Al Wakil. Alloh Maha Mewakili

Kata Al Wakil berasal dari kata Wakal yang artinya mengandalkan orang lain untuk menangani urusan yang seharusnya kita yang mengurusinya. Kalau demikian, Alloh Al Wakil adalah Alloh yang paling tepat mengurus seluruh urusan makhlukNya karena Dia yang paling bertanggungjawab kepada makhlukNya, Dia yang menciptakan kita, Dia yang menjaga kita dan Dia juga yang mengawasi kita. Jadi Alloh Al Wakil adalah Alloh yang kita wakilkan kepadaNya seluruh urusan kita.

Biasanya kalau kita mewakilkan sesuatu kepada oranglain ada 3 syarat yang harus dipenuhi yaitu orang itu bisa kita percaya, jika orang itu punya pengalaman, jika orang itu punya kemampuan. Ke tiga syarat ini harus dipenuhi saat kita mewakilkan urusan kita kepada orang lain. Akan tetapi dengan Alloh SWT, Alloh justru menawarkan kepada kita untuk menjadi wakilNya.

Alloh SWT menyebutkan kekuasaanNya “Akulah penguasa timur dan barat maka jadikanlah Aku sebagai wakil” kata Alloh. Setiap kali Alloh memerintahkan kita untuk bertawakal pasti ada nama Alloh yang disebut. Dalam firmanNya “bertawakalah kepada yang Maha Perkasa dan Maha Penyayang”, disebut nama Alloh. Mengapa Alloh menyebut namaNya ketika memerintahkan kita untuk bertawakal seakan-akan Alloh ingin mengatakan Kepada siapakah engkau bertawakal? Bukankah lebih baik bertawakal kepada yang Maha Perkasa. Bukankah lebih baik kita mewakilkan urusan kita kepada yang menyayangi kita. Mengapa engkau bertawakal kepada yang akan mati? Seakan-akan Alloh berkata demikian kepada kita.

Ketika Rasulullah diusir dari Mekkah padahal ayat yang menjamin bahwa Rasulullah akan menang telah turun. Tetapi ketika diusir, Rasulullah berpikir untuk hijrah. Dan apa yang dilakukan Rasulullah ketika hijrah? Beliau melakukan perencanaan yang matang (menyiapkan kendaraan jauh hari sebelumnya, menyiapkan orang yang akan mensupply makanan, mencari jalan yang tidak biasa dilewati oleh orang-orang bahkan ketika ada yang mensupply makanan, bekas-bekas telapak kakinya dihilangkan dengan mendatangkan pengembala untuk lewat disitu membawa domba-dombanya). Lihatlah Nabi fisiknya bekerja keras, berusaha tanpa mengenal tawakal. Tapi lihatlah ketika Rasulullah berada didalam gua. Tentara kafir sudah ada di mulut gua andaikan mereka melihat saja kebawah kaki mereka pastilah mereka akan melihat Rasulullah berada di dalam gua. Saat itulah Abu Bakar bersedih “Ya Rasulullah, kita pasti tertangkap ya Rasul. Mereka sudah berada dimulut gua”. Bersedih Abu Bakar. Tapi lihat apa kata Rasulullah “Jangan engkau bersedih wahai Abu Bakar, Alloh bersama kita. Mereka bersama senjata. Mereka bersama bala tentara tetapi kita bersama Alloh”. Siapakah yang menang jika kita bersama Alloh sedang mereka tidak? Pastilah yang bersama Alloh. “Tenang wahai Abu Bakar karena kita bersama Alloh yang tak nampak. Jika kita dilindungi oleh Alloh yang tidak tampak itu mungkinkah mereka melihat kita. Sedangkan kita bersama Alloh yang tampak itu”. Lihatlah bagaimana Rasulullah tidak pernah mengandalkan upayanya, tidak pernah mengandalkan tabungannya, tidak pernah bersandar dengan kekuatan fisiknya melainkan hatinya tetapi fisiknya bekerja keras seolah-olah tidak ada tawakal.

Alloh Al Wakil adalah Alloh yang kepadaNya kita bersandar, bertawakal. Sehingga orang yang bertawakal adalah orang yang tingkat keyakinannya kepada Alloh sangat tinggi. Tawakal adalah manifestasi dari tingkat keyakinan kita kepada Alloh SWT. Pernahkah kita melihat disebuah rumah sakit ada antrian yang sangat panjang didepan ruang seorang dokter? Akan tetapi disebelah ruangan dokter itu ada dokter yang lain yang spesialisasinya sama ternyata tidak ada satupun yang antri. Ketika kita tanya kepada yang antri “Pak, disana kan kosong? Mengapa tidak kesebelah?” Pasien menjawab “Saya sih sudah percaya sama dokter ini. Bertahun-tahun anak saya kalau berobat ke dokter itu”. Bayangkan kita rela mengantri berjam-jam didepan ruang praktek seorang dokter. Lalu dimanakah keyakinan kita kepada Alloh? Mengapa kita memberikan sesuatu yang tidak kita berikan kepada Alloh? Mengapa kita mampu berjam-jam antri di depan pintu seorang dokter tetapi kita begitu cape dan merasa lelah ketika antri di depan Alloh ketika kita melaksanakan sholat. Dimanakah keyakinan kita kepada Alloh?

Waktu kita berdoa, doa nya Ya Alloh jadikan si Anu jodohku atau kita berdoa seperti ini Ya Alloh berikanlah kepadaku yang terbaik menurut kehendakMu. Doa yang pertama bersifat meminta sedangkan doa yang kedua bersifat menyerahkan kepada Alloh.

Ciri orang yang bertawakal adalah tidak makan uang haram. Orang yang mencari harta dengan cara yang tidak benar adalah orang yang tidak tawakal. Karena dia tidak yakin bahwa Alloh akan memberikan rezeki. Makanya hati-hati ketika kita tergoda untuk mencari yang haram. Itu menunjukkan keyakinan kita kepada Alloh kurang. Tetapi orang yang tawakal adalah orang yang setelah berupaya dia tenang, karena dia telah melaksanakan tugasnya dan dia menunggu apa yang menjadi tugas Alloh. Orang yang tawakal tidak akan nangis, gelisah, frustasi disaat dia kehilangan apa yang menjadi andalannya. Ketika copot jabatannya, dia tidak putus asa. Kenapa? Karena yang memberi rezeki bukan jabatan itu tetapi Alloh. Ketika hilang anaknya, dia tidak bersedih. Ketika hilang semua yang selama ini diandalkannya, dia pun tetap tenang karena semuanya dia gantungkan dan hanya dia sandarkan kepada Alloh SWT.

Pernahkah kita mendengar bagaimana Rasulullah berjuang di Mekkah. Di saat-saat beliau butuh bantuan dari pamannya Abu Thalib dan istrinya Khadijah yang selama ini Rasulullah andalkan. Tiba-tiba di saat Rasulullah sangat membutuhkan mereka, kedua-duanya dipanggil menghadap Alloh. Mengapa mereka dipanggil disaat Rasulullah sangat membutuhkan mereka? Mengapa mereka tidak dipanggil saat beliau telah menguasai Mekkah?Jawabannya karena Alloh ingin di hati Rasulullah hanya ada Alloh. Seakan-akan Alloh berkata kepada Rasulullah “Ya Muhammad, siapa yang kau andalkan. Pamanmu, Istrimu telah Aku panggil menghadap Aku. Sekarang siapakah yang ada di sisimu wahai Muhammad selain Aku. Adakah yang bisa menolongmu selain Aku, wahai Muhammad”. Makanya Alloh cabut karena Alloh mencintainya.

Bukankah hati kita sudah di isi oleh banyak hal. Di isi pangkat dan jabatan, diisi kehidupan mewah. Apakah Alloh cemburu? Mungkin sebagian dari kita berkata “Alhamdulillah semuanya lancar, gaji lancar, keluarga sehat”. Bisa saja itu lancar karena Alloh tidak cemburu kepada engkau. Sehingga orang yang taat kepada Alloh seringkali Alloh mencintainya maka Alloh cabut. Mengapa? Supaya di hatinya hanya ada Alloh. Kapan di hati kita Cuma ada Alloh? Saat susah atau saat senang? Kalau karena kesusahan di hati kita hanya ada Alloh bukankah susah itu indah? Lalu kenapa doanya selalu jauhkan dari kesusahan padahal kesusahan itu bisa menjadi sebuah keindahan.

Seorang ulama zuhud, konon 20 tahun dia tidak pernah tertawa mungkin karena ingat neraka. Tetapi ketika anak kesayangannya meninggal dunia, dan orang-orang datang untuk takziah. Orang-orang menyaksikan sesuatu yang aneh. Beliau tertawa. Dan orang-orang heran dan bertanya “wahai Fudoi, 20 tahun kami menyaksikan engkau tidak pernah tertawa tetapi mengapa disaat anakmu dipanggil menghadap Alloh justru engkau tertawa?”. Lalu beliau mengatakan “karena aku mencintai apa yang dicintai oleh Alloh. Aku berkehendak dan Alloh berkehendak lain. Dan aku mencintai apa yang dikehendaki oleh Alloh”.

“Hanya Engkaulah yang kasi sembah dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan”. Mengapa dikaitkan hanya kepadaMu kami beribadah dengan hanya kepadaMu kami minta tolong. Kita tidak mungkin mempunyai kemampuan beribadah kecuali jika kita ditolong oleh Alloh. Karena itu kita bergantung pada Alloh untuk membantu kita dalam beribadah. “Ya Alloh tolong aku bisa mengingatMu, tolong aku bisa bersyukur atas nikmatMu, tolong aku agar bisa beribadah terbaik kepadaMu”. Mungkinkah kita tergerak untuk sholat ke Masjid jika tidak ditolong Alloh? Mungkinkah lisan kita tergerak untuk membawa Al Qur’an tanpa ditolong oleh Alloh? Kalau demikian kita berbuat baik karena ditolong Alloh atau karena kemampuan kita? Kalau kita beribadah karena ditolong Alloh maka pantaskah kita minta Surga kepadaNya?

“Wahai Alloh yang mewakili keadaan, Engkaulah wakil kami ya Alloh. Engkaulah yang mewakili kami ya Alloh. Jadikan hanya Engkau tempat bersandar kami ya Alloh. Jadikan Engkau tempat yang kami sandarkan seluruh urusan kami ya Alloh. Cukuplah Engkau sebaik penolong. Sebaik-baik wakil kami. Jangan jadikan selain Engkau bertempat di hati kami. Letakkanlah dunia dan isinya di tangan kami ya Alloh. Jangan Engkau letakkan dunia dan isinya di hati kami. Cukuplah Engkau wahai Alloh yang mengisi hati kami”.

Sumber: Ust. Jumharuddin, Lc. Ceramah Asmaul husna “Al Wakil”

loading...
Share

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*