Membangun Komunikasi yang Baik dengan Anak

Membangun Komunikasi yang Baik dengan Anak

Generasi lemah yang terjadi di sekitar kita ditandai dengan menurunnya kualitas kematangan psikologis anak. Menurut penelitian BKKBN tahun 2011, usia psikologi anak sekarang setengah dari umur biologisnya. Jadi bila ada anak berumur 24 tahun maka umur psikologisnya 12 tahun. Prof. Sarlito memberikan statement menarik yaitu menghadapi mahasiswa saat ini seharusnya anda berpikir seperti menghadapi siswa SMP 20 tahun yang lalu karena melihat kematangan psikologis jauh dari standar. Fisiknya boleh tumbuh bongsor tetapi berbagai hal menunjukkan ketidakmatangan. Karena itu ketika mendapatkan amanah cenderung menolak dan lebih ke kepuasan dirinya saja.

Dua solusi yaitu bertakwa pada Alloh dan ucapkanlah perkataan yang patut seperti dalam surat Al ahzab ayat 70 “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Alloh dan ucapkanlah perkataan yang benar”. Anak yang rusak bermula dari komunikasi yang salah.

Banyak mengkritik sedikit memuji yang dimulai selalu dengan kata tapi. Dan itu kalimat yang dibenci oleh anak. Kedua, banyak bicara sedikit mendengar. Sehingga anak sedikit berpendapat. Biarkan anak menemukan sendiri masalahnya dan dicari solusinya. Selain itu, orang tua sedikit mendengar sehingga anak malas untuk cerita ke bapak ibu nya. Penelitian di Singapore bila anak menelpon temannya setiap 30 detik sekali ia akan meminta respon.

Ciri anak sudah mau di nasehati adalah telapak tangan siap diusap. Telapak tangan bagi anak adalah jendela jiwa. Siapa yang bisa menaklukkan telapak tangan anak maka ia sudah menaklukan hatinya. Makanya kenapa anak kecil tidak mau salaman dengan orang baru dikenal. Dan jangan dipaksakan karena ini radar sensor anak. Kalau radar sudah rusak maka ia tidak bisa lagi membedakan mana orang asing dan saudara. Akhirnya pelaku seksual dianggap orang baik. Maka kalau anak tidak mau salaman, biarkan saja karena ia belum nyaman. Kedua, nafasnya sudah teratur. Ketiga, punggung sudah nyaman diusap.

Banyak bertanya sedikit memahami. Yang dibutuhkan anak ketika tidak mampu dengan pertanyaan maka ubahlah dengan pernyataan. Contoh anak sedih jangan banyak tanya.

Banyak melarang sedikit solusi yang membuat anak tidak kreatif dan akhirnya tertekan. Khawatirlah jika anak mengalami 3 hal yaitu pertama jika gerakannya minimalis, ekspresinya minimalis, mata tidak berani menatap lawan bicara. Sedikit apresiasi banyak menghukum.

Anak kelas 4 masih relevan untuk diajak bersama-sama membaca buku cerita. Usia 15 tahun sudah bisa memahami kebutuhan biologisnya termasuk memahami rasa lapar. Justru mereka akan risih kalau makan perlu disuruh-suruh.

Jadilah orang tua ulul azmi yaitu tegas dan nyaman.

Belajar mengasuh (parenting) dan mendidik anak laki-laki, maka kita harus belajar dari bagaimana Ibrahim AS mendidik Ismail dan Ishak. Sementara belajar untuk anak perempuan, semestinya kita belajar dari bagaimana Rasulullah mendidik ke 4 putrinya. Juga sama halnya bagi kakek nenek mendidik dan mengasuh cucunya, maka tempat bercermin kita kepada Rasulullah SAW yang menghasilkan Hasan dan Husein (2 orang sukses dan mulia pada zamannya). Detailnya bagaimana bisa baca buku-buku Muhammad Teladanku penerbit Sygma Daya Insani (yang bahasanya sudah disajikan dengan gaya berkisah). Buku ini ampun mengubah perilaku anak dengan hikmah. Selain itu, berhasil meredam perilaku negatif anak yang nampak maupun mengontruksi perilaku yang tersembunyi pada anak. Terkait teknisnya pada semua jenjang usia adalah wasiat dengan hikmah (bisa baca buku Wasiat Luqman Al Hakim, karya Syekh Mustafa Al Adawi).

Lalu apa yang orangtua harus lakukan ketika terlanjur suka bersikap kasar pada anaknya sewaktu kecil adalah dengan meminta maaf. Lalu maksimalkan kesholehan (orangtua) karena itu adalah harga untuk keberhasilan generasinya.

Sumber : Ustad Bendri Jaisyurrahman. Membangun komunikasi yang baik dengan Anak

loading...
Share

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*