Beras Jagung Makanan Orang Miskin

Beras Jagung Makanan Orang Miskin
Beras Jagung Makanan Orang Miskin

Nilai gizi sumber karbohidrat terbaik dari segi kualitas adalah beras mengalahkan gandum, jagung, ketela, sagu, dsb. Tidak ada yang istimewa dari nasi jagung dibandingkan nasi biasa. Selama ini, nasi jagung tidak laku karena image di masyarakat bahwa nasi jagung adalah makanan orang miskin. Karena dulu saat orde baru semua provinsi diminta untuk konversi ke beras jadi terbiasa beras. Tapi diversifikasi pangan itu penting. Baiknya gantian. Jangan hanya dari jagung saja, yang lain juga perlu. Ada zat gizi yang banyak di jagung tapi sedikit di beras.

Soal pangsa pasar, industri benih-padi dijadikan bisnis yang menguntungkan perusahaan-perusahaan besar. Sementara, jagung sengaja diredupkan di tengah pasar karena makan jagung dinilai “ndeso”. Padahal dulu beras padi atau jagung menjadi bahan konsumsi. Bila brand jagung ingin naik dan menjadi alternatif pangan masa depan, maka perlu membongkar konspirasi bisnis, penyimpangan beras oplosan dan kadar gizi yang dikandungnya.

Memang benar kadar gizi baik. Nasi jagung cocok bagi penderita Diabetes Melitus yang mana harus mengurangi konsumsi sumber karhohidrat sederhana seperti gula pasir, permen dan konsumsi yang indeks glikemiknya rendah. Hanya saja diskusinya kan “pangan akternatif” di masa yang mendatang. Sebagai contoh, lahan pertanian padi. Dari tahun ke tahun terus berkurang signifikan, sementarra pertumbuhan penduduk terus meningkat. Disitu letak pentingnya “pangan alternatif”. Masalah beralih atau tidaknya adalah hak konsumen atas sponsor. Nah, kalau soal pilih memilih, satu pertanyaan penting. Apa keunggulan makan nasi jagung dari pada beras padi?

Sederhananya begini, 1 kilo harga beras 15 ribu (kualitas super). Jika ingin untung banyak, 1 kilo di oplos dengan proporsi ¾ beras super dan ¼ beras kualitas menengah dengan harga sama, bisa dibayangkan keuntungan dari jutaan ton tiap tahun perusahaan menjual berasnya.

Apakah orang dengan makan nasi tidak membuat sehat ? sementara nilai gizinya lebih baik dibanding nasi jagung. Argumen semacam ini dibutuhkan dalam tulisan dalam mengajak diskusi para konsumen. Berapa harga 1 kilo beras padi dibanding dengan 1 kilo beras jagung? Efisiensi harga juga sangat menarik untuk didiskusikan. Mengapa beras jagung lebih sehat?

Pangan alternatif, harga yang mahal bukanlah diperuntukkan untuk orang miskin. Tetapi mereka adalah orang dari keluarga menengah ke atas. Label “diet” itu bukan untuk orang kampung tetapi orang kota, melek pendidikan dan berkarir.

Kita bisa menggunakan wadah organisasi yang menjamin secara hukum untuk “memberikan nilai lebih atas kerja keras mereka dari setiap bungkus penjualan nasi jagung”. Pembagian keuntungan yang memihak kepada mereka. Mendampingin dalam menjaga kualitas bahan kepada mereka. Harus membeli bahan nasi jagung ke petani langsung tanpa perantara.

Bagaimana merubah stigma masyarakat yang sudah mencap beras jagung sebagai makanan orang miskin? Sulit karena yang main pasar beras itu banyak dan orang-orang besar. Masa kamu mau ganti nasi di MCd jadi nasi jagung? Sama seperti kamu mau merubah stigma bank syariah lebih baik dari bank konvensional. Solusi buat cafe-cafe dengan produk olahan beras nasi lalu kamu bersama-sama produk hidroponik untuk bisa sadarkan masyarakat sedikit demi sedikit. Enak loh beras jagung.

Lahan pertanian padi dari tahun ke tahun terus berkurang signifikan, sementara pertumbuhan penduduk terus meningkat. Sehingga penting adanya pangan alternatif. Lalu apa keunggunalan makan nasi jagung daripada beras padi?

Janaka memiliki singkatan yaitu jagung nasi untuk kebaikan Anda. Penamaan sendiri berkolaborasi dengan ahli penamaan yaitu orang yang memiliki ilmu socio morfolinguistik. Berharap janaka memberi kebaikan dan kesehatan bagi konsumennya. Janaka bermula dari pemberdayaan masyarakat di Garut. Harga janaka 300 gr sebesar 20 ribu, janaka isi 500 gr seharga 30 ribu, dan janaka isi 1 kg seharga 50 ribu. (NAS)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*