Menjemput Jodoh

Menjemput Jodoh
Menjemput Jodoh

Urusan jodoh itu sering tak terduga. Yang disangka itu jodoh kita eh malah pergi meninggalkan kita. Tapi justru yang tak diduga datang begitu saja. Setiap saya bertanya pada beberapa sahabat yang sudah menikah, rata-rata mereka menjawab “Gak nyangka, ternyata saya berjodoh dengan orang ini”. Ada yang baru kenal sebulan, seminggu atau beberapa hari saja. Ada yang tak sengaja bertemu namun berjodoh. Ada juga yang disengajakan untuk bertemu dan berjodoh. Beberapa kadang dipaksakan untuk berjodoh, walau tentu takdirNya yang akan menjawab.

Dalam buku Just For Girl yang ditulis oleh Ina Agustina, Jodoh dalam kamu besar bahasa Indonesia adalah orang yang cocok menjadi istri, suami atau sesuatu yang cocok sehingga menjadi sepasang atau pasangan. Dalam Islam tidak ada kata yang spesifik menunjukkan jodoh tapi dalam Islam digunakan kata pasangan. Setiap manusia diciptakan berpasangan maksudnya laki-laki dan perempuan. Namun, diberikan kebebasan untuk memilih dan berikhtiar agar mendapat takdir yang terbaik.

Pasangan itu akan hadir saat waktu yang tepat, tugas kita adalah memperbaiki diri agar mendapat pasangan yang terbaik. Jadi bukan masalah siapa jodoh saya atau kapan saya bertemu dengan jodoh saya tapi masalah mengapa saya bertemu jodoh saya dan bagaimana cara saya mendapatkan jodoh saya. Sehingga fokusnya adalah meluruskan niat bahwa apapun yang kita ikhtiarkan adalah dalam rangka ibadah kepada Allah dan pastikan bentuk ikhtiar kita tidak bertentangan dengan syariat Islam.

Pernah lihat orang yang jodohnya ternyata punya kemiripan wajah ? Atau bisa jadi sifatnya yang banyak kesamaan ? Tapi yang paling bisa diprediksikan, biasanya jodoh kita itu tak jauh dari lingkungan aktivitas kita loh. Artis biasanya nikah dengan artis lagi. Aktivis suka berjodoh dengan sesama aktivis. Orang yang pendiam biasanya berjodoh dengan yang pendiam juga. Hafidz al qur’an menikah dengan hafidzah. Karena kecenderungan kita lebih tertarik dengan orang yang punya banyak kesamaan dengan diri kita.

So, tinggal memilih, mau mendapatkan yang terbaik dengan memperbaiki kualitas diri atau mendapatkan ala kadarnya akibat ketidakseriusan kita. Akan ada suatu masa kita harus memilih dari beberapa pilihan untuk menjadi pasangan dalam kehidupan. Ia yang akan menua denganmu. Ia yang kau pilih menjadi belahan jiwamu. Ia yang akan menjadi partner hidupmu.

Maka, jangan kau pilih karena nafsu. Karena itu pasti semu. Kekayaan pasti sirna, kecantikan ada batasnya, kemahsyuran tak kan selamanya. Pilihlah karena taqwa, niscaya hidupmu akan mulia. Saat diuji kelapangan kau tak jumawa. Syukur senantiasa melingkari dada. Saat diuji kesulitan kau tak putus asa. Sabar senantiasa merasuk dalam jiwa.

Zaman sekarang, banyak orang yang menjemput jodoh dengan pacaran. Karena katanya kalau pacaran itu kita bisa saling mengenal, saling tahu karakter masing-masing, saling memahami satu sama lain. Padahal kebanyakan orang yang pacaran itu justru malah menyembunyikan kekurangan yang dia punya. Yang dilihatin hanya kelebihannya saja. Pas nikah eh kelakuannya jauh dari yang kita kira.

Sumber : Setia Furqon Kholid

loading...
Share

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*