Sahabatku, Rosdiana

Dua hari yang lalu, tanpa sengaja saya menemukan lowongan kerja menjadi direktur rumah sakit di Facebook. Melihat persyaratannya, saya hanya memenuhi satu kriteria yaitu berpendidikan S2 Manajemen Rumah Sakit. Tapi bukan itu yang ingin saya ulas dalam tulisan ini. Melainkan tiba-tiba terlintas di pikiran Saya satu nama. Rosdiana. Beliau adalah sahabat semasa SMA Saya. Bagi Saya beliau salah satu yang ikut berperan dalam perjalanan hidup saya. Beliau lah yang membuat saya memilih untuk bercita-cita menjadi Direktur Rumah Sakit. Sejak itu tepatnya di akhir kelas 3 SMA, dibenak saya hanya terpikir bagaimana menjadi Direktur Rumah Sakit.

Saya berteman dengan iyos (nama panggilan saya untuk rosdiana) sejak kelas 3 SMA. Kami sebangku di kelas 3C. Kami memiliki sifat yang berbeda namun kami sangat melengkapi. Saya yang keras selalu bisa di netralisir dengan kelembutan sikap dan tutur katanya. Iyos memiliki hal-hal yang tidak saya miliki karena itulah saya nyaman berteman dengannya. Salah satu nya adalah kesabaran dan keikhlasannya. Saya belajar sabar dan ikhlas dari nya.

Suatu saat, beliau tidak masuk sekolah. Cukup lama dia tidak masuk sekolah. Saya tidak tahu rumahnya sehingga tidak bisa menjenguk (teman macam apa saya ini). Saat masuk sekolah, saya bertanya mengapa tidak masuk. Beliau menjawab menjaga ibunya karena sakit. Saya bertanya lagi sudah dibawa berobat. Dan beliau menjawab belum karena tidak ada biaya jadi tidak bisa dibawa ke rumah sakit. Saya yang hanya anak SMA belum punya uang banyak hanya bisa terdiam. Saya berandai-andai seandainya saya direktur rumah sakit, saya akan obati ibu mu, iyos. Sejak itu, saya bertekad dan mengubah cita-cita saya yang dulunya ingin menjadi hakim berubah menjadi direktur rumah sakit.

Saya mencari informasi jurusan apa yang membuat bisa menjadi direktur rumah sakit. Kata bu guru Bimbingan konseling bisa ambil jurusan kedokteran atau jurusan kesehatan masyarakat. Saya tidak suka jarum suntik karena itulah saya tidak ambil. Makanya saya ambil jurusan kesehatan masyarakat. Dan Alloh pun izinkan saya masuk di FKM UNDIP. Saat masuk FKM, ternyata ada 7 peminatan dan harus memilih satu peminatan untuk di semester 5. Saya pun bertanya pada dosen, peminatan mana yang bisa menjadi direktur rumah sakit. Peminatan AKK (Administrasi Kebijakan Kesehatan) jawabnya. Saya pun sejak semester awal sudah bertekad akan masuk ke AKK di semester 5. Alhamdulillah tahun 2010 saya lulus FKM dengan minat AKK. Perjuangan saya belum berhenti disitu.

Orangtua meminta saya untuk lanjut S2 dulu. Karena sudah mendapat lampu hijau mengambil magister, saya pun memilih jurusan manajemen rumah sakit di FK UGM. Hal ini saya pilih karena memang di jurusan itulah saya akan bertemu dengan orang-orang yang bekerja di rumah sakit dari struktural hingga operasional. Saya pun akan belajar banyak tentang rumah sakit. Saat wawancara masuk S2, saya di wawancara oleh Prof Adi Utarini. Beliau menanyakan kenapa saya ingin mengambil jurusan MMR. Saya pun menceritakannya seperti cerita saya di atas. Dan beliau hanya mengatakan apakah Anda tahu bahwa untuk menjadi direktur rumah sakit itu adalah harus seorang dokter? Jujur disitu saya baru tahu dan saya syok mendengarnya. Beliau menambahkan bahwa ada peraturan yang menjelaskan bahwa direktur rumah sakit adalah dokter dengan s2 manajemen rumah sakit. Beliau menambahkan Anda bisa jadi Wakil direktur rumah sakit. Bukan ais namanya kalau tidak ngeyel. Dalam hati berpikir positif bahwa tidak ada yang tidak mungkin. Saya pun tetap ingin kuliah di MMR. Alhamdulillah tahun 2012 saya lulus S2.

Tidak mudah ternyata untuk bisa bekerja di rumah sakit dengan gelas S2 manajemen rumah sakit namun sama sekali belum memiliki pengalaman kerja di rumah sakit. Hal ini saya rasakan saat mencari kerja. Perlu syarat-syarat mengikuti pelatihan ini dan itu. Kembali lagi, bukan ais namanya kalau tidak terus berjuang dengan segala upaya. Saya ikut pelatihan ini itu dan saya diminta dosen saya untuk membantu beliau di proyeknya. Alhamdulillah 2 bulan setelah saya wisuda, saya mendapat kerja menjadi peneliti atau asisten konsultan. Dan proyek pertama saya adalah rumah sakit. Begitu senangnya saya. Alloh izinkan saya masuk ke rumah sakit walau dengan cara yang berbeda.

Saya yakin perjuangan saya mencapai cita-cita saya butuh kerja keras ekstra mengingat saya bukanlah dokter namun saya harus memantaskan diri layak untuk menjadi direktur rumah sakit.

Pertemuan terakhir di Reuni SMA tahun 2009

Terimakasih iyos. Aku akan terus berjuang untuk bermanfaat bagi banyak orang. Dimanapun kamu berada saat ini, semoga alloh selalu melindungi mu dan keluargamu, mencukupi kebutuhanmu.

loading...
Share

5 Comments

  1. Hai bu, aku terinspirasi banget sama cerita ibu. Boleh aku nanya? Saat ini aku mahasiswa aktif semester 5 di FKM universitas Sam Ratulangi Manado. Bu, saya kan baru saja memilih bidang minat, dam saya memilih bidang minat Gizi masyarakat. Apakah itu akan berpengaruh pada saat saya mengambil S2 MMRS?

    • Haloo… Bila ingin melanjutkan ke S2 MMRS boleh saja dengan basic gizi. Namun, saran saya ambilan S2 Ilmu Gizi. Harapannya adek bisa lebih expert di bidang gizi yang nantinya bisa bekerja di Rumah Sakit bagian gizi maupun menjadi dosen ilmu gizi. Sukses untuk Novela…

  2. Akhirnya kamu mendapatkan apa yang telah menjadi cita2 qm dengan usaha tekat dan kerja keras anda. Selamat dan sukses selalu.
    Saya juga S2 Akk tapi sampe skarang masih mnganggur aja.. heheh

  3. Saya tertarik dgn cerita mu ais kmu org yg pantang menyerah….dan saya salut sekali dgn perjuanganmu…
    kebetulan sy jg kerja di salah satu rumah sakit yg berada diufuk timur papua…sy selesai dgn gelar SKM dari salah satu perguruan tinggi di yogyakarta dan ingin mengambil s2 jurusan MMR di UGM doakan yaa….spy diterima di ugm!!!!!

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*