Al Quddus. Alloh Maha Suci

Di dalam Al Qur’an kata Al Quddus seringkali diletakkan setelah nama Alloh Al Malik. Mengapa demikian? Karena banyak Malik (Penguasa) seringkali dengan kekuasaannya, dia merusak dan menghancurkan karena hatinya tidak bersih, hatinya kotor. Tetapi Alloh Al Quddus adalah Alloh yang berkuasa, Alloh yang Maha Raja tetapi Alloh yang Raja, Kerajaan Alloh yang Maha Suci tidak merusak.

Ketika Ratu Balqis kedatangan Nabi Sulaiman karena Nabi Sulaiman mengancamnya agar dia segera beriman. Apa kata Ratu Balqis di dalam Al Qur’an? Ratu Balqis mengatakan dalam Al Qur’an “Sesungguhnya Raja itu ketika memasuki sebuah Negara lain, dia menjajah ke negara lain, biasanya dia akan menghancurkan kerajaan itu dan akan menjadikan penduduk-penduduknya yang tadinya mulia menjadi hina. Tetapi Alloh Al Malik, tetapi Dia Al Quddus. Dia penguasa yang tidak sewenang-wenang karena Dia adalah Al Quddus. Sehingga dari sini kita tahu makna Quddus artinya murni, bersih.

Para ulama mengatakan Quddus terdiri dari tiga yaitu indah, benar, baik. Banyak orang melihat orang melakukan kebenaran tetapi dengan cara-cara yang tidak baik. Akhirnya hilanglah ke Quddusan agama ini. Banyak orang yang melakukan sesuatu indah tetapi keindahan itu tidak benar akhirnya merusak ke quddusan. Tetapi kesucian adalah benar, indah dan baik. Dia tidak ada kekurangan. Dia sempurna saking Maha sempurnaNya, kita tidak kuasa bicara tentang kesempurnaan Alloh. Alloh Maha Quddus, Alloh Maha Sempurna, tidak ada kekurangan sedikitpun pada Alloh.

Apakah ketika kita merasa suci itu justru tidak bertentangan? Semakin suci kita semakin merasa kotor kita. Lihat, bila tempat itu bersih biasanya ada kotoran sedikit akan merasa. Tetapi jika tempatnya kotor seringkali tidak berasa kalau itu kotor. Tanda bahwa kita sudah suci adalah kita merasa masih kotor.

Apakah kita ingin menjadi orang yang suci? Mau tahu siapa orang yang suci itu? Bagaimana mengaplikasikan nama Alloh Al Quddus dalam kehidupan kita? Kisah ini diambil dari kitabnya Imam Al Ghazali. Terdengar disuatu tempat ada pohon yang disembah oleh manusia. Mendengar ada pohon yang di agungkan, ada seorang kiai yang marah luar biasa. Kata kiai “ini adalah kemusyrikan yang tidak bisa diampuni. Ini harus segera saya hilangkan”. Lalu dengan gagah, sang kiai mengambil kapak nya. Ketika dia mau menebang pohon yang disembah oleh manusia itu, tiba-tiba di cegat oleh setan dari bangsa jin yang telah berubah wujud menjadi manusia. Kata setan dari bangsa jin ini “wahai pak kiai mau kemana engkau?”. Kata Kiai “Aku ingin menebang pohon yang telah membuat orang musyrik menyembah selain Alloh”. Setan berkata “sebelum engkau menebang pohon itu hadapi dulu diriku baru engkau bisa menebang pohon itu”. Pak Kiai langsung pasang jurus. Baru sekali tonjok, setan dari bangsa jin ini langsung terkapar tak berdaya. Tapi walaupun sudah kalah, setan tetap berpikir merayu bagaimana supaya pak kiai terjerumus. Kata setan “ya saya mengakui kalah deh. Daripada pak kiai menebang pohon itu, nanti kalau di tebang, orang tetap akan menyembah pohon lebih baik pak kiai menerima tawaran saya saja”. Kata pak Kiai “Apa tawarannya?”. Kata setan “tiap hari Pak Kiai akan saya kasih uang sekian ribu dolar. Nanti setiap bangun tidur, lihat dibawah bantal”. Akhirnya Pak Kiai tergoda juga. Kenapa? Karena kan pak Kiai kalau ada uang bisa bangun pesantren, bisa ngasih anak yatim. Setelah bangun tidur, pak Kiai melihat ada uang dibawah bantalnya. Hari kedua, ketiga ada juga. Eh pada hari keempat tidak ada. Esoknya tidak ada. Akhirnya pak Kiai membawa kapaknya ingin menebang pohon yang tadi karena setan telah ingkar janji. Tiba-tiba setan dari bangsa jin mencegat lagi “mau kemana pak Kiai”. Pak Kiai menjawab “Engkau mengingkari janji. Sekarang aku tidak akan berhenti lagi untuk segera menebang pohon itu”. Setan mengatakan “Kalau begitu langkahi dulu mayat saya”. Akhirnya Pak Kiai pasang jurus. Baru ditiup oleh setan, pak Kiai langsung terkapar. Belum di apa-apain. Pak Kiai bertanya “wahai jin, waktu pertama saya menonjokmu, kau langsung terkapar. Tetapi mengapa kali ini kau baru meniup, aku sudah terkapar”. Jin menjawab “kemarin waktu engkau pertama kali ingin menebang pohon itu, engkau menebang karena Alloh. Maka engkau adalah orang yang kuat dan tidak ada satupun yang dapat mengalahkanmu. Tetapi hari ini, engkau menebang pohonnya karena uang. Makanya engkau menjadi orang yang terlemah maka dengan tiupan saja engkau sudah kalah olehku”. Maka orang yang Quddus adalah orang yang dihatinya tidak ada apa-apa kecuali keingiannya kepada Alloh. Tidak ada kehendak kecuali Alloh. Dan inilah orang-orang yang kuat. Sehingga ini yang dibutuhkan di negeri ini, pemimpin yang kuat.

“Sesungguhnya wahai kalian manusia ada pelajaran pada binatang ternak”. Apa pelajarannya? “Aku kasih minum kalian dari binatang ternak tadi. Aku keluarkan antara kotoran dan darah. Yaitu susu yang murni. Sangat menyegarkan bagi orang yang meminumnya”. Pernahkah kita mendapatkan Alloh memberikan susu yang bercampur dengan darah? Tidak. Alloh tidak pernah memberikan susu yang bercampur dengan darah atau kotoran. Lalu mengapa kita persembahkan amal kita, kita campur dengan riya, iri, rakus? Bagaimana kita mau suci? Kita tidak gila pujian, kita tidak gila harta, kita tidak gila jabatan. Kita justru tergila-gila dengan Alloh.

Ada tiga orang yang melakukan ibadah besar dan semuanya dimasukkan ke neraka. Pertama, orang yang mati berperang di jalan Alloh. Kedua, orang yang mati sedang dalam berinfak di jalan Alloh. Ketiga, Kiai meninggal sedang dalam berdakwah. Lalu di tanya oleh Alloh yang mati di jalan Alloh ”Apa yang kau lakukan selama ini?” Lalu dia berkata “aku selalu berperang ketika ada perintah perang dan aku mati dalam peperangan karena Engkau ya Alloh”. Lalu Alloh berkata “Bohong. Engkau mati di dalam peperangan supaya dikatakan pemberani”. Lalu diseretlah dia ke dalam api neraka. Lalu dipanggil yang dermawan dan Alloh bertanya “untuk apa kau gunakan harta?” Lalu dia menjawab “tidak ada yang meminta, yang meminta butuh uang kuberikan semata karena Engkau”. Alloh pun berkata “Bohong. Engkau melakukan itu karena engkau ingin dianggap dermawan”.

Yang penting bagi Alloh bukanlah apa yang engkau kerjakan. Tetapi yang penting bagi Alloh mengapa engkau mengerjakan itu. Apakah untukKu atau untuk yang lain? Sudahkah kita melakukan pekerjaan karena Alloh?

Sumber : Ust. Jumharuddin, Lc. Asmaul Husna TV one. 6 Juli 2012

loading...
Share

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*