Cita-cita Selingkuh

Kasus pernikahan yang paling banyak terjadi adalah perselingkuhan. Entah apakah berasal dari pihak laki-laki atau perempuan. Keduanya mempunyai porsi yang sama untuk terjadi. Terbaru, kasus seorang istri (sebut saja Mawar) memiliki 2 anak perempuan. Tingkat pendidikan S3, terlibat CLBK dengan kawan semasa SMP dulu yang saat ini masih single alias belum berkeluarga. Singkat cerita, keduanya terlibat perasaan yang semakin menjadi takkala ada rasa nyaman saat berkomunikasi via chat dan email.

Mawar merasa nyaman dan nyambung saat ngobrol dengan teman lamanya ini karena mereka mempunyai latar belakang keilmuan dan profesi yang sama. Satu hal yang mengacaukan pikiran Mawar adalah keyakinan bahwa kelak tak lama lagi suaminya akan meninggal dan dia menikah dengan laki-laki teman lamanya itu. Entah darimana ide itu muncul, tapi ibarat batu yang lama kelamaan akan berlubang jika ditetesi air, hati pun begitu.

Mawar merasa bahagia karena ternyata “ada ya orang yang rela menungguku dan mencoba menemukanku kembali setelah sekian lama”. Waktu SMP Mawar belum mengetahui kalau dia suka, baru setelah teman SMP membuat grup di WA, laki-laki itu menghubungi Mawar secara personal, disitulah dia berkomentar bagus tentang keluarga mawar, menilai foto keluarga di DP mawar, mendoakan hingga ujungnya mengatakan bahwa dia mencintai mawar sejak SMP dan sampai sekarang tidak berubah”, katanya pada Mawar.

Lalu apakah ini terjadi pada orang yang kurang taat? Tidak. Apakah terjadi pada rumah tangga yang kacau? Tidak. Apakah masing-masing merasakan adanya masalah dalam rumah tangga sehingga terjadi perselingkuhan? Tidak.

Lalu apa yang menyadarkannya? Ketahuan sang suami. Semua aktivitas komunikasinya diketahui langsung oleh suaminya. Lalu? Mereka sama-sama berjuang mempertahankannya. Saat ini, Mawar sedang berperang melawan khayalan pikirannya tentang teman lamanya itu. Masih dalam proses pemulihan.

Saat ketahuan, suami Mawar pasti sedih campur marah, tapi mencoba untuk tenang dan dewasa “kenapa begitu?”, karena saat itu suaminya yang jarang buka hp Mawar dan tiba-tiba lihat notifikasi email Mawar yang masuk. Dan dibukalah lalu dibaca ternyata isinya kurang lebih berisi kalimat-kalimat kerinduan dan memberikan pernyataan harapan. Akhirnya suami Mawar meminta yang bersangkutan berhenti, lalu meminta Mawar untuk tidak menghubungi laki-laki itu dan mengatakan untuk jangan pernah menghubunginya lagi (tapi Mawar malah menelpon ibunya si laki-laki, sebab sudah sejauh itu sudah dikenalkan dengan ibunya). Akhirnya, mungkin ibu laki-laki tersebut menyampaikan lalu mengkonfirmasi ke anaknya. Lalu, laki-laki tersebut menghubungi Mawar dan dibaca Suami. Sang suami langsung membalasa “ini dengan suaminya mawar. Tolong jangan menghubungi lagi dan mengganggu istri saya”. Setelah itu menyuruh istrinya minta maaf ke orangtuanya. Suami mawar semakin menunjukkan perhatian, jika sebelumnya suami mawar cuek dan bukan tipe romantis sekarang justru berubah (yang dirasakan Mawar), terlihat semakin kuat ibadahnya setelah kejadian itu, bahkan hikmahnya mereka mau berangkat umroh dalam waktu dekat berdua. Mungkin sebagai cara untuk mengembalikan dan menyerahkan semuanya pada ketentuanNya. Mungkin ini cara mereka mempertahankan dan memperjuangkan penikahan mereka.

Instrospeksi mengapa ini terjadi dan ternyata setelah dimediasi kuncinya ada pada kenyamanan berdiskusi. Maka suaminya harus menempatkan diri seperti yang istrinya butuhkan.

Sebenarnya batas disebut berselingkuh itu relatif. Tiap orang beda-beda, tapi ada POLAnya. Ketika menyembunyikan sesuatu yang tidak mau diketahui oleh pasangan kita, itu sudah berselingkuh namanya. Urusannya bukan hanya soal WIL/PIL tapi lebih luas lagi adalah tanggung jawab yang abai. Tingkat teratas adalah berzina.

Enam tahapan menuju perselingkuhan

  1. Pandangan
  2. Senyuman
  3. Saling Sapa
  4. Ngobrol
  5. Janjian
  6. Ketemuan dan terjadilah yang terjadi

“Dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh setan itu musuh yang nyata bagimu” (Al Baqarah 168)

Sumber : Bunda Susan (Susanti Agustina) dalam Komunitas Biblioterapi Indonesia

loading...
Share

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*