Anak Muda, Agen Pembaharuan & Agen Perubahan

Anak Muda, Agen Pembaharuan & Agen Perubahan
Anak Muda, Agen Pembaharuan & Agen Perubahan

Anak muda akan mengalami tantangan dalam beradaptasi dengan organisasi yang ia masuki. Menyeruak perkataan tentang krisis karena tidak diberikannya kepercayaan & ruang berekspresi padanya. Dalam sebuah institusi sering kali geger budaya, terantuk-antuk dengan hal-hal yang berbeda karena terpaut cara pandang & pikirnya. Masih menganut bahwa “anak baru” perlu mengikuti system yang telah ada & belajar menyesuaikan dengan system eksisting. Sehingga darah segar ini kemudian terlarut & perlahan seiring waktu semakin tumpul akan hal baru, lupa dengan idealisme yang ingin dihadirkan seperti cita-cita semula, tak disadari membuatnya terkungkung dalam belenggu statis pekerjaan yang itu-itu saja.

Ada perubahan paradigm yang perlu dipahami, terutama bagi yang merasa senior perlu menurunkan ego, membuka cara pikirnya bahwa paradigma yang dipegang saat ini jangan-jangan sudah usang. Jangan-jangan masih berprinsip bahwa anak baru adalah objek bulan-bulanan system yang harus tunduk & patuh. Contoh nyata bagi budaya yang membelenggu pembaruan. Juga bagi anak baru, jangan sampai menjadi buta & takut berbeda dengan system yang sudah berjalan untuk menghadirkan sebuah pembaruan.

Organisasi kontemporer perlu memaknai hadirnya anggota baru sebagai agen pembaruan. Sosok yang diarahkan untuk menghadirkan pembaruan bagi organisasi. Padahal era 4.0 yang disongsong dengan society 5.0 ini justru menekankan pada pentingnya menumbuhkan organisasi-organisasi pembelajar. Salah satu cirinya adalah (1) memberikan ruang bagi anggotanya untuk memberikan pembaruan, (2) ruang yang luas untuk berekspresi, berkreasi & menyumbangkan kreativitasnya tanpa takut tersaingi/ragu mempercayainya, (3) berikan kepercayaan sebagai pembaharu, bukan insan yang dibuat untuk larut dalam system.

Menghadirkan perubahan menuju kemajuan berkesinambungan adalah sebuah proses panjang, yang sering kali dikatakan “susah”, padahal grafis perjalanannya sama persis dengan proses kreatif dengan gambaran sebagai “the valley of death” yang bermula dari this is hoing to be awesome, i’m terrible dan berakhir that was awesome.

Energi menjadi deras terkuras ketika bersinggungan dengan kelompok yang masih kesulitan mengosongkan isi gelas. Asumsi tampak bertebaran di udara kesana kemari dalam lontaran kata-kata yang menohok. Tampak seperti diskusi yang melelahkan karena setiap orang hadir dengan gelas yang penuh.

Raut-raut wajahnya seperti singa yang siap berperang, meneguhkan diri bahwa dialah yang tahu dan paling berpengalaman. Menjadi sukar sekali beberapa diskusi yang tadinya diselenggarakan agar berujung untuk saling memberikan solusi. Nanti, jika kita bertemu kosongkan dulu ya gelasnya, biar kita bisa saling mengisi dengan pengalaman serta pengetahuan yang berbeda-beda untuk saling memperkaya.

Menjadi agen perubahan sudah tentu perlu memiliki komitmen kuat untuk menghadirkan sebuah visi di masa datang. Dengan memilih untuk menjadi agent of change juga merupakan titik untuk berikrar tetap berjiwa eksploratif. Senantiasa bereksplorasi adala sebuah cerminan dari komitmen untuk selalu belajar dan mencari cara-cara baru untuk beradaptasi dengan hal-hal baru yang semakin sering bermunculan.

Agent of change adalah individu-individu yang focus pada masa depan, meneguhkan dirinya untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat dan menumbuhkan komitmennya sepanjang prosesnya. Berbeda dengan yang lain, bagi mereka berfokus pada masa lalu akan banyak energy dilimpahkan untuk tetap bertahan dengan rujukan pengalaman masa lalunya.

Denial dan resisten adalah dua karakter utamanya karena mental modelnya merujuk pada kesuksesannya pada masa lalu yang dialaminya, tanpa mau terbuka pada hal-hal baru yang sedang dan akan jadi. Terhadap hal-hal baru yang akan banyak mewarnai cara berpikir karena banyak berbeda dengan rujukan pada masa lalu. Namun, memang sebuah tantangan menghadirkan perubahan, karena untuk mengawali dan berakhir dengan perubahan pada umumnya prosesnya sebagai berikut

  1. Mengawalinya dengan menyandingkannya dengan masa lalu, kemudian mengelak dan bertahan
  2. Berupaya focus pada diri sendiri, bertahan dan mulai mau mencari tahu atau sedikit eksploratif dan
  3. Jika pada akhirnya geliat eksploratif sudah mulai bermunculan dan berkomitmen pada hal tersebut

Selama proses-proses tersebut, akan menghadirkan pertanyaan-pertanyaan keras yang ditautkan dengan konteks lingkungan-lingkungan sekelilingnya. Maka factor sekeliling akan menjadi variable penting bagi terakselerasinya sebuah perubahan untuk terjadi.

Sumber : Dwi Indra Purnomo. Dosen Fakultas Teknik Pertanian UNPAD.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*