Pengasuhan Anak Usia Prasekolah

Biblioterapi tematik semalam membahas seputar masalah pengasuhan anak usia prasekolah. Salah satunya diambil dari buku yang berjudul “Perpustakaan Prasekolahku, Seru!”. Sempat heran kenapa semalam Bunda Susan membahas tema ini. Ternyata di luar sana muncul kontroversi tentang aktivitas membaca bagi prasekolah (belum sekolah). Padahal selama anak menikmati aktivitas “membaca” justru akan meningkatkan kegemarannya membaca buku, apalagi anak usia TK sekarang (generasi Z) sudah banyak dikenalkan gadget.

Ada kisah nyata seorang ibu. Sejak anaknya TK tidak dipaksakan untuk calistung. karena menganut pemahaman bahwa biarkan anaknya mengeksplorasi lingkungan. Alhasil sekarang sudah kelas 2 SD anaknya belum lancar membaca dan malah menjadi masalah psikologis baru di tengah teman-temannya yang sudah lancar membaca. Sang ibu dan ayah anak tersebut bingung bagaimana membuat anaknya bisa membaca. Dan bunda Susan sarankan untuk rajin dibacakan buku cerita lalu dikembangkan dengan permainan tebak isi buku, dikte menulis dan menceritakan kembali bagian-bagian kata dari cerita yang dibaca tersebut.

Saya pun akhirnya merasakan dilema seorang guru. Ada seorang guru memiliki murid kelas 6 SD yang sampai sekarang belum bisa membaca. Apakah faktor yang menyebabkan hal ini terjadi ? Sang guru dilema karena jika tidak naik kelas maka si anak pasti malu dan berhenti sekolah. Jadi sang guru meloloskan naik kelas karena sikap kesehariannya seperti anak normal yang bermain dengan teman-temannya.

Bunda Susan pun memberikan jawabannya. “Faktor penyebabnya harus ditelusur ke orang tua anak tersebut. apakah ada riwayat penanganan yang salah ketika prasekolah. Bagaimana kebiasaan di rumahnya. Ciri disleksia diantaranya mereka akan menghadapi masalah membaca yang lambat dan mempunyai tulisan yang kurang bagus. Anak dengan disleksia suka mengurangi atau menambahkan kata ketidak sedang membaca. Mengalami kekeliruan ketika membaca seperti huruf “p” dianggap “q” dan huruf “b” dianggap “d”. Sering membalik kata-kata, misalnya buku dibaca “duku”, “bau” dengan “buah”, “buta” dengan “batu” dan lainnya. Pengidap disleksia selalu terjadi pada pasangan kembar atau bayi yang lahir tidak cukup bulan. Suka menukarkan pemahaman konsep misalnya bingung terhadap pemahaman konsep atas dengan bawah, depan dengan belakang, dan sebagainya. Kadang-kadang juga disertai artikulasi suara gagap. Seting juga disertai kesalahan eja dan kesalahan tulis. Misalnya jika di diktekan kata pagar, mungkin ditulis “papar”. Kesalahan tulis ini juga mencakup ketidak-mampuan untuk membuat tulisan indah, sering tulisannya tidak terbaca. Gangguan ini akan berlanjut sampai anak meningkat dewasa. Harus segera ditangani dengan memberikan treatment melalui aktivitas membacakan buku cerita secara konsisten”.

Usia kurang dari 6 tahun, anak bukan belajar simbol tapi fonem. Pelajaran berbahasa dimulai dari mendengar, menyimak dulu. Karena dua aktivitas ini jugalah yang diajarkan Jibril kepada Rasulullah SAW saat menurunkan wahyu pertama. Ketika itu disuruh IQRO, Nabi SAW bilang ummi “tidak bisa baca”, lantas di ulang disimak melekat. Sejatinya membiasakan membaca sejak usia dini itu aktivitas read aloud, reader theatre, story telling karena disitu terjadi pengenalan suara. Ada anak yang cepat menyerap dan ada yang lambat.

Kemungkinan anak trauma ketika diajarkan calistung dengan metode paper dan pensil, kalau keluar garis, dst oleh gurunya diprotes, dicontohkan, dst. Perfeksionis. Karena itu penting mengenalkan kearifan alam bersamaan dengan literasi informasi (lewat buku dan media lainnya). Dari aktivitas membaca buku sastra anak (misalnya saja), disitu ada nilai-nilai yang ditransferkan ke individu. Jadi sebagai pengajar “ingin memberitahu kewajiban” bisa dengan cara yang smooth (lembuh lewat qisah).

Suatu konsep diri yang positif tidak akan mungkin terbentuk ketika kita tidak menghargai milik orang lain seperti menghargai dan memperlakukan milik sendiri. Sumbangan berharga sastra terhadap pemahaman ini tidak hanya bagi anak-anak tapi juga dewasa (Halaman 110-114).

Demikianlah sedikit cerita pengasuhan anak usia prasekolah pada biblioterapy semalam. Semoga bermanfaat.

Pages

Posts by category

My Templates

Ads

loading...
Share

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*