Thaif dan Pelajaran tentang Hidayah

Thaif dan Pelajaran tentang Hidayah
Thaif dan Pelajaran tentang Hidayah
Pasca meninggalnya Abu Thalib, frekuensi gangguan Quraisy semakin meningkat. Rasulullah saw lalu mengarahkan dakwahnya ke Thaif. Di kota itu keluarganya dari keturunan Tsaqif berada. Merekalah para elit kota yang berpengaruh. Pada ketiga orang tokoh itulah, Rasulullah untuk kali pertama berdakwah di Thaif. Abdu Yalil bin Amr, Habib bin Amr, dan Mas’ud bin Amr.
Ketiganya menolak seruan Beliau saw. Tak sekedar itu, Rasulullah dihinakan, dicemooh, serta diusir dari kota dengan sambitan batu. Bersama Zaid bin Haritsah, Rasulullah keluar dari kota. Dengan kaki berlumur darah, Beliau sampai di kebun kurma berpagar milik Utbah bin Rabi’ah dan Syaibah bin Rabi’ah. Di kebun kurma ini, beliau ditemui Addas, seorang Nasrani dari Ninawa, yang bekerja di kebun itu. Perbincangan singkat dengan Rasulullah menjadikan Addas tertarik dengan Beliau saw.
Tulisan ini tak bertutur detail tentang peristiwa di Thaif itu. Cukuplah yang ringkas ini menjadi pengantar bahwa demikianlah tabiat dakwah. Allah hanya mewajibkan kita untuk berdakwah. Kita tidak pernah dibebani dengan keberhasilannya. Cukuplah kita menunaikan dakwah dengan ikhlas dan melalui cara yang sebaik-baiknya. Adapun capaiannya, ada dalam kewenangan Allah. Hidayah keimanan mutlak milik Allah.
Kata hidayah dalam al-Quran terhubung dengan dua pengertian.
/1/ Ad-dilalah wal irsyad (menunjuki dan membimbing). Dalam makna ini, para Rasul, Nabi, Ulama, murabbi, guru, orang tua, dan siapa pun yang memiliki peran. Inilah yang dapat kita pahami dari Q.s. Fushshilat [41]: 17.
/2/ idkhalul iman ilal qalb (memasukkan iman ke dalam hati). Dalam makna ini, hidayah mutlak menjadi kewenangan Allah ta’ala. Surat al-Qashash ayat 56, yang diturunkan seiring keengganan Pamanda Rasul untuk beriman menjadi landasan pemahaman perihal hidayah dalam pengertian kedua ini. “Sungguh engkau tidak dapat memberi hidayah kepada orang yang engkau kasihi, tapi Allah memberi hidayah pada yang dikehendaki-Nya…” (Q.s. 28: 56).
Siapa yang dikehendaki Allah menerima hidayah? Ialah mereka yang membuka hatinya pada kebenaran iman, mencari dan menerima kebenaran risalah, menundukkan hatinya sepenuh ketaatan dan penyerahan. Lihat Q.s. Muhammad [47]: 17. Lalu, siapa yang tak dikehendaki mendapat hidayah? Mereka yang menolak kebenaran dan bersikap angkuh terhadapnya. Lihat Q.s. Al-Baqarah: 264; al-Maaidah: 108; dan al-Baqarah: 258. Allah tak beri hidayah pada kaum yang kafir, fasik, dan dzalim. Begitulah keadilan Allah perihal hidayah.
Sekali lagi, Allah hanya mewajibkan kita untuk berdakwah. Kita tidak pernah dibebani dengan keberhasilannya. Cukuplah kita menunaikan dakwah dengan ikhlas dan melalui cara yang sebaik-baiknya. Adapun capaiannya, ada dalam kewenangan Allah.
Sumber : USt. Dwi Budiyanto

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*