Gimmick : Strategi Mengemas Dusta

Gimmick : Strategi Mengemas Dusta

Pernahkah kamu melakukan gimik dalam kehidupanmu ? atau kamu korban gimik ? Benarkah melakukan gimik ada kaitannya dengan mental dan jiwa? Ternyata gimik yang sudah dianggap lumrah akan mengikis RASA JUJUR dalam bagian diri. Percaya tidak? Kebiasaan menganggap sebuah kelakuan itu lumrah meski tak jujur, lama-lama bisa mengikis karakter jujur hanya karena dianggap lumrah. Ini bermuara pada sakit mental.

Istilah gimik (gimmick) menjadi tren di kancah media sosial. Kemudian istilah ini makin marak digunakan di dunia nyata oleh para pesohor dan sosialita hingga remaja milenial, termasuk juga emak-emak

Gimik atau gimmick dikenal awal abad ke 20, memang tak jelas darimana akar katanya bermula. Menurut kamus Oxford, kemungkinan dari istilah slang para artis dan pesulap untuk memanipulasi penampilan mereka agar berbeda dari kenyataannya; “The origin of the term, “gimmick”, is uncertain. Etymologists suggest that the term emerged in the United States in the early twentieth century. The Oxford Dictionary suggests that it may have originally been a slang term for something that a con artist or magician manipulated to make appearances different from reality”

Selain menjadi terminologi di ranah pentas hiburan, kata gimmick ini dipakai juga sebagai diksi kritik dalam analisis politik para pakar di bidangnya, sampai kepada siasat kelompok pemasar dalam aktivitas penjualan daring (online, e-commerce). Tak heran bila istilah seperti nge gimik, gimik politik (political gimmick) hingga ‘marketing gimmick’ dewasa ini semakin meluas dibincangkan, bersama istilah lain yang juga  populer seperti hoax, framing, play victims dan sebagainya.

Kalau menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), gimmick atau /gi.mik. n/, adalah “Seni gerak-gerik tipu daya aktor untuk mengelabui “lawan peran. Awalnya memang istilah “gimmick” atau gimik ini digunakan di panggung teater seni peran.

Peran antagonis dan protagonis dalam drama, film layar lebar dan sandiwara televisi sesungguhnya memang diset sesuai dengan keinginan  sang sutradara, itulah gimmick

pak Bolot melakukan gimmick dengan ciri khas kebolotannya, atau Azis Gagap dengan kegagapannya, tak jarang tim kreatif sebuah program acara harus bekerja keras menciptakan gimmick agar acara yang dibuat dikemas semenarik mungkin serta mengundang lebih banyak penonton. Atau artis yang melakukan audio gimmick berupa suara yang dibuat-buat, untuk tampil beda, dan sebagainya.

Beberapa acara reality show di televisi berbagai belahan dunia juga diduga merupakan hasil “settingan”. Sebagian yang tampil di acara itu melakukan aksi gimik. Ada pula dugaan bahwa ada oknum oknum production house yang merancang serta memanipulasi sosok artis di bawah manajemennya agar kembali ngetop dengan meramu strategi gimik.

Kalau di pergaulan sosial istilah nge gimik artinya, bersikap atau berpenampilan pura pura untuk maksud tertentu. “Ah, lo ngegimik aja kerjaannya”, ini salah satu contoh seloroh untuk menilai seseorang yang kerap berpenampilan pura pura, misalnya pura pura serius, padahal hanya bercanda.

Gimmick di televisi dan panggung-panggung hiburan merupakan suatu cara untuk menarik perhatian penonton dengan beragam siasat seperti membuat adegan khusus, dandanan yang khas, musik, yel-yel, nyanyian, atau aktivitas lainnya.

Gimmick juga bisa dilakukan dengan pergerakan kamera tertentu atau dilakukan saat editing. Karenanya gimmick dimaksudkan untuk menghibur, membuat penonton berdebar-debar, atau mendapatkan kejutan. Seringkali gimmick dibuat seperti tak ada hubungannya dengan inti sebuah acara.

Namun itu semua tentu dengan tujuan agar penonton menyukai acara tersebut. Gimmick di program TV dimaksudkan untuk sekadar menghibur plus menaikkan rating acara. So, dalam seni peran gimmick artinya penampilan pura pura, yang di setting agar penonton lebih tertarik, sedangkan dalam pertunjukan sulap, aksi gimmick digunakan untuk mengalihkan perhatian penonton.

Lalu apa itu marketing gimmick ? Ini strategi penjualan dengan menyiasati produk, baik dari sisi kemasan, maupun dalam iklan-iklan produksinya. Gimmick dalam dunia bisnis dewasa ini kadang menjadi kontroversial agar produk jualan seseorang laku di pasaran, maksudnya sih agar lebih kreatif dan inovatif, namun terkadang malah menjadi aksi dusta.

Di era medsos sekarang, banyak “aktor-aktor” dadakan yang melakukan “gimmick” alias  berpenampilan pura-pura untuk merebut pangsa pasar agar jualannya laku. Ada juga yang “sambil menyelam minum air”. Menjadi mesin politik partai tertentu sambil melakukan penetrasi pasar bagi produk jualannya, kegiatan politik praktis plus ekonomi juga.

Istilah gimmick kian populer karena digunakan pula dalam ranah politik praktis hingga pergaulan sosial. Dalam politik praktis, tudingan gimmick politik biasanya diarahkan kepada kepada para politikus atau pejabat publik yang lebih mementingkan pencitraan daripada fakta kerja. Lebih banyak janji janji ketimbang bukti, dan tentu saja istilah tersebut lebih bernuansa negatif, yakni sebagai strategi propaganda saling serang dalam perebutan kursi kekuasaan.

Presiden AS Donald Trumph misalnya, di tuding oleh lawan politiknya sebagai orang yang melakukan aneka gimmick politik sehingga mengantarkannya sukses melenggang ke gedung putih. Tentu saja tudingan ini perlu sebuah basis pembuktian dan analisis yang mendalam, guna membuktikan kebenarannya. Namun faktanya memang gimik politik selalu digunakan untuk menarik suara konstituen pada pemilu di berbagai negara di dunia dewasa ini. Selain juga siasat “playing victims” untuk meraih simpati publik, memerankan seseorang yang seolah olah terdzolimi padahal hanya acting semata. Gimmick dalam politik kadang kadang digunakan untuk pengalihan isu.

Simpulnya, gimmick adalah strategi “kebohongan yang direkayasa” sedemikian sehingga mencapai tujuan yang diharapkan oleh pelakunya. Gimmick yang awalnya digunakan oleh para pemasar untuk mencapai target penjualan serta para artis di panggung seni, kini semakin meluas dipakai di dunia politik serta pergaulan sosial. Media, baik media mainstream maupun media sosial adalah lahan subur beragam aksi dusta yang seolah olah dianggap lumrah oleh masyarakat.

Akhirnya, gimmick tetaplah gimmick, kebohongan tetaplah kebohongan, gimmick adalah penipuan dalam kemasan, sehingga jangan pernah digiring menjadi sebuah kebenaran. Budaya gimmick akan melanggengkan kebiasaan berbohong di tengah masyarakat. Di dalam hati mereka tertanam penyakit, dan bertambah tambah penyakitnya oleh sebab mereka selalu berdusta.

Sumber : Bunda Susan. Kelas Biblioterapi tematik, 30 April 2019

loading...
Share

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*