Syndrom Penipu Para Perfeksionis

syndrom penipu para pereksionis

Pernahkah kamu terpaksa harus bekerja lebih keras dibanding yang lain (melebihi jam kerja) karena tuntutan pekerjaan ? Apakah kamu merasa stress ketika tidak bekerja dan menemukan waktu jeda untuk berleha-leha? Sudahkah kamu membiarkan hobi mu terkubur dikorbankan untuk bekerja ? Apakah kamu merasa seperti belum benar-benar mendapatkan gelar mu (meskipun banyak gelar dan prestasi) sehingga kamu merasa ditekan untuk bekerja lebih keras dan lebih lama daripada orang-orang disekitar kamu untuk membuktikan nilai mu? Itu artinya kamu sedang mengalami syndrom penipu.

Syndrom adalah seperangkat tanda-tanda medis maupun mental dan gejala yang berhubungan satu sama lain dan sering dengan penyakit tertentu atau gangguan sikap dan perilaku. Jadi meski tidak menetap menjadi jati diri, dia tetap berpotensi melahirkan syndrom penipu.

Syndrom penipu ini menjangkiti mereka yang perfeksionis, superman/woman, genius, individualist dan bahkan ahli. Betapa tangguhnya mereka di tempat kerja, bukti kefasihan kualifikasi akademis/intelektual nyata ada, gelar, promosi/karir yang mengesankan, TAPI bagian dirinya tidak dapat menginternalisasi dan menerima kesuksesan mereka sendiri. Why and how come ?

Apa penyebab perasaan-perasaan negatif pada diri sendiri itu muncul ?

  1. perfeksionis, menetapkan tujuan yang terlalu tinggi untuk diri mereka sendiri dan ketika mereka gagal mencapai tujuan, mereka mengalami keraguan diri.
  2. Fenomena superman/woman mereka paling menonjol dan loyal diantara rekan kerja nyata, mereka sering mendorong diri mereka untuk bekerja lebih keras dan lebih sulit untuk diukur. Tetapi ini hanyalah penutup palsu atas ketidaknyamanan mereka. Dan beban kerja yang berlebihan dapat membahayakan tidak hanya kesehatan mental mereka sendiri tetapi juga hubungan mereka dengan orang lain.
  3. Mereka yang genius dari lahir. Orang-orang yang berjuang dengan syndrom ini, yang juga “jenius” alami, menilai keberhasilan berdasarkan kemampuan mereka kontradiktif dari usaha mereka. Dengan kata lain, kalau mereka gagal dan musti bekerja keras untuk sukses mereka merasa menipu diri mereka sendiri dengan label genius yang diberikan lingkungan kepadanya
  4. Menjadi mandiri, dan menolak bantuan untuk tujuan pembuktian diri “tak usah dibantu, saya mampu!”
  5. Sangat takut terpapar sebagai yang tidak berpengalaman atau tidak menguasai sesuatu. Misal nilai TOEFL mereka 680, tapi saat diajak ngobrol tidak sesuai atau kurang fasih. Nah syndrom penipu ini muncul dalam diri sebagai “ah, saya membohongi diri sendiri. saya ternyata tidak mampu. saya menipu diri saya dengan kertas hasil TOEFL ini, saya memang tidak sanggup”.

Lalu bagaimana menanggulangi syndrom penipu ini ?

  1. Dukungan sosial di tempat kerja. Persahabatan yang berkualitas tinggi di kantor bisa mengurangi rasa keterasingan yang diciptakan syndrom ini
  2. Buat jurnal yang merekam kesuksesan. Maksudnya untuk menguatkan bagian diri yang terpapar syndrom ini supaya yakin bahwa ketrampilan dan keahlian kamu itu milik kamu sendiri bukan hanya keberuntungan
  3. Belajar dari orang lain. Cari sosok yang menjadi figur otoritas. Orang yang dikagumi, bagaimana figur menangani dan mencapai kesuksesan, waktu lagi terjadi kekacauan cari tahu alasannya, tanya strategi apa yang digunakan untuk kembali di jalur.
  4. Ambil penyemangat. bisa keluarga, pasangan, anak, sahabat atau komunitas
  5. Ubah kritik batin menjadi lebih produktif
  6. Miliki rasa kasian pada diri sendiri. Mudahkan urusan diri, latih kesadaran diri bahwa anda bisa melewatinya, karena hampir setiap orang yang menghadapi tantangan besar meRASA seperti itu

Jika merasa keterpaksaan itu hadir karena ingin menunjukkan eksistensi di hadapan atasan maka itu kepalsuan yang dimaksud “sindrom penipu”. Pecinta kerja yang tidak setia benar-benar kecanduan pada validasi/pengakuan yang datang dari bekerja bukan pada pekerjaan itu sendiri.

Perasaan “kurang bersyukur” dengan pencapaian diri pun termasuk impostor syndrom (syndrom penipu) ini. Hal ini dipicu oleh perfeksionis tadi “aku merasa jenius, berhasil melewati setiap tantangan. tapi kok aku di posisi ini. aku harusnya lebih dari ini!” ini salah satu pemicu syndrom ini. Terlebih jika kata-kata itu keluar dari eksternal. Dan untuk validasi/pengakuan eksternal kita jadi menipu.

Mulai latih diri Anda untuk membelok dari validasi eksternal (ingin diakui lingkungan). Tidak ada yang harus memiliki lebih banyak kekuatan untuk membuat Anda merasa nyaman dengan diri sendiri daripada Anda -bahkan atasan Anda saat mereka memberi stempel “good job” atau acc pada proyek kerja Anda.

Disisi lain, belajarlah untuk menerima kritik konstruktif (membangun) dengan serius, bukan secara pribadi. karena tipe superman/woman ini agak sensitif dengan kritik.

Ketika Anda menjadi lebih terbiasa dengan validasi internal (bagian diri Anda) dan mampu memelihara kepercayaan diri yang menyatakan bahwa Anda kompeten dan terampil, Anda akan dapat mengurangi ritme untuk mengukur pekerjaan yang pantas anda kerjakan.

Bagaimana mengidentifikasi dan MELEPASkannya ? Bisa dijawab sama bagian diri kita beberapa pertanyaan berikut :

  1. Apakah anda memiliki rekam jejak untuk mendapatkan “nilai A” atau “gold stars” dalam segala hal yang Anda lakukan?
  2. Apakahh anda sering diberi tahu baha sejak kanak-kanak Anda adalah “orang pintar” dalam keluarga atau kelompok sebaya Anda ?
  3. Apakah Anda tidak menyukai gagasan memiliki seorang mentor karena Anda dapat menangani hal-hal sendiri ?
  4. Ketika Anda dihadapkan dengan kemunduran, apakah kepercayaan diri Anda jatuh karena tidak melakukan dengan baik menimbulkan perasaan malu ?
  5. Apakah Anda sering menghindari tantangan karena sangat tidak nyaman untuk mencoba sesuatu yang tidak Anda kuasai ?

Untuk melepas syndrom ini, coba lihat diri Anda dengan apapun yang sedang dijalani, yang ada dihadapan, on going. Mencapai hal-hal hebat melibatkan pembelajaran seumur hidup dan pengembangan ketrampilan (berlaku untuk semua orang, bahkan orang yang paling percaya diri). Daripada menghukum diri sendiri ketika Anda tidak mencapai standar yang sangat tinggi, identifikasi perilaku spesifik yang dapat diubah yang dapat Anda tingkatkan seiring waktu. Nikmati prosesnya.

Misalnya, jika Anda ingin memiliki lebih banyak pengaruh di kantor, jauh lebih produktif untuk fokus mengasah ketrampilan presentasi Anda daripada berjanji untuk berbicara dalam rapat sebagai sesuatu yang sebenarnya anda tidak pandai/kompeten.

Sumber : Bunda Susan (Susanti Agustina). Biblioterapi tematik. 18 September 2018

loading...
Share

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*