Gejala Kecemasan Akut

gejala kecemasan akut

Mungkin ada yang pernah mengalami perasaan selalu merasa resah. Banyak pikiran negatif yang hadir seperti perasaan lupa mematikan keran, mengunci pintu, lupa mematikan kompor dan lain-lain?

Jika kebiasaan ini berulang sampai butuh memakan waktu lama untuk menyelesaikan sesuatu (karena perasaan lupa) maka anda mengalami gejala kecemasan akut atau obsessive compulsive Disorder (OCD).

Kecemasan akut adalah penyakit yang menyebabkan seseorang memiliki keinginan (obsesi) dan dorongan untuk mengulang-ulang perilaku tertentu (kompulsif) berulang kali. Kadang ia tahu bahwa obsesi dan kompulsi nya tidak masuk akal, tetapi anehnya tidak bisa mengendalikannya. Kalau tidak melakukan dorongan itu, dia akan merasa gelisah dan cemas.

OCD bisa membuat kehidupan pribadi, sosial, pekerjaan ataupun pendidikan menjadi RUMIT. Berdasarkan penelitian para ahli menunjukkan kemungkinan penyebab OCD adalah adanya masalah pada pengiriman informasi pada bagian otak yang satu dengan bagian otak lainnya. Hal ini di picu oleh adanya STRESS yang berat. Masalah juga datang jika jumlah serotonin atau zat kimia yang ada dalam otak kurang dari jumlah normal. Dorongan muncul terus di kepala Anda sampai menyebabkan kecemasan dan rasa TAKUT. Takut kotor, terkontaminasi kuman ataupun infeksi. Ketakutan pasangan kecelakaan. Takut membahayakan diri sendiri atau pasangan.

Serotonin merupakan zat penghantar saraf yang berpengaruh terhadap munculnya perasaan nyaman dan optimis, relaksasi, perasaan bugar, kemampuan memfokuskan konsentrasi dan perhatian, dorongan untuk makan, dll. Namun reaksi tersebut sangat bergantung pada konsentrasi serotonin. Kadar serotonin berlebihan justru dapat menimbulkan perasaan cape dan malas. Sebaliknya jika rendah justru dapat mengakibatkan perasaan tertekan, susah tidur, sulit konsentrasi. Gejala tersebut sering teramati dengan munculnya gangguan kardiovaskuler seperti dada berdebar-bedar, sesak nafas, gangguan makan, gangguan tidur.

Kadar setoronin cukup dengan mengkonsumsi makanan yang kaya karbohidrat seperti nasi, ubi-ubian, pasta, kentang, serta sayur-sayuran yang berserat tinggi terutama sayuran hijau dan polong-polongan.

Biasanya pecandu alkohol, serotoninya rendah makanya rentan cemas. Biblioterapis bisa menganjurkan klien OCD rutin tahajud. Seorang doktor ahli saraf asal Amerika tertarik memeluk Islam setelah ia melakukan kajian saraf. Ia mengatakan beberapa urat saraf di otak manusia tidak dimasuki oleh darah.

Setiap orang otak manusia yang cukup untuk bekerja secara normal. Setelah melakukan penelitian, mereka menemukan bahwa tidak ada urat saraf di dalam otak yang ada ketika seseorang melakukan sholat yaitu kompilasi sujud.

Sujud mengaktifkan, menyoroti dan mengalirkan hak pineal. Kelenjar pineal adalah jendral bagi hormon-hormon lain yang menstabilkan dan memadu organ dalam berbagai proses fisiologis. Proses sholat ini mengalami kegiatan-kegiatan pada sistem saraf pusat, kegiatan penggerak, siklus bangun dan temperatur.

Kelenjar pineal juga memproduksi beberapa neurotransmitter, termasuk serotonin, dopamine dan melatonin yang semuanya bertanggung jawab atas keseimbangan otak.

Serotonin mengatur suasana hati, seperti juga endorfin, rasa-rasa sakit dopamine menghasilkan temperatur dan kreativitas yang menambah tingkat energi, kesiagaan dan kemampuan mental. Melatonin membedakan aliran tidur dan paling banyak diproduksi di hari-hari puncaknya pukul 02.00 dinihari di waktu sholat tahajud.

Gejala kompulsi ditunjukkan dengan adanya perilaku yang dilakukan secara berulang-ulang untuk menghilangkan gejala obsesi di atas. Misalnya mencuci tangan terus menerus untuk menghilangkan kotor, kuman atau infeksi. Berdoa secara terus menerus yang diakibatkan oleh kecemasan yang berlebihan. Melakukan hal-hal yang aneh atau diluar kewajaran. Mengulang sesuatu hingga merasa sempurna meski tidak akan pernah terasa sempurna.

Biblioterapi untuk OCD :

  1. Dengan membaca tentang gejala seperti saat ini, itu langkah pertama mengisi pengetahuan (kognitif)
  2. Biblioterapis membantu klien OD untuk menuangkan segala kekhawatiran dan membimbingnya mengatasi satu persatu, mencatat apakah masalah tersebut masuk akal atau tidak. Ketahui pemicu sebelumnya (apa yang terjadi) supaya mudah mengidentifikasi pemicu kecemasannya sebenarnya apa
  3. Ajak bicara bagian diri (selftalk) bisa dibantu biblioterapis. Ketika klien OCD menantang ketakutannya, mereka akan lebih terbuka untuk mencari strategi pemikiran yang baru.
  4. Ajak klien OCD nrimo. Kadang menerima menjadi cara simpel atasi kecemasan. Jangan menyangkalnya. Terima saja kecemasan itu.
  5. Rasakan dan lepaskan! Saran saya biblioterapis masuk pada tahap membimbing klien OCD untuk menulis. Apa yang ditulis kecemasan/ketakutan itu.
  6. Ajak klien OCD untuk selalu mencatat apa yang sudah dia lakukan. Misal cuci tangan catat. Sudah berapa kali cuci tangan. Lalu turunkan intensitasnya. Dari 7 kali sampai hanya bisa 1 kali.
  7. Terapi gelang karet. Simpan karet gelang di kanan. Lalu pindahkan ke kiri setiap setelah melakukan sesuatu (yang biasa ingin diulang-ulang) mungkin ini sedikit aneh. Tapi sangat efekti ketika pengalaman saya melakukan tawaf agar tidak lupa dan was-was sudah berapa kali keliling. Ini juga efektif untuk klien OCD.

OCD sebenarnya mirip seperti orang pelupa. Namun OCD lebih kepada kecemasan berlebihan. Orang pelupa tapi tidak ada gejala OCD yaa saat lupa akan biasa saja, tidak cemas berlebihan. Menurut penelitian, OCD dipengaruhi lingkungan terutama pola suh. Jika anggota keluarga terutama orangtua memiliki tingkat kecemasan tinggi, anaknya bisa berpotensi mengalami demikian. Ingat iklan “berani kotor itu baik?” Nah, ini fenomena orangtua yang overprotective terhadap masa eksplorasi anak. OCD banyak dialami anak-anak, remaja di titik usia 18-19 tahun dan juga dewasa.

Sumber : Bunda Susan (Susanti Agustina) untuk biblioterapi tematik. Selasa, 23 Oktober 2018

loading...
Share

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*