Jangan Tinggalkan Masjid, Nak

Jangan Tinggalkan Masjid, Nak
Jangan Tinggalkan Masjid, Nak

Hari ini aku harus balik ke Jogja jam 08.00 WIB. Bu Hartinah gak berubah. Dan itu yang selalu buat aku mewek. Udah mau berangkat, tapi ada aja tingkah bu Hartinah di dapur. Semua yang ada di kulkas dan di lemari, di masak-masak dan di bungkus untuk bekal aku makan malam di kost. Dapur yang sudah rapi dan aku bersihkan mendadak kembali seperti semula. Inilah bu Hartinah. Harus ada yang suka membersihkan dan harus ada yang suka buat berantakan. Hahaha. Inilah seni nya di rumah aku. Setelah semua sudah beres, aku, bu Hartinah dan Pak Salim duduk di ruang tamu menunggu mobil travel datang. Pak Salim seperti biasa kasih pesan-pesan dan yang nancep sampai ke hati saat pak Salim bilang “Jangan tinggalkan Masjid, Nak”. Aku yang sejak corona sudah gak lagi ke Masjid. Dan dengan pedenya aku cerita ke Pak Salim dan Bu Hartinah kalau aku udah gak ke Masjid lagi dengan alasan corona dan nunggu dapat hidayah dulu. Aku yang saat tiba di jogja, cari kost harus dekat Masjid, dan Alhamdulillah Alloh acc. Aku kost tepat di depan Masjid dengan harapan bisa shalat di Masjid. Beginilah Ais. Kadang alim, kadang badungnya bikin geleng-geleng. Travelpun datang dan aku mulai meninggalkan rumahku.

Aku kaget ternyata satu mobil, hanya aku wanita seorang dengan 5 laki-laki. Ternyata ada maksud Alloh atas rencana ini. Tiba-tiba mobil ban nya kempes di sebelum temanggung. Hihi. Semua para cowo turun tangan. Dan aku seorang diri di dalam mobil leha-leha. Disini jadi tahu mana cowo yang peduli dan bantu sopir travel dan mana yang bodo amat. Selama perjalanan di mobil dari tegal sampai jogja, aku baca buku “Kita dalam kata”. Nanti aku buat tulisan tentang isi buku itu ya. Ditunggu saja.

Sampai di kost jogja, kucing-kucing milik penjaga kost “bernyayi” mendekatiku. Sepertinya mereka tahu aku bawa ikan. Haha. Dan ini doa yang Alloh ijabah. Ketika ketemu kucing, aku terus dalam hati bilang mau kasih makan nasi ama ikan buat mereka. Tapi gak terlaksana karena kadang aku pulang kesorean dan hujan jadi ga bisa mampir beli ikan. Alhamdulillah Bu Hartinah tadi goreng bandeng dan bawain nasi. Nyampe kamar, aku langsung ramu ikan dan nasi jadi satu. Dan mereka senang ketika makan nasi dan ikan ramuanku. Rasanya ada kebahagiaan tak terkira. Aku senyum-senyum sendiri. Gak percaya Alloh akan kabulkan keinginan dalam hati yang receh ini. Alloh selalu bikin baper.

Setelah itu, aku beres-beres. Dan aku buka tas ku. Aku kaget. Aku menemukan jam tangan yang di beli pak Salim pas beliin tas dan jaket untukku. Ternyata pak Salim ambil jam tangan itu untuk aku. bukan untuk pak Salim. Pak Salim tahu kalau aku di tawari jam, pasti aku akan nolak. Makanya pak Salim insiatif sendiri cariin jam untuk aku. Pantes, pas aku mendekati pak Salim waktu itu, dan pak Salim mencobanya, aku bilang kalau itu kaya jam cewe. Pak Salim langsung nawari aku dan aku nolak. Karena memang aku masih punya jam tangan yang masih bagus saat beli di mekkah pas umroh 2015 dulu. Akhirnya pak Salim beli itu jam. Dan gak nyangka kalau jam itu untuk aku. Pak Salim sampai WA bilang kalau besok jam itu dipake ke kampus. Hikss.

3 hari yang membuat aku mewek atas apa yang Pak Salim dan bu Hartinah berikan ke aku. Aku benar-benar gak minta apa-apa karena aku punya uang gaji sendiri. Aku hanya ingin sehat dan aku ingin uang gaji ku ini untuk kesehatan pak Salim dan bu Hartinah.

Pelajaran apa yang bisa diambil dari kisah hari ini ?? Apa yang di niatkan akan kembali kepada yang di niatkan. bu Hartinah selalu bilang kalau kerja untuk anak. Anak gak boleh menderita seperti bu Hartinah yang saat kecil gak punya apa-apa dan gak bisa beli apa-apa karena gak ada uang. Dan itu, kini menular ke aku. begitupun denganku. Aku kerja untuk pak Salim dan bu Hartinah. Meski pak Salim dan bu Hartinah punya uang sendiri dari kerjanya tapi uang juga milik mereka. Aku gak mau jadi ais yang dulu. Ais yang tak memikirkan orangtua nya. Kini, aku tahu bahwa surga dunia akhiratku ada pada pak Salim dan bu Hartinah. Dan aku lebih bahagia dengan ais yang sekarang. Terimakasih Alloh sudah memperbaiki diri ini meski harus “ditampar” dulu ama Alloh.

loading...
Share

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*