Dosen Ijinkan Mahasiswa Demo

Dosen Ijinkan Mahasiswa Demo
Dosen Ijinkan Mahasiswa Demo

“Pak minta ijin dispen kuliah buat demo”. Sekelumit pembicaraan Pak Dwi dengan mahasiswa-mahasiswanya. Pak Dwi menimpali dengan mengatakan “jika kita berjuang secara tulus apalagi menyuarakan hati rakyat, niatkanlah dengan baik dan bersungguh-sungguhlah. Tidak perlu lagi menimbang-nimbang tentang hal-hal yang remeh temeh apalagi absensi”.

Ada hal besar yang perlu disuarakan dengan lantang, diperjuangkan dengan sungguh-sungguh dan belajar keluar dari pragmatism yang selama ini sudah cukup lama diajarkan di ruang-ruang kelas yang seharusnya diisi dengan kebebasan akademik memandu pemikiran pada perubahan yang lebih baik.

Pergerakan ini melegakan, hal yang dirindukan dari anak-anak muda saat ini yang kerap di cap manja, apatis pada kehidupan bernegara. Karena memang system mengarahkannya kesana tanpa sadar. Menyuarakan lantang kebenaran, menerapkan idealisme dengan langkah nyata dan membudayakannya dengan konsistensi adalah tantangan kita bersama.

Sudah bosan dengan kaum muda masa lalu yang ketika itu hadir dengan idealisme dan seiring beranjaknya usia, panggung-panggung yang terisi juga melunturkankan idealismenya perlahan tak terasa. Semoga ini tidak terjadi lagi pada kaum muda saat ini. Jangan mengulang lagi masa lalu. Tetaplah bersuara lantang sepanjang hayat, selama keadilan memang belum berdiri.

Turun beraksi nyata, belajarlah dengan benar, berjejaringlah dengan luas, asah pula idealismenya dan segeralah menaiki panggung dan kawal cita-cita “mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur”.

Pentungan & Isi kepala. Keduanya bukan hal untuk disetarakan. Mengajari menggunakan pentungan akan jauh lebih singkat ketimbang membimbing kehandalan menggunakan isi kepala. Begitu juga menggunakan senjata, akan lebih singkat ketimbang melatih berargumen dengan gagasan-gagasan kritis sebagai senjata kaum intelektual.

Memukuli & menembaki dengan gas air mata adalah perilaku rendahan pihak-pihak yang enggan menggunakan kemampuan berpikir & menyuarakannya dengan dialog. Mungkin kemampuan dialog ini hilang dalam kurikulum mereka ketika dilatih menjadi aparat. Apakah dilatih menggunakan helm & perangkat adalah simbolisasi atas ketertutupan pemikiran ?

Layani anak-anak muda dengan ide, gagasan & kesempatan, karena mereka dilatih mengembangkan ide & gagasannya. Kekerasan yang di kedepankan hanya memvalidasi bahwa berkuasa itu kini bisa dilakukan sebebas-bebasnya hingga lupa berpikir.

Di mimbar lain, sang menteri marah & mengaku malu pada anak-anak muda ini. Mengaku dirinya juga seorang dosen, guru besar pula. Ah Bapak, di lapangan anak-anak kami dipukuli dan ditembaki, di mimbar anak-anak kami ditembaki dengan kalimat-kalimat tak syarat empati.

Dosen juga perlu berlatih untuk mumpuni mengajak dialog, sehingga saling dipahamkan, bukan jadi sparing partner keilmuan yang tidak seimbang. Ya beda kelas juga prof! mereka anak-anak muda yang masih tebal idealismenya, masih ingat cara berdialog membimbing anak muda? Ah mungkin perlu penyegaran kursus pekerti (cara dosen mengajar) ya.

Jangan hanya puas melontarkan alasan tanpa mau merangkul saling berempati. Ketika kekuasaan berangsur menghilangkan kemampuan memahami konteks, akan sulit juga tampaknya mereka memahami bahwa anak-anak muda ini muncul karena keresahannya sudah begitu mencuat.

Ada kata hati yang tak terungkap dalam kata-kata dalam Undang-undang yang Bapak rumuskan. Anak-anak muda ini datang untuk melengkapinya dengan kata hati, suara hati rakyat. Sudahlah akui saja bahwa anak-anak muda ini sungguh hebat.

Sumber : Dwi Indra Purnomo. Dosen UNPAD.

loading...
Share

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*