Lima Penyebab Orang Sengsara di Dunia

Ada lima penyebab orang sengsara di dunia ini yang menyebabkan hidupnya tidak bahagia dengan semua yang dia usahakan. Pertama, mengerasnya Qalbu. Qalbu yang tidak mudah ikhlas dalam berbuat, qalbu yang tidak mudah berharap kepada Alloh dalam bekerja, qalbu yang tidak bersandar kepada Alloh dalam segala tindakan adalah qalbu yang keras. Dan orang itu sengsara dengan semua pekerjaannya. Kedua, bekunya air mata. Kebekuan air mata adalah berangkat dan bermula dari kerasnya qalbu. Tidak adanya tetesan air mata taubat, tidak ada tetesan air mata penyesalan setelah bermaksiat kepada Alloh karena memang selama ini tidak banyak berdzikir, tidak banyak ingat dalam qalbunya kepada Alloh. Tidak ada air mata cinta dan tidak ada air mata kerinduan kepada Alloh. Inilah yang disebut dengan air mata yang membeku. Abu Dardha RA seringkali menghabiskan malam-malamnya dengan tetesan air mata, air mata ditempatnya bersujud yang tidak bersajadah sehingga tersisa seperti tetesan embun atau tetesan titik hujan. Beruntunglah orang yang sudah lembut hatinya dan tidak membeku air matanya.

Ketiga, berkurangnya rasa malu. Berkurangnya rasa malu kepada Alloh. Ketika kita bermaksiat kepada Alloh padahal rezeki yang kita dapat itu berasal dari Alloh, kita tidak malu. Kita gunakan tenaga padahal tenaga itu berasal dari Alloh tetapi tenaga kita gunakan untuk menjauh dari Alloh. Sungguh kita tidak tahu malu kepada Alloh. Alloh tidak pernah lepas perhatiannya kepada kita. Tapi kita mencari perhatian dari selain Alloh padahal Alloh lah yang Maha memperhatikan kita dengan semua kasih sayangNya lalu kita tidak merasa malu kepada Alloh maka hatinya akan sengsara. Rasa malu itu diantara pilar-pilarnya iman. Semakin kuat rasa malu seorang hamba kepada Alloh, maka akan semakin jauh dari kesengsaraan. Sebaliknya, terlalu banyak bermaksiat akan hilangnya rasa malu. Ketika rasa malu sudah hilang maka telanjanglah manusia itu. Tidak ada lai penutup auratnya. Terbongkarlah semua aib-aibnya. Maka orang yang terbongkar aibnya akan sengsara.

Empat, cinta dunia. Terobsesi pada dunia. Mengejar dunia. Ketahuilah semua yang berharga yang kamu cari ada dalam simpanan khazanahNya Alloh. Tersimpan di lemariNya Alloh. kuncinya pun ditangan Alloh. Dan Cuma Alloh yang bisa membuka kunci itu. Terobsesi pada dunia adalah mengejar yang tiada, mengejar bayang-bayang, menggapai fatamorgana. Putus asalah terhadap manusia. Tidak ada yang bisa dilakukan manusia untukmu. Sebelum kamu kecewa pada akhirnya, putus asalah terhadap apa yang ada di tangan manusia karena manusia tidak punya apa-apa tanpa seizin Alloh. Sejak awal, sebelum kecewa pada akhirnya, putus asalah pada orang kaya, putus asalah pada penguasa, putus asalah sejak awal sebelum kecewa pada akhirnya. Karena yang Alloh turunkan tidak akan lebih dari yang sudah Alloh takar untukmu. Betapapun usaha kamu. Semua yang bakal kita terima tidak akan pernah melebihi yang sudah ditakar oleh Alloh. Maka betapa sengsaranya orang yang terpusat qalbunya pada dunia.

Lima, terlalu panjang angan-angannya. Terlalu mengikuti keinginan. Keinginanya menyebrang ke angan-angan padahal kalau ada sesuatu yang dekat dan paling pas adalah kematian. Dan kalau ada destinasi yang dituju adalah akhirat. Orang yang panjang angan pernah digambarkan Rasulullah diatas padang pasir lalu Rasulullah membuat bentuk empat persegi panjang. Di kotak empat persegi panjang itu kemudian Rasulullah menarik garis ditengah-tengahnya yang melintasi batasan atas dan batasan bawahnya. Sahabat lalu bertanya “Ya Rasulullah, apa maksud empat persegi panjang ini dan apa maksud garis yang melampaui kotak ini?”. Rasulullah bersabda “kotak itu adalah kotak usiamu sementara garis itu adalah angan-anganmu yang melampaui usiamu”.

Suatu hari ada seorang sahabat yang menatap sebuah rumahnya dari arah depan berdecak kagum karena rumahnya baru saja dibangun. Berharap ada temannya yang lewat melintasi rumahnya untuk ditanya apa komentar tentang rumahnya yang baru saja dibangun. Lalu melintaslah sahabat dan pemilik rumah dengan bangga mengatakan “apa pendapatmu tentang rumahku?”. Orang yang berakal itu berkata “rumahmu melampaui usiamu”. Lalu ditinggalkan dan tidak dipujinya. Dalam peristiwa lain baru saja orang ini pindah rumah ke rumah baru. Semua diundang dan mati lampu. Diluar dugaan dia perbaiki sendiri. Kesetrum dan mati saat itu juga. Padahal rumah sesungguhnya adalah bukan terminal yang bernama dunia ini. Mungkin salah ilmu sehingga panjang angan.

Rasulullah begitu tegas melihat dunia dengan gambaran yang sangat konkrit “dunia bagiku tak lebih dari sekedar pohon ditengah padang pasir ketika terik matahari. Karena panas lalu aku kemudian berteduh sejenak dibawahnya. Menjelang sore hari, ku tinggalkan pohon itu karena itu hanya tempat berteduh sejenak”. Pohon itu adalah dunia. Lihatlah begitu ccerdasnya Rasulullah SAW melihat dunia. Memang seperti itu orang jenius melihat dunia. Dan seharusnya seperti itu pula kita melihat dunia ini. Buat apa punya rumah dimana-mana.

Imam ghazali menggambarkan “tidak salah punya harta banyak tapi ingat punya harta banyak sama halnya sedang memelihara ular yang berbisa. Jika kamu telat memberi makan, jika kamu salah dalam mendidik ular maka tunggulah kamu yang akan digigit”. Sehingga digambarkan hadits “di akhirat, orang-orang yang tidak pandai menempatkan hartanya secara benar, hartanya berubah menjadi ular besar yang melilit sekujur tubuhnya sampai ke lehernya. Ketika ular itu menganga di depan wajahnya, ular itu berkata ‘akulah hartamu ketika kamu masih didunia’. Lalu dicaplokkan kepala itu secara berulang-ulang”.

Sumber : Ust. Bachtiar Nasir. Asmaul husna mengenal Alloh Seindah AsmaNya. AQLIslamicCenter

loading...
Share

1 Comment

  1. Subhanallah alangkah meruginya orang yang terlalu memikirkan urusan dunia, sehingga urusan akhirat di kesampingkan. Ditunggu update masalah peran suami terhadap orangtuanya ya mbak ais ☺

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*