Tipe-tipe STIFin

Jika kamu ditanya tentang satu kata yang paling dominan dalam diri, kata apa yang akan kamu gunakan sebagai jawaban ? Ter-“apa”kah kamu ? Bicara sesuatu yang “paling”, berarti bicara sesuatu yang kuat terbentuk dalam diri. Sudah semestinya jawabannya pun adalah kata superlatif misalnya terbaik, terhebat, terkuat, tercepat, dsb. Sayangnya, saat ini banyak di antara kita yang masih menjawab bukan dengan kata superlatif. Misalnya dengan cukup berkata, saya baik, hebat, kuat, cepat, dsb. Rasanya seperti ada sisi keraguan dalam hati. Apakah mungkin hal itu menunjukkan bahwa kita sering kurang percaya diri dengan kemampuan kita?

Bayangkan jika kita punya satu hal yang memang berasal dari kekuatan terbaik dan alami-sejak-lahir (baca: potensi genetik), lalu kita fokus dan asah terus kekuatan itu, hingga suatu saat kekuatan itu benar-benar membuat kita “menghasilkan” sesuatu, maka saya yakin jawaban dengan kata superlatif akan mudah keluar dari mulut kita. Dengan yakin dan mantap, misalnya kita menjawab, “saya orang terkuat dalam urusan ini! Yes!”

Saya pun yakin, jawaban superlatif-yang-mantap seperti itu tidak akan muncul jika tidak dimodali dengan potensi genetik. Kenapa? Karena kelak di satu titik, diri ini akan bereaksi dengan kondisi stress. Ibarat mobil MPV yang dipaksa sering-sering balapan di sirkuit. Selain sopirnya akan susah payah, mobilnya juga tak akan berumur lama. Potensi genetik adalah mesin utama yang paling sesuai jika digunakan sesuai keunggulannya. Mobil MPV paling patut dianggap sebagai mobil terbaik dalam hal angkut orang ataupun barang. Mobil balap pun akan dianggap paling juara dalam hal balap.

Jadi, agar muncul jawaban superlatif dari diri kita, fokuslah di kekuatan terbaik kita. Tes STIFIn telah menunjukkan pada kita apa yang menjadi kekuatan terbaik kita. Kemudian konsep STIFIn-nya akan menjadi tuntunan kita dalam mengoptimalkan kekuatan terbaik tersebut. Berikut adalah tipe-tipe STIFIn yang semestinya menjadi “kehebatan simbolik” diri dan karya kita.

SENSING : terbanyak, terpanjang, tertinggi, terpesat, terefisien.

Kunci untuk meraih prinsip superlatif Sensing adalah “volume”. Artinya, Sensing dituntut untuk menggunakan konsep “volume” agar ia menjadi seorang Sensing sejati. Bicara soal volume, maka akan bicara soal panjang, lebar, tinggi, isi, kapasitas, dan ukuran jumlah. Mahathir Mohamad, mantan Perdana Menteri Malaysia, telah menunjukkan ke-Sensing-annya dalam proses kepemimpinannya. Ia berhasil membangun highway terbanyak, jembatan terpanjang, menara tertinggi, infrastruktur dan transportasi terpesat, dan pemerintahan terefisien.

Sensing memang senang dengan kata ‘banyak’. Misal saja dalam hal makan, sedikit-sedikit tapi sering atau refill. Ia juga dikenal efisien yang membuatnya praktis dan “hemat”. Bentuk hematnya antara lain ia akan memberi bantuan tenaga dibanding uang, berburu diskon, beli barang yang spesifikasinya mirip namun harga lebih murah, atau borong banyak barang sekalian jika harganya murah.

Jika Anda orang Sensing, dalam satu periode tertentu (misal 1 jam, 1 hari, dsb) mestinya berhasil mengerjakan hal terbanyak, petualangan terpanjang, omzet penjualan tertinggi, perkembangan terpesat, dan tindakan terefisien. Sebaliknya, jika dalam sehari Anda hanya tuntas satu hal, gaji atau omzet masih stagnan, maka Anda perlu lebih giat lagi membangun kehebatan simbolik Anda.

THINKING : terkuat, terahli, terakurat, terteliti, terefektif

Kunci untuk meraih prinsip superlatif Thinking adalah “kalkulasi”. Artinya, Thinking memang dituntut untuk banyak berhitung atau memperhitungkan sesuatu. Banyak berpikir, analisa, lalu mengelola adalah menu sehari-harinya. Apa-apa dihitung atau dipikir dulu sebelum dieksekusi. Namun justru dari situlah, ia mampu menjadi sosok terkuat (kuat dalam memegang prinsip; tangguh untuk dikalahkan; kokoh untuk dikelabui; defense untuk didobrak), pebisnis terahli, penghitung terakurat, analis terteliti, dan pengelola terefektif.

Thinking memang senang berhitung (bukan berarti harus pandai atau gemar matematika). Misal saja dalam hal mengelola uang, ia berbelanja untuk barang yang memang ia butuhkan. Entah itu murah atau mahal, kalau memang butuh dibeli, kalau tidak ya tidak dia beli. Efektif. Sebagai seorang Thinking, Steve Jobs meluncurkan produk-produk Apple yang terkenal dengan efektivitas dan simplicity-nya. Selain itu, Apple adalah produk kuat. Tangguh dengan harga-harganya yang “wow” dibanding produk lain sekelasnya. Sebab, itu adalah produk orang Thinking.

Jika Anda orang Thinking, jadilah orang terkuat dalam memegang prinsip, terahli di bidang tertentu, terakurat dalam memperhitungkan segala sesuatu, terteliti dalam bekerja, dan terefektif dalam bersikap. Sebaliknya, jika Anda masih sering tidak istiqomah, tidak paham dengan apa yang dikerjakan, salah perhitungan, sering ceroboh dan terjerumus risiko, atau tidak efektif dalam menjalani hidup, siap-siaplah kehilangan kehebatan simbolik Anda.

INTUITING : terbaik, terunik, terdepan, terfleksibel, terkreatif

Kunci untuk meraih prinsip superlatif Intuiting adalah “kualitas”. Artinya, Intuiting dituntut untuk selalu memunculkan kualitas. Kemampuan imajinasi dan kreativitasnya adalah modal besar untuk selalu menghasilkan hal-hal yang berkualitas. Dari situlah ia akan terobsesi untuk menjadi yang terbaik, melahirkan produk terunik, menjadi seorang sprinter prestasi terdepan, penyedia berbagai alternatif terfleksibel, dan menghasilkan karya-karya kreatif. Intuiting memang senang dengan kualitas. Quality -dalam bahasa Inggris-, bukan hanya bicara soal mutu, tapi juga ciri, bobot, dan kelas. Tak heran jika misalnya ia senang membeli barang terbaik dan berkelas, unik dan beda, teknologi terdepan, fleksibel dengan menyediakan banyak pilihan, dan memiliki nilai kreatif. Meskipun mahal, akan ia beli. Jika sama dengan yang sebelumnya atau dengan orang lain, ia tidak mau. Jika ada yang lebih menarik, ia akan menunjukkan sifat bosan. Bahkan ia mampu memprediksi mana barang atau hal yang banyak digunakan oleh orang lain, lalu ia akan memilih barang atau hal yang kurang dipilih orang lain, meskipun biaya yang dikeluarkan murah. Murah dalam kondisi seperti itu baginya bukan menurunkan kelas, tapi justru menaikkan kelas dari sisi lain untuk tujuan menonjolkan sesuatu yang beda dan tidak pasaran. Seorang Intuiting bisa membuat orang merasa kehilangan “sosok langka” jika Intuiting itu meninggal. Misalnya ketika Michael Jackson wafat, dunia kehilangan sosok penyanyi pop terbaik, artis terunik, dan penampil terkreatif.

Jika Anda orang Intuiting, pastikan Anda menghasilkan suatu pekerjaan yang terbaik (tak masalah jika Anda lama mengerjakannya atau kalah banyak dengan orang Sensing), buat karya terunik, jadilah pengusaha yang terdepan, jadilah pemberi solusi yang fleksibel dan mampu menyediakan banyak alternatif, dan sosok terkreatif. Sebaliknya, jika kualitas kerja Anda bukan yang terbaik, karya Anda tidak unik dan banyak copy-paste dari orang lain, ketinggalan zaman, selalu mentok dalam mencari opsi solusi lain, dan lemah kreativitas, ke-Intuiting-an Anda mungkin akan banyak dipertanyakan orang.

FEELING : terpopuler, terhebat, terheboh, terhangat, terfavorit

Kunci untuk meraih prinsip superlatif Feeling adalah “ikatan”. Artinya, Feeling dituntut untuk selalu membangun ikatan dengan orang lain atau sesuatu. Kemampuan perasaannya dan energi cintanya yang banyak mampu membangun ikatan yang luar biasa. Dari situlah ia akan menjadi sosok terpopuler, pemimpin terhebat, tokoh terheboh, pribadi terhangat, dan figur terfavorit. Jika ia adalah seorang karyawan, ia dikenal baik dari mulai atasan tertinggi hingga office boy. Jika ia seorang pemimpin, ia akan dikenang sebagai pemimpin terhebat. Jika ia seorang pengusaha, ia akan melahirkan produk-produk yang selalu heboh. Jika ia seorang teman, gak ada dia gak rame. Jika ia seorang guru, ia adalah guru favorit para siswa.

Feeling senang membangun ikatan. Ia tidak betah berlama-lama mendiamkan orang. Ia tidak kuasa berlama-lama bermusuhan. Ia tidak tahan untuk ngajak ngobrol orang. Ia pun tidak mau lama-lama menjomblo. Ia tak sadar selalu menebar pesona (meskipun ia bersikukuh merasa tidak pernah tebar pesona). Ia tak segan bilang cinta terhadap orang atau sesuatu yang dicintainya. Kesemuanya itu dalam rangka membangun ikatan. Dari kepribadiannya, terlihat jelas Ridwan Kamil dan SBY adalah sosok tipe ini. Selain populer yang terakui dari followers-nya yang banyak, mereka dikenal sebagai sosok hebat dalam kepemimpinan (banyak membangun; segudang penghargaan), selalu heboh dalam pemberitaan, hangat terhadap rakyat dan orang-orang yang dipimpin, dan jadi tokoh favorit di banyak hati rakyat.

Jika Anda orang Feeling, pastikan Anda dikenal banyak orang, hebat dalam memimpin (baik tim, pekerjaan, perusahaan, bisnis, dsb), selalu menghasilkan hal-hal yang heboh, selalu jadi sosok sahabat yang hangat dan nyaman bagi orang lain, dan jadi orang terfavorit dengan kehadiran Anda. Jika tidak demikian, mulailah dari sekarang membangun ikatan-ikatan yang luar biasa. Temui banyak orang baru sekarang juga.

INSTING : tercepat, terlengkap, terpakai, teradaptif, terimbang

Kunci untuk meraih prinsip superlatif Insting adalah “manfaat”. Artinya, Insting dituntut untuk selalu memberi manfaat yang signifikan kepada sekitar. Kemampuan nalurinya, keserbabisaannya, dan berkorbannya adalah perangkatnya untuk senantiasa menebar manfaat. Demi menebar manfaat terbaik, ia kelak muncul sebagai eksekutor tercepat, pengusaha terlengkap, partner/mitra terpakai, sosok teradaptif, dan pribadi terimbang. Sosok Nabi Muhammad SAW menurut STIFIn adalah role model tipe ini, meskipun -menurut STIFIn juga- beliau adalah tipe Insting yang sempurna, yang memiliki karakter superlatif tipe lain. Namun begitu, beliau sudah kita kenal sebagai sosok tercepat dalam merespon sekitar maupun dalam bertindak, punya keserbabisaan yang sangat lengkap untuk menghadapi berbagai permasalahan umatnya, terpakai dan sangat diandalkan oleh banyak orang (bahkan oleh orang-orang yang bukan umatnya), sangat pandai beradaptasi dengan segala situasi dan ragam manusia yang dihadapi, dengan selalu menerapkan gaya hidup yang seimbang. Tidak terlalu berlebihan dalam hidup, tetapi juga pantang terus berada di bawah.

Meskipun tipe Insting adalah orang yang mudah merubah prinsip, namun sepertinya sikap “ingin bermanfaat bagi orang lain” justru adalah prinsip yang selalu ia pegang. Hampa rasanya jika ia tidak punya atau tidak diberi peran. Tak tahan rasanya jika ia tidak berkontribusi. Justru tak lengkap rasanya jika tidak ada yang dikorbankan dari dirinya untuk orang lain atau sekitar. Bahkan ia sering melupakan dirinya, dan terlalu mengurusi orang lain.

Jika Anda orang Insting, pastikan Anda selalu merespon cepat, mampu menampilkan keserbabisaan, selalu dapat diandalkan oleh siapa saja, pandai menyesuaikan diri dengan lingkungan dan keadaan hidup, dan memiliki gaya hidup yang seimbang. Jika Anda pengusaha misalnya, pastikan pelayanan atau service Anda adalah baik dan cepat, menyediakan atau menjual produk palugada (apa yang lu mau gue ada; misal Al-Ma’soem), membuat produk praktis yang banyak terpakai konsumen, pandai menyesuaikan dengan berbagai perubahan cuaca bisnis, dan jadilah pengusaha yang seimbang; setiap memperoleh keuntungan yang besar, jangan segan juga untuk mengeluarkan sedekah yang besar. Jika Anda untung, orang sekitar atau masyarakat juga harus kecipratan untungnya. Bagi Anda tipe Insting yang masih lambat, tidak serba bisa, tidak dapat diandalkan, kurang tahan dengan perubahan, dan tidak seimbang, maka butuh waktu yang lama lagi untuk membangun “kehebatan simbolik” Anda.

Itulah prinsip-prinsip superlatif pada tipe-tipe STIFIn. Pastikan kelak Anda tidak bingung lagi menyampaikan siapa sosok superlatif diri Anda. Jika belum bisa semuanya, minimal satu karakter superlatif khas yang perlu Anda kuasai. Karakter superlatif bukan berarti kita paling menguasai hal itu di dunia sehingga kita layak bersombong, tapi sebagaimana sudah disampaikan di awal: paling kerap menonjol atau kuat terbentuk dalam diri.  Karakter superlatif adalah kehebatan simbolik; ciri sosok diri Anda yang sukses dan “jadi”. Dengan berpedoman pada prinsip superlatif tersebut, Anda akan terpandu dengan luar biasa untuk menjalani hidup ini, apapun peran Anda saat ini.

Pages

Posts by category

My Templates

Ads

loading...
Share

1 Comment

  1. Apa cara yg bisa ditempuh untuk membangun “kehebatan simbolik” itu? Karena saya tipe In yg disebutkan di kalimat sebelum ini. Sy masih lambat, tidak mudah diandalkan, tidak serba bisa tidak seimbang, dan lain sebagainya yg berlawanan dgn tipe ini yg seharusnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*