Alloh Al Wahid & Al Ahad

Nama Al Ahad biasa ditemukan dalam surat Al Ikhlas sementara Al Wahid bisa didapat di surat Ibrahim ayat 48. Apa perbedaan antara Ahad dan Wahid? Kalau Wahid artinya tidak ada sekutu bagi Alloh. Sedangkan Al Ahad artinya tidak ada yang sepadan atau serupa denganNya. Al Wahid dan Al Ahad bertemu pada satu hakekat besar yaitu La illaha illallah. Nama Alloh Al Ahad & Al Wahid ditujukan pertama kepada orang yang tidak mengimani keEsaan Alloh. kedua, ditujukan kepada kita yang sudah mengakui Alloh yang Maha Esa.

Kepada orang-orang yang tidak mengEsakan Alloh, kita ingin membuka logika mereka, akal mereka bahwa tidak mungkin di alam semesta ini kecuali hanya ada satu Tuhan. Tidak ada sekutu bagiNya. Tidak ada yang serupa denganNya. Dan cara kita menyampaikan kepada mereka adalah pertama dengan dalil-dalil rasional. Kemudian baru kita ambil ayat-ayat Al Qur’an.

Dalil yang pertama adalah bahwa tidak ada satupun makhluk Alloh yang sama persis. Kenapa makhluk itu tidak ada yang persis sama? Untuk menunjukkan bahwa dia diciptakan dari Alloh yang tidak ada yang Menyamai maka semua ciptaan Alloh seakan berkata La illaha illallah. Contoh sidik jari kita tidak ada yang sama. Di dalam Al Qur’an surat Al Qiyamah “Apakah manusia mengira Kami tidak mampu mengumpulkan tulang belulang mereka yang telah hancur bahkan kami mampu untuk menyusun kembali ujung jari”. Begitu banyaknya jumlah manusia, Alloh tidak bingung.

Dalil kedua ditujukan kepada orang yang menyekutukan Alloh, menyembah selain Alloh. Pola penciptaan yang terjadi di alam semesta ini adalah satu pola. Pola yang berdiri diatas pernikahan laki-laki dan perempuan. Dan ini berlaku pada semua makhluk. Sperma laki-laki di rahim perempuan, terciptalah janin manusia. Setetes air hujan dari langit jatuh di rahim bumi maka tumbuhlah tumbuh-tumbuhan. Kenapa sama polanya? Karena yang menciptakan adalah Dzat yang sama karena itu mereka semuanya memiliki pola penciptaan yang sama. Inilah makna firman Alloh di dalam Al Qur’an “hendaklah manusia memperhatikan dari apa dia diciptakan”. KataNya “kalau engkau tidak mau memikirkan dari apa engkau diciptakan, tidakkah seharusnya engkau berpikir kemana engkau akan pergi. Lalu engkau tidak berpikir dari mana asalmu, tidakkah engkau seharusnya berpikir kemana engkau akan pergi”. Hendaklah manusia memikirkan dari apa dia diciptakan, “diciptakan dari air yang terpancar yang keluar antara tulang punggung dan tulang dada”. Ayat Al Qur’an berbicara tentang air hujan turun ke rahim bumi tumbuhlah tumbuh-tumbuhan “demi langit yang mengandung hujan dan demi bumi yang mengandung tumbuh-tumbuhan”. Allahuakbar.

Ternyata janin manusia di minggu-minggu pertama hampir sama dengan bentuk janin minggu-minggu pertama binatang. Selain itu anatomi makhluk lain itu bukan sama tetapi susunannya terdiri dari unsur-unsur yang sama. Mari kita perhatikan. Manusia memiliki mata, hewan memiliki mata. Manusia punya mulut, hewan juga punya mulut. Kenapa bisa sama? Karena diciptakan oleh Dzat yang sama.

Alloh menetapkan satu hukum yang berlaku bagi seluruh alam semesta yaitu hukum bertahapnya sesuatu. Segala sesuatu dimulai kecil kemudian membesar sampai puncak kebesarannya kemudian melemah dan mati. Coba perhatikan matahari. Matahari ketika terbit kecil lama-lama membesar sampai puncak panasnya matahari di tengah-tengah hari kemudian matahari meredup hingga terbenam. Bulan, ketika awal kemunculannya membesar kemudian mengecil. Karena itu, dalam surat Yasin, Alloh berfirman “Dan telah Kami tetapkan peredaran bagi bulan sehingga setelah ia sampai keperedarannya yang terakhir, kembalilah ia seperti bentuk tanda yang tua”. Alloh berfirman dalam surat Ar Rum ayat 54 “Alloh menciptakan manusia dari fase lemah kemudian menjadikan fase lemah tadi menjadi kuat kemudian setelah menjadi fase yang kuat lalu Alloh jadikan kembali lemah dan beruban”. Makanya seorang anak muda menasehati yang tua “wahai orang yang sudah tua, bukankah buah itu kalau sudah tua tidak ada waktu yang ditunggunya kecuali kapan di petik”. Lalu yang tua ingin menasehati yang muda “wahai anak muda, pernahkah engkau melihat tanaman Yang masih muda musnah ditimpa hama-hama. Bukankah hama suka dengan yang hijau-hijau”.

Dalam surat Yasin “siapa yang Kami tambah umur, Kami kurangi potensi fisiknya” maka fisik itu tidak tumbuh maka jika fisik kita ini tidak lagi mengalami pertumbuhan, yang bisa tumbuh adalah spiritual karena tidak ada orang di dunia ini yang anggota tubuhnya setengah jadi. Semua yang lahir di muka bumi ini, lahir tubuhnya tidak setengah jadi tapi 100 % jadi. Sesungguhnya dia tidak mengalami pertumbuhan, yang mengalami pertumbuhan adalah dimensi-dimensi spiritual.

Hukum yang sama ini ingin mengatakan kepada kita bahwa penciptanya sama. Sebagaimana sesuatu itu muncul secara pelan-pelan kemudian besar, kepergianpun tidak langsung tiba-tiba. Orang sakit itu tidak ada yang tiba-tiba, gempa tiba-tiba itu tidak ada, gunung meletus tiba-tiba itu tidak ada karena hukumnya seperti itu. Dalam surat At Takwir “Demi waktu subuh, apabila setelah menyingisng, demi malam bila ia telah larut” artinya agar kita bersiap-siap dalam hidup ini bahwa kita sesungguhnya sedang tenggelam, tiba waktu ashar, kita harus siap-siap pergi.

Ingatlah ketika Alloh memberikan ngantuk kepada kalian semua sebagai bentuk rasa aman. Jadi bersyukurlah bila mengantuk karena bila mengantuk dan tidur artinya sehat. Tapi kalau sudah tidak bisa tidur, itu harus ke rumah sakit. Karena bila tidak bisa tidur maka tidak enak makan juga.

Ada hukum tetap membuktikan keEsaan Alloh. Karena bila ada Tuhan selain Alloh maka hukum itu akan dibuat oleh pesaing Alloh untuk berubah. Maka jika ada Tuhan selain Alloh maka hukum tetap itu tidak akan berlaku. Dan inilah yang digunakan oleh Nabi Ibrahim untuk membantah Namrud ketika Namrud membantah Nabi Ibrahim karena Namrud diberikan kekuasaan, kekayaan lalu dia dengan sombong ingin mendebat Nabi Ibrahim tentang TuhanNya. Dalam Surat Al Baqarah ayat 258, Alloh berfirman “Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang TuhanNya Alloh karena Alloh telah memberikan kepada orang itu pemerintahan”. Ketika Ibrahim mengatakan “Tuhanku bisa menghidupkan dan mematikan”. Apa kata Namrud, dia berkata “Aku juga bisa”. Bagaimana Namrud menghidupkan dan mematikan? “Rakyat sini. Algojo, matikan. Sudah mau dipancung dan mengenai leher rakyat, Namrud berkata jangan, hidupkan”. Padahal dalam Al Qur’an, mematikan dan membunuh berbeda redaksinya. Tidak ada yang bisa mati kecuali dengan izin Alloh. Tapi bila membunuh, bisa. Bedanya apa mematikan dengan membunuh? Kalau mematikan, rusak tidak rusak bisa mati. Tapi kalau membunuh, rusak dulu rumahnya sehingga penghuninya tidak betah tinggal disitu. Nabi Ibrahim berkata “Sesungguhnya Alloh menerbitkan matahari dari timur maka terbitkanlah dia dari barat”.

Keharmonisan di alam semesta. Ada keterpaduan untuk melakukan satu misi yang sama. Contoh hujan. Hujan terjadi karena adanya aktivitas yang terpadu antara satu makhluk Alloh yang satu dengan makhluk yang lain. Yaitu matahari, laut, awan, udara. Jarak matahari dengan bumi, pas. Tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh. Kalau terlalu dekat, air di bumi bisa mendidih hingga menguap. Kalau terlalu jauh, air tidak menguap dan membeku. Lautan lebih luas daripada daratan. Keharmonisan terjadi karena diciptakan oleh Alloh yang Satu.

Kebutuhan kita dengan persediaan di alam semesta, itu seimbang. Makanya jumlah air dari awal diciptakan sampai sekarang, itu sama. Hanya saja pindah-pindah. Karena itu kalau Alloh ingin memiskinkan suatu negara cukup saja tidak perlu dikasih hujan.

Tidak cukup hanya berkata La illaha illallah tapi engkau harus menjadikan seluruh aktivitasmu hanya untuk Alloh. Tauhid itu ketika kepentingan dengan kebenaran itu tidak menyatu. Bilal seperti itu. Iman tidak bisa disembunyikan. Waktu Nabi Mi’raj, Nabi mencium aroma yang sangat harum. Lalu bertanya pada Jibril, “Wahai Jibril, aroma apakah ini? Belum pernah aku mencium aroma sebaik ini”. Jibril berkata “ini aroma Masitoh dan keluarganya. Aroma ketauhidan”. Cukup engkau puaskan satu wajah yaitu Alloh maka Alloh urus wajah-wajah yang lain.

Sumber : Ust. Jumharuddin, Lc. Al Wahid & Al Ahad. Masjid Al Hakim BSD 3 Januari 2015.

loading...
Share

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*