Peran Puskesmas dalam Pencegahan, Deteksi dan Respon Covid 19

Peran Puskesmas dalam Pencegahan, Deteksi dan Respon Covid 19
Peran Puskesmas dalam Pencegahan, Deteksi dan Respon Covid 19

Dalam acara Webinar bekerja sama dengan IDI yang dilaksanakan pada tanggal 21 April 2020, Airin Rahmi D, SH, MH mengatakan bahwa ada kejadian pandemic di daerah Tangerang Selatan. Airin Rahmi juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada para kader kesehatan, para dokter dan tim medis yang telah berjuang untuk bisa menyembuhkan orang yang sakit. Di Tangerang Selatan sudah menjadi kota pandemic dan sudah memasuki hari ke 4 PSBB diikuti DKI Jakarta. Di dapat data pemantauan covid 19 di kota Tangerang Selatan sebagai berikut total ODP sebanyak 849 (204 selesai dipantau, 645 dipantau), total PDP sebanyak 329 (18 sembuh, 270 dirawat, 41 meninggal), Positif covid 19 sebanyak 82 (15 sembuh, 49 dirawat, 18 meninggal). Data diambil 20 agustus 2020 yang bersumber dari data gugus tugas covid 19.

Puskesmas menjalin komunikasi untuk meyakinkan DPRD kota Tangerang Selatan karena bagian dari pemerintah di daerah, tentunya dengan TNI, Polri, Kejaksaan serta unsur yang lain. Karena jika bersama dari pemimpin teratas kompak dan bisa di yakini maka masyarakat juga akan melihat bagaimana kita melakukan kegiatan-kegiatan dalam upaya kesehatan masyarakat.

Prinsip-prinsip dalam upaya kesehatan masyarakat yang dilakukan yaitu Koordinasi lintas sektoral, Optimalisasi sumber daya aparatur, Sinkronisasi Program dan Kegiatan dan Pemberdayaan Masyarakat. Selain itu, komunikasi dengan pemangku kepentingan lainnya, partisipasi masyarakat, perguruan Tinggi yang ada di Tangerang Selatan yang ada fakultas kedokteran baik UIN, UMY. Pada awal-awal masyarakat resah karena menginginkan desinfektan, padahal saat itu susah didapat, maka kita punya upaya melalui tehnik kimia yang membantu mendapatkan desinfektan, hand sanitizer dan juga yang lainnya. Ada juga pihak swasta yang sudah membantu.

Peran Puskesmas saat ini sangat penting, untuk itu di buat satuan gugus tugas dan mengaktifasi satu gugus tugas mulai dari tingkat RT, RW, kelurahan dan tingkat Kecamatan dan tidak bergerak sendiri, karena yang di lawan adalah soal penyakit. Kesehatan yang memiliki kekhususan keilmuan berbeda kalau menghadapi banjir yang kita tahu perkiraan kapan air surut dan sebagainya tetapi kalau virus, kita tidak tahu apakah yang duduk disebelah kita itu sudah positif, sehingga kita harus di karantina selama 14 hari. Sehingga kami mendorong Puskesmas membantu para camat, Lurah, RW dan RT dengan keilmuannya dibidang kesehatan yang dimiliki oleh Puskesmas.

Adapun peran Puskesmas pada saat wabah Covid 19 yaitu to detect, to prevent, to response. Puskesmas melalukan deteksi yaitu
1. melakukan survailance ILI, Pneumonia melalui kewaspadaan dini dan respon termasuk klaster pneumonia
2. melakukan survailance aktif atau pemantauan pelaku perjalanan dari wilayah atau negara terjangkit selama 14 hari sejak kedatangan ke wilayah berdasar informasi Dinkes setempat.

Pada saat Presiden mengumumkan tanggal 2 maret 2020 ada kasus terindikasi positif ditemukan karena bertemu orang yang dari Jepang, sehingga banyak orang dari luar negeri yang berbodong-bondong pergi ke Rumah Sakit-rumah sakit Swasta, mulai dari kecamatan pondok aren dan rata-rata orang mampu pernah ke luar negeri yang ada di komplek perumahan, sehingga kenapa ada 2 dokter yang meninggal di RS swasta dan ada 1 perawat yang meninggal karena akibat di awal semua dokter dan tenaga medis tidak menggunakan APD dan orang yang datang berobat bukan merasa positif sehingga terjadi episentrum-episentrum baru yang sudah masuk di luar komplek perumahan yaitu di perkampungan-perkampungan akibat dari majikannya positif, bosnya positif pembantu yang bekerja disitu pulang kampungnya atau rumahnya dibelakang komplek sehingga terjadi penularan sehingga ODP, PDP cukup bertambah. Pada saat itu kondisi sangat sulit untuk mencari APD ataupun Rapid test juga belum ada padahal saat itu sudah ada usaha menggunakan dana yang sudah ada tetapi karena pada saat itu APD sangat langka dan sulit dicari. Sehingga episentrum-episentrum baru tidak dapat dikendalikan yang ada di Tangerang Selatan. Sehingga kasus ODP, PDP atau yang positif, tetapi selama 2-3 minggu ini perlengkapan APD dan yang lainnya terus dibantu dan yang masih kurang adalah PCR dan perlu disampaikan ke litbangkes . Sehingga kita perlu tahu apakah dari kemenkes, Puskesmas boleh bekerja sama dengan pihak RS swasta untuk melakukan PCR sehingga hasil swab bisa langsung dikeluarkan, sehingga kita tahu persis orang-orang yang ODP atau PDP sehingga bisa melakukan penanganan-penanganan apakah karantina atau isolasi mandiri.
3. Melakukan komunikasi resiko termasuk penyebaran media KIE mengenai covid 19 kepada masyarakat .
4. Membangun dan memperkuat jejaring kerja survailance dengan pemangku kewenangan, lintas sektoral dan tokoh masyarakat

Puskesmas sudah mempunyai gugus tugas hingga ke tingkat RT. Pencegahan atau Preventif yaitu petugas menggunakan APD lengkap, PHBS untuk penanggulangan upaya kesehatan perorangan di pelayanan dalam gedung yaitu petugas pakai APD, PHBS, cuci tangan dengan sabun, screening pemeriksaan, melakukan social distansing, menyiapkan desinfektan di setiap ruangan, sterilisasi setiap ruangan dengan sinar UV. Sempat terpikirkan untuk membuat chamber room desinfektan, tetapi justru sudah ada yang membuatkan sehingga nanti akan kita gunakan dengan sebaiknya, karena sempat ada salah kaprah karena diasumsi chamber room itu bisa menghilangkan covid 19.
5. Penanggulangan covid 19 di lapangan oleh Puskesmas melalui Edukasi dan sosialisasi, Melakukan pemeriksaan swab pada pasien PDP, Merujuk pasien PDP ke rumah Lahan covid Tangerang Selatan, Pemberian vitamin C kepada masyarakat 1 juta tab, Pendataan masyarakat, Pembagian masker oleh JSR, Himbauan pola hidup sehat, Sanitasi lingkungan, Penyuluhan untuk menghindari kerumunan.

Kegiatan Deteksi dini dan Respon di wilayah ( instansi Puskesmas)
1) Respon terhadap PDP ( Pasien Dalam Pemantauan)
a. Tatalaksana sesuai kondisi : Ringan dengan isolasi diri di rumah, Sedang di rujuk ke RS darurat dan Berat di rujuk RS Rujukan
b. Saat melakukan rujukan berkoordinasi dengan RS
c. Notifikasi 1 x 24 jam secara berjenjang
d. Melakukan penyelidikan epidemiologi berkoordinasi dengan Dinkes Kab/Kota
e. Mengidentifikasi kontak erat yang berasal dari masyarakat maupun petugas kesehatan
f. Melakukan pemantauan PDP yang isolasi rumah
g. Mencatat dan melaporkan hasil pemantauan kontak secara rutin
h. Edukasi PDP ringan untuk isolasi diri di rumah,Bila ada gejala mengalami perburukan segera ke Fasyankes
i. Melakukan komunikasi resiko baik kepada pasien ,keluarga,dan masyarakat
j. Pengambilan specimen pada PDP ringan berkoordinasi dengan Dinkes setempat terkait pengiriman specimen.

Respon terhadap ODP (orang dalam Pemantauan)
a. Tatalaksana sesuai kondisi pasien
b. Notifikasi kasus dalam waktu 1×24 jam keDinkes kab/kota
c. Melakukan penyelidikan epidemiologi berkoordinasi dengan Dinkes kab/kota
d. Melakukan pemantauan ( cek kondisi kasus setiap hari,jika terjadi perburukan segara rujuk RS darurat / Rujukan
e. Mencatan dan melaporkan hasil pemantauan secara rutin
f. Edukasi pasien untuk isoalsi diri di rumah ,bila gejala mengalami perburukan segera ke fasyankes
g. Melakukan komunikasi risiko pasien ,keluarga,dan masyarakat
h. Pengambilan specimen dan berkoordinasi dengan Dinkes setempat terkait pengiriman spesimen

Respon terhadap OTG (orang tanpa gejala)
OTG menjadi masalah karena dari 1000 rapit test yang sudah dilakukan 66 yang positif dan kadang masyarakat tidak mau di masukkan atau karantina mandiri,tetapi dengan adanya PSBB bisa membantu mereka.
a. Melakukan pendataan OTG
b. Notifikasi kasus dalam waktu 1×24 jam ke Dinkes kab/kota
c. Melakukan pemantauan (cek kondisi kasus setiap hari, jika terjadi perburukan segara rujuk RS darurat / Rujukan
d. Mencatan dan melaporkan hasil pemantauan secara rutin
e. Edukasi pasien untuk isolasi diri di rumah, bila gejala mengalami perburukan segera ke fasyankes
f. Melakukan komunikasi risiko pasien ,keluarga,dan masyarakat
g. Pengambilan specimen dan berkoordinasi dengan Dinkes setempat terkait pengiriman spesimen

Aspek pemberdayaan Masyarakat dalam Rangka penanggulangan covid 19

1) Sosialisasi melalui aplikasi Whatsapp yang disebarkan melalui grup yang melibatkan SATGAS PPA,PATBM,PUSPAGA,FORUM ANAK ,PKK,PLKB,GOW,LPK,POS KB dll
2) Melakukan sosialisasi langsung ke masyarakat melalui pengeras suara dengan mobil penerangan KB
3) Melakukan pendataan UMKM perempuan yang terdampak ekonomi akibat mewabahnya virus covid 19
4) Melaksanakan pendataan perempuan yang terdampakekonomi akibat mewabahnya virus covid 19
Sebagai pengalaman untuk dapat dilakukan di tempat yang lain bahwa di salah satu klaster, jika mau keluar rumah harus minta ijin RT RW dengan menggunakan Whatsapp,jadi tidak menggunakan Satpam. Mudah-mudahan bisa menjadi inspirasi yang lainnya. Apresiasi terhadap warga dengan kepedulian mereka yang telah membantu, sehingga akan lebih mudah berkoordinasi agar memberikan efek jera kepada warga yang tidak mematuhi protocol kesehatan. Sehingga orang yang tidak disiplin tidak bisa mempengaruhi orang-orang yang sudah disiplin. Sehingga kunci keberhasilan dalam memutus rantai penularan covid 19 bukan siapa yang bekerja , bukan perawat yang bekerja ,bukan puskesmas yang bekerja tetapi peran semua masyarakatlah yang bisa memutus mata rantai penyebaran covid 19. Jika hanya mengandalkan Pemerintah maka tidak akan berhasil tanpa ada kedisiplinan .

Reporter : Yuni Purwaningsih, Mahasiswa Lintas Jalur STIKES Wira Husada Yogyakarta

Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=qKQzdHaffmI

loading...
Share

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*