Membaca Pola Komunikasi Ala Nabi

Membaca Pola Komunikasi Ala Nabi

Membaca pola komunikasi dalam cara mengasuh dimulai dari memperbaiki cara berkomunikasi. Komunikasi non verbal ala Nabi adalah keteladanan. Cara Rasulullah SAW berkomunikasi dalam sirah, yang pertama adalah Rasulullah SAW berkomunikasi non verbal tanpa banyak bicara.

Diqisahkan Ibnu Abbas pernah berkata bahwa beliau menginap di rumah bibinya, Maimunah. Kemudian, Rasulullah terbangun seperti biasa untuk sholat malam. Rasulullah SAW bangun kemudian berwudhu dengan wudhu yang ringan dari kendi yang digantung. Setelah itu, Rasulullah SAW shalat. Kemudia Ibnu Abbas berwudhu dengan wudhu yang sama seperti Rasulullah SAW lakukan. Ia pun berdiri disamping kiri Rasulullah SAW. Rasulullah SAW kemudian menarik pasti Ibnu Abbas dan meletakkannya disamping kanannya. Kemudia Rasulullah SAW shalat beberapa rakaat.

Disini kita bisa melihat bagaimana Rasulullah SAW berkomunikasi dengan keteladanan. Ya benar, keteladanan langsung melalui komunikasi non verbal lebih efektif.

Aplikasi sehari-hari ketika kami hendak berangkat bersama anak-anak kalau ayah bundanya hanya meminta anak bersiap-siap pergi, secara verbal agak lama bergerak. Tapi waktu saya/suami mulai berbenah, mulai memanaskan mobil, memasukkan barang-barang ke mobil, otomatis anak-anak pun segera bergerak.

Fokus apa yang harusnya dilakukan bukan membahas apa yang salah

Kita bisa ambil hikmah dari shirah bagaimana Rasulullah SAW memberikan contoh dalam melatih skill seorang anak lewat apa yang musti dilakukan memberikan contoh yang benar dan tidak fokus membahas kesalahan anak.

Suatu ketika ada seorang anak yang belum mahir menguliti kambing. Rasulullah SAW tidak fokus membahas kenapa ia tidak melakukan dengan cara yang baik. Tetapi di hadapan anak tersebut Rasulullah SAW langsung menunjukkan cara bagaimana menguliti kambing yang benar.

Dalam berkomunikasi, kita juga perlu melihat latar belakang seorang anak ketika ia bersikap di luar harapan kita. Bisa jadi bukan karena ia bermaksud melakukan kesalahan, tetapi karena ia belum tahu atau belum mahir melakukannya.

Seringnya orang tua menaruk ekspektasi yang sangat tinggi. Berharap anak sudah mampu melakukan. Sehingga ekspektasi ini mendorong kita melakukan komunikasi menyimpang yang membuat anak semakin merasa tidak nyaman berhadapan dengan kita.

Jadi sebaiknya fokus kita adalah memberikan contoh, memberitahu apa yang seharusnya mereka lakukan. Sehingga tidak perlu menunjukkan komunikasi yang lebih banyak membahas kesalahan.

Apalagi bila komunikasi ini didasari oleh rasa kesal kita. Jangan-jangan membahas kesalahan menjadi kesempatan orangtua untuk meluapkan emosi-emosi negatinya. Terutama pada waktu melihat anak-anak melakukan sesuatu yang tidak sesuai harapan atau prosedur.

Pengkondisian sebelum berkomunikasi

Rasulullah SAW pernah mendekati dan menyapa seorang anak yang sedang bersedih karena burung pipitnya mati. Kemudian, Rasulullah menarik perhatian dengan menyapa anak tersebut “Wahai Abu Umair ada apa dengan burung pipitmu?”. Rasulullah SAW bertanya bagaimana kabar burung pipitnya. Dari qisah ini kita belajar bahwa Rasulullah SAW berusaha menarik perhatian lawan bicara, sebelum kemudian menyampaikan¬† isi pesan yang hendak dikomunikasikan. Rasulullah SAW berusaha menghargai perasaan lawan bicaranya.

Seringnya ketika kita menyampaikan sesuatu, berteriak-teriak dari dalam kamar. Sementara kita tidak mengundang anak untuk terlebih dahulu memperhatikan kita sehingga ia bersedia menghentikan aktivitasnya untuk mau mendengar pesan kita.

Jadi apabila anak tidak mendengar pesan kita, barangkali karena kita sendiri yang langsung memberikan pesan tanpa membuat lingkungan yang kondusif agar anak mau dan mampu fokus berkonsentrasi pada apa yang kita sampaikan.

Belajar dari Qisah Rasulullah SAW kita perlu memerbaiki teknik komunikasi dengan cara berbicara secara langsung dan berhadap-hadapan. Maka gunakan rumus tangki cinta.

Rasul berkomunikasi dengan teknik biblioterapi: Refleksi lewat bertanya

Rasulullah SAW sering sekali mengajukan pertanyaan terlebih dahulu kepada para sahabat untuk membuka sebuah diskusi. Misalnya “Maukah aku memberitahukan tentang orang yang masuk surga?” kita dapat melihat dalam banyak hadist bahwa Rasulullah SAW menyampaikan suatu pesan dengan cara bertanya terlebih dahulu kepada para sahabat.

Dengan pertanyaan pembuka, orang yang diajak komunikasi diharapkan dapat memusatkan pikirannya. Bahkan secara aktif berusaha untuk mencari jawaban.

Tentunya pesan akan lebih terinternalisasi dalam diri anak ketika jawaban itu hadir dari proses berpikir seorang anak dibanding ketika mereka mendengar pesan dari kita.

Kita hanya tinggal menyatakan persetujuan atau meluruskan jawaban yang disampaikan oleh anak. Jadi ? betul dalam membangun komunikasi terlebih saat akan memberikan pesan yang sangat penting kepada anak, buatlah waktu khusus untuk berkomunikasi dengan mereka.

Tinggalkan sejenak pekerjaan kita dan duduklah bersama dalam suasana yang nyaman. Mulailah dengan mengajukan pertanyaan terlebih dahulu serta hargailah setiap jawaban anak.

Sumber : Biblioterapi tematik literasi keluarga. 4 Desember 2019

loading...
Share

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*