Agar Remaja Mau Mendengar

Agar Anak Mau Mendengar
Agar Anak Mau Mendengar

Tantangan buat para orangtua adalah bagaimana agar remaja mau mendengar ketika orangtua berbicara dan bagaimana agar mereka mau berbicara dengan orangtua. Mana dulu yang harus duluan ? Inti pada tahapan ini yang paling pertama adalah mendengarkan. Jadi, kalau orangtua mau buat remaja bicara berarti orangtua juga harus mendengarkan. Untuk membuat remaja bicara, orangtua harus punya ilmu mendengarkan apa yang anak rasakan, apa yang anak alami, apa yang anak ungkapkan.

Kadang memang ada anak-anak remaja yang ngomongnya remeh temeh, kadang ceritanya remeh temeh, namun orangtua cukup dengarkan saja dulu. Ketika mendengarkan, orangtua harus hayati. Hayati itu tidak mesti semua di hayati, intinya sikap orangtua yaitu penerimaan. Kemudian, orang tua simak dan tanggapi. Perlu diketahui bahwa ilmu mendengar itu sama halnya dengan ilmu bicara. Beda antara mendengarkan dengan menyimak.

Orang tua punya peran baru saat berinteraksi dengan anak, dari sebelumnya hanya memberi tahu ke anak, sekarang sudah mulai mendampingi. Mendampingi berarti dia (anak) sudah mulai merasakan bahwa dia di dampingi. Dia sebelumnya ke sekolah karena beberapa alasan dan dia merasa takut maka orangtua harus dampingi. Dampingi pun juga bukan serta merta kita jadi orangtua seperti bodyguard, karena orangtua kadang memberikan banyak instruksi tapi lupa mendampingi.

Kemudian, dari yang sebelumnya mengawasi dengan ketat, orangtua perlu berikan kebebasan tapi bertanggung jawab. Karena memang anak remaja butuh kebebasan tetapi harus bertanggung jawab. Tentu saja ini harus dibangun dengan dialog. Sehingga anak jadi bertanggung jawab, mandiri, terbangun rasa positif dirinya untuk menjadi pribadi yang lebih bertanggung jawab. Dari yang sebelumnya takut dengan remaja, sekarang orangtua harus percaya sama remaja. Orangtua harus berikan kepercayaan tetapi kata kuncinya adalah tanggungj jawab.

Remaja itu butuh navigator. Navigator itu apa? Anak itu butuh pendamping, pembimbing dan harus orangtua harus sampaikan bahwa orangtua siap membantu jika anak membutuhkan. Karena ada orang tua yang sedikit-sedikit ambil alih permasalahan anak, sedikit-sedikit bahwa orangtua yang paling tahu, sedikit-sedikit orang tua sebagai penyelesai masalah. Padahal orangtua harus menahan diri jika anak punya masalah, apalagi masalah-masalah yang tidak begitu krusial. Berikan anak kesempatan.

Silakan buat aturan ke remaja. Remaja itu butuh batasan, sehingga bukan hanya untuk sekedar membatasi tapi dia tahu hidup itu ada aturannya atau ada SOP nya, misalnya pergi sekolah ada SOP nya, ada aturannya, jam berapa harus berangkat dan jam berapa sudah harus di rumah, sampai jam berapa dia boleh main atau kerja kelompok. Dan itu harus ditegakkan dengan tegas.

Perlu sekali peran ayah. Perlu diingat, Ayah bukan keras tapi tegas. Keras itu kadang nada suaranya tinggi, ekspresinya itu ngotot, kemudian bahasa tubuhnya nunjuk-nunjuk. Tapi kalau tegas cukup naikkan suara sedikit saja, atau bahkan tidak usah dinaikkan, tetapi tunjukkan ekspresi datar lalu tegas dan jelas bicaranya dan konsisten.

Yakinkan remaja kalau ada masalah, orangtua siap mendengarkan apa yang dirasakan. Selama ini yang terjadi, anak baru bicara sedikit, orangtua sudah memberi masukan dan nasehat. Padahal ketika anak mulai cerita, orangtua dengarkan saja karena itu artinya setengah persoalannya sudah selesai. Nanti orangtua bisa tanya “bolehkah bunda ngasih masukan?”, “Boleh kah ayah ngasih pandangan?”. Orangtua harus kasih pandangan A, pandangan B jadi anak belajar untuk berpikir, memilih sebelum memutuskan mana yang mau diambil.

Remaja itu butuh sekali banyak inspirasi bukan nasihat. Yang diharapkan dari anak adalah perubahan perilaku atau perilakunya menjadi baik. Kadang nasihat itu hanya sampai ke telinga, tapi kalau inspirasi itu jleb masuk ke dalam pikiran dan hati dia, itu akan menjadi motivasi internal buat anak. Berikan saja banyak cerita. Dikasih inspirasi dan cerita, mereka mendengarkan dan menyimak baik-baik, ambil ibrahnya apa, remaja senang sekali dengan banyak inspirasi. Jadi, memberi banyak inspirasi dan siapkan amunisi cerita.

Komunikasi dengan remaja itu harus dialog, sehingga terjadi tukar pikiran dan terbangun trust. Ketika orangtua percaya, maka orangtua akan tahu pikiran dan perasaan anak itu apa, dan sebaliknya anak juga trust dengan orangtua, pikiran dan pandangan orangtuanya apa sehingga terjadi rasa percaya. Karena banyak anak suka tidak interest sama orangtuanya karena dia tidak trust dengan orangtuanya dan orangtuanya tidak trust dengan dia. Jadi kedepankan dialog.

Beri kesempatan anak, beri kepercayaan anak untuk dia tahu kapan boleh ngegas dan kapan harus ngerem. Sebenarnya anak remaja ingin sekali cerita sama orangtuanya tentang apa yang mereka rasakan, sama halnya pada saat mereka masih anak-anak, pulang ke rumah mau cerita dengan orangtuanya.

Remaja juga ingin tahu banyak hal sebenarnya, dengan banyak bertanya dengan orangtuanya. Sayangnya, orangtua merasa belum waktunya anak untuk tahu, atau merasa belum boleh atau bahkan mulai curiga dengan anak remaja. Jadi, sebenarnya apa yang remaja rasakan, mereka ingin ceritakan ke orangtua. apa yang remaja alami sebenarnya ingin disampaikan ke orangtua. Apa yang mereka ingin ketahui sebenarnya ingin mereka tanyakan ke orangtua. Dan apa yang remaja inginkan sebenarnya mereka mau diskusikan dengan orangtua. Tinggal bagaimana orangtua, apakah siap untuk mendengarkan, untuk menyimak, untuk menerima, kemudian memberikan ruang untuk mereka berdiskusi dengan kita.

Sumber : Nur Firdaus. Keluarga LIKE Langkah kita. Menjadi Orangtua Asyuk bagi Remaja. 13 Maret 2020

loading...
Share

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*