah tidak dilakukan. Obat-obat tablet, kapsul kemudian dicampurkan kedalam ekspektoran sehingga di gerus dan dimasukkan kedalam botol sirup. Ini adalah pekerjaan yang sia-sia dan sama sekali tidak boleh dilakukan lagi. Karena di dalam struktur obat sirup itu bentuknya tetap dan bila ditambahkan sesuatu maka ia akan mengendap kebawah dan berbahaya bagi pasien karena pada hari yang terakhir obat itu diberikan, kadar obat / dosisnya akan sangat besar dan itu bisa mencelakakak pasien

  1. Excessive treatment

Sekarang, semakin pandai dokter seharusnya obatnya semakin sedikit. Kenapa?  Resep yang sedemikian banyak sangat membahayakan pasien apabila tidak mempertimbangkannya dengan sangat baik. Contoh resep untuk seorang pensiunan dengan usia 67 tahun diberikan obat yang jumlahnya 18 obat. Apakah akan menyembuhkan atau justru membahayakan pasien? Di resep tersebut ada obat anti hipertensi yang berlebihan (ada 4 obat) tapi dokter mungkin tidak menyadari  karena ke dua-duanya atau ke empat-empatnya diberikan dalam bentuk nama dagang yang ternyata isinya sama. Selain itu, ada obat diabetes (ada 5 anti diabetes). Tidak disadari salah satu atau dua diantara anti diabetes itu bisa menyebabkan hipoglisemia apalagi kalau dicampur bersamaan.

Risiko Akibat Resep Berlebihan

  1. Obat ganda. Dengan adanya obat ganda maka risikonya adalah efek samping
  2. Dosis berlebihan. Risiko dari dosis berlebihan adalah toksisitas
  3. Interaksi obat
  4. Menimbulkan kebingungan
  5. Menurunkan ketaatan minum obat

Niat baik dokter tidak selalu sama dengan kenyataan. Dokter baik hati misalnya memberikan obat ciprofloxacin (antibiotik) yang bila diberikan akan terjadi gangguan lambung maka sang dokter memberikan alumunium hydroxida. Secara logika itu sudah benar. Tetapi ternyata kadar ciprofloxacin yang bisa menyembuhkan pasien tetapi ketika diberi alumunium hydroxida kadarnya kecil maka apapun yang diberikan, tidak akan bermanfaat untuk pasien. Pasien akan menghabiskan uang dan waktu yang ternyata kadar obatnya rendah di dalam darah dan tidak bisa menyembuhkan.

Pernahkan dokter bertanya pada pasien ketika pasien datang ke dokter “obat apa yang sedang bapak/ibu minum saat ini?”. Mereka yang usianya diatas 50 tahun, mungkin sebagian besar menerima obat yang namanya statin. Dan bila dokter tidak tahu bila pasien sedang minum statin kemudian diresepkan eritromisin maka kadarnya akan tinggi. Sehingga akan membahayakan pasien karena resiko rabdomiolisis akan segera terjadi pada pasien.

Niat baik tidak selalu menghasilkan outcome yang baik. Sehingga yang perlu diketahui adalah tidak semua obat bermanfaat maka pilihlah berdasarkan indikasi (bila memang harus diberikan maka indikasi harus sesuai). Selain itu, hindari memberikan obat yang justru berisiko bagi pasien. Dan terakhir, gunakan prinsip evidence based medicine untuk memberikan terapi berdasarkan bukti ilmiah terkini dan valid.

Sumber : Prof. dr. Iwan Dwiprahasto, MMedSc, PhD (Guru Besar FKKMK UGM. Medication Safety Practice. Disampaikan pada 13 Februari 2018

loading...
Share

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*