Mengatasi Konflik Rumah Tangga

Mengatasi Konflik Rumah Tangga
Mengatasi Konflik Rumah Tangga

Menikah itu bukan hanya menyatukan dua insan dengan berbagai perbedaan. Tapi juga menyatukan dua keluarga yang bisa jadi punya cara pandang dan kebiasaan yang berbeda.

Sebelum menikah, calon suami dan istri harus siap mental dengan segala perbedaan yang akan dihadapi. Dari mulai perbedaan ekonomi, pendidikan, kepribadian, pemahaman agama, level ibadah, perbedaan lainnya.

Kalau gak siap mental, apa yang terjadi semua perbedaan itu bisa jadi sumber konflik. Tidak ada pasangan yang dapat menghindari konflik. Kadang, setelah diamati masalahnya sih itu-itu saja. Miskomunikasi dan bahasa cinta yang berbeda.

Terus kalau sedang marahan gimana ? Ya kita sih udah sepakat dari awal nikah kalau ada masalah secepat mungkin diislahkan, gak dibawa sampai besoknya. Siapapun yang salah, yang hebat yang duluan minta maaf.

Kalau sedang konflik, jangan menjauh, justru harus mendekat. Sesegera mungkin memeluknya, walau mungkin gengsi, males, bete dan lainnya.

Ada baiknya, setelah tenang dan saling memaafkan, konflik dievaluasi agar kedepannya gak terulang lagi. Sebenarnya kalau pakai kacamata keimanan, setiap masalah akan dimaknai ujian penambah kedewasaan dan kedekatan pada Alloh.

Namanya juga rumah tangga, akan ada tangga-tangga ujian yang harus dihadapi bersama. Konflik rumah tangga juga bisa dipicu oleh pihak ketiga, misalnya orang tua atau mertua yang mencampuri, ipar yang merecoki, atau bisa jadi PIL atau WIL (wanita idaman lain).

Maka, dari sejak awal harus jelas hak dan kewajiban. Harus paham tentang prioritas ketaatan. Seorang suami setelah menikah ketaatannya pada ibunya. Dan seorang istri setelah menikah harus taat pada suami, selama menyuruh pada yang ma’ruf dan bukan dalam rangka maksiat pada Alloh.

Konflik rumah tangga, bisa dikategorikan 3 level:

  1. Konflik rendah: cukup dengan khusnuzon dan tabayun (meminta penjelasan)
  2. Konflik sedang: pakai pihak ketiga dari keluarga yang bisa melerai dan mengakomodir. Cari yang adil dan bisa melerai.
  3. Konflik tinggi: Jika tidak ada solusi, bisa pakai tokoh atau pengadilan agama untuk mencari jalan keluar terbaik.

Perceraian memang sesuatu yang boleh, namun dibenci Alloh. Apalagi jika sudah punya anak, sedikit banyak akan mengganggu kestabilan psikologinya. Maka anjurannya wahai para single, sebelum menikah pastikan siap dengan segala perbedaan yang ada. Dan setelah menikah, jangan mudah mengatakan kata talak. Berusahalah mempertahankan biduk rumah tangga.

Sumber : Setia Furqon Kholid

loading...
Share

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*