Kita bisa Menyukai yang Kita Benci

Hari sabtu malam adalah jadwalnya biblioterapi qisah. Dan akan ada satu orang yang harus siap berbagi cerita mengenai kehidupannya di malam minggu. Ada satu kisah dari peserta yang menarik perhatian saya. Sebut saja namanya Bu Ani. Beliau menikah di usia 17 tahun dengan cara di paksa oleh sang ibu. Waktu itu, beliau masih sekolah kelas 2 SMA. Menikah dengan seorang laki-laki (Sebut saja namanya Pak Budi) yang telah beristri dan memiliki 3 anak. Mereka memiliki perbedaan usia 26 tahun. Dua anak pak Budi menderita thalasemia.

Bisa dirasakan bagaimana perasaan bu Ani menerima takdir dariNya. Perasaan tidak enak bercampur antara terpaksa, tidak suka, malu, kesal, takut bila nanti memiliki anak thalasemia juga.

Bu Ani memiliki perasaan “sayang” bila ia tidak ada niat yang bernilai ibadah. Bu Ani pun meniatkan dirinya menikah untuk taat pada Ibu nya, meringankan beban kehidupanya, menyekolahkan anak-anaknya, dan berharap membawa maslahat.

Banyak peserta biblioterapi (termasuk saya) penasaran dan bertanya “kenapa bu Ani mau dijodohkan? kok mau?”. Ternyata pertanyaan seperti itu sangat berat dihati bu Ani. karena jawabannya pun sebenarnya bu Ani tidak mau. mau nya jodoh yang sempurna yang beliau sukai.

Selama bertahun-tahun bu Ani tidak bercerita ke teman, orangtua ataupun kakak-kakaknya tentang beratnya hati menjalani pernikahan. Beliau terlalu malu cerita ke mahluk. Beliau lebih banyak berdoa ke Alloh, berbincang-bincang ke hati dengan Alloh dan mengobati hati dengan prasangka baik.

Di tahun ketiga pernikahan, bu Ani sakit maag dan berkali-kali dirawat di rumah sakit. Ketika sedang dirawat di rumah sakit, ada pasien seorang ibu yang menderita sakit lain. Mereka ngobrol, dan ibu tersebut memberi nasihat agar bu Ani tidak memendam masalah sendiri.

Dari sejak itu, bu Ani mencoba bercerita ke beberapa orang terpercaya. bu Ani membaca buku-buku psikologi. Dan sedikit demi sedikit jiwanya terobati.

Ketika bu Ani sudah mempunyai anak kedua, beliau mengikuti training SEFT (Spiritual Emotional Freedom Technique). Dari situ berasa benar-benar belajar tentang Ikhlas, sabar, pasrah dan syukur.

Menurut bu Ani, di SEFT diajarkan “kalau kita tujuannya ingin semakin mencintai pasangan, ingatlah kebaikanxya, kalau perlu tulislah kebaikan pasangan di telapak tangan kita. kalau tujuannya ingin membenci pasangan, ingatlah keburukannya, kalau perlu tulis keburukan pasangan di telapak tangan kita. karna semua org pasti ada kebaikan dan keburukannya”

Hingga saat ini usia pernikahan bu Ani dan pak Budi sudah menginjak 10 tahun. Saat ini pula, bu Ani sedang mengandung anak ke 4 dan Alhamdulillah tidak ada yang thalasemia.

Dari buku psikologi yang bu Ani baca, bu Ani banyak belajar tentang cinta yang dikendalikan. Pesan menarik dari bu Ani untuk kami semua adalah “kita bisa menyukai yang kita benci”

Kata bu Ani “ada pepatah, kalau cinta jangan terlalu cinta. kalau benci jangan terlalu benci. berarti cinta bisa dikendalikan, diperkecil/diperbesar volumenya”.

Ada peserta biblioterapi yang tanya “perasaan cinta itu muncul di tahun ke berapa pernikahan dan faktor apa yang memunculkan rasa cinta pada suami selain sebagai ibadah ?” bu Ani pun menjawab “Tahun ke 5 pernikahan. karena kebaikan suami. Saya lihat ke orang yg nasibnya jauh lebih parah daripada saya”.

loading...
Share

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*