Lima Alasan Perempuan Wajib Dukung Rokok Harus Mahal

Perempuan dukung rokok harga mahal

Rokok seperti dua sisi mata uang yang memiliki dua sisi bertentangan. Satu sisi, rokok memberikan efek tidak baik bagi kesehatan. Namun di sisi lain menjadi roda penggerak ekonomi bagi para petani tembakau. Walaupun begitu, pemerintah berkewajiban melindungi kepentingan masa depan generasi penerus dari ancaman tembakau berupa rokok. Jum’at, 11 Mei 2018 lalu, program Radio ruang publik KBR mengadakan acara talkshow berjudul “perempuan dukung rokok harus mahal”. Perempuan menjadi target karena perempuan berperan penting dalam menentukan anggaran keluarga. Acara yang diselenggarakan di Hotel Pangeran Pekanbaru ini bertujuan sebagai pengingat bagi seluruh masyarakat bahwa saat ini harga rokok di Indonesia tergolong murah dan membuat konsumsi rokok makin tak terkendali termasuk bagi anak-anak dan keluarga miskin.

Harga rokok yang murah akan membuat anak-anak sekolah mudah untuk membelinya dan anak jadi memiliki kesempatan untuk mencoba terus. Nina Samidi selaku Communication manager Komisi Nasional Pengendalian tembakau menjelaskan “WHO menemukan bahwa harga rokok di Indonesia termasuk yang termurah di dunia. Selain itu, harga per batang rokok dari beberapa merk rokok juga yang paling murah. Hingga kini masih ditemukan rokok dengan harga 5000/bungkus di Indonesia. Di Asia pun, Indonesia menjadi negara ke tiga dengan harga rokok paling murah dan sangat terjangkau untuk mendapatkannya. Di Singapore harga rokok mencapai 120.000/bungkus dan Australia bisa sampai 200.000/bungkus. Semua negara menaikkan harga dengan sangat signifikan terutama Thailand yaitu Tahun 2014 harga rokok dibawah 15 dollar/bungkus dan saat ini menjadi 20 dollar/bungkus. Ternyata kenaikan harga rokok di Thailand berdampak pada menurunnya angka prevalensi perokok.

Karakter Perokok Indonesia di Tahun 2013 menyebutkan bahwa perokok didominasi oleh laki-laki (56,7 %) dibandingkan perempuan (1,9 %); bertempat tinggal di pedesaan (30,4 %) dibandingkan perkotaan (28,3 %), memiliki pekerjaan sebagai petani/nelayan/buruh sebesar 54,4 %, berpendidikan tamat SMA (35,3 %) dan berada di golongan terbawah (32,3 %). Jumlah perokok di Indonesia terus meningkat terutama pada usia anak-anak dan remaja usia 15-19 tahun. Diantara remaja usia 13-15 tahun terdapat 20 % perokok yang mana 41 % diantaranya remaja laki-laki dan 3,5 % remaja perempuan. Jumlah tersebut bahkan meningkat dua kali lipat di tahun 2016 sebesar 23,1 % dari sebelumnya 12,7 % di tahun 1995. Sehingga tidak heran jika Indonesia menjadi negara nomor tiga dengan jumlah perokok terbanyak di dunia setelah China dan India.

Menurut Hasil surei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2016 menjelaskan bahwa pengeluaran per kapita menurut kelompok makanan, rokok menjadi urutan nomor tiga (13,80 %) yang mana posisi pertama ditempati oleh makanan & minuman jadi (29,05 %) dan padi-padian (14,02 %). Dana untuk konsumsi produk rokok 3,2 kali pengeluaran telur dan susu; 4,2 kali dari pengeluaran pembelian daging. Dana untuk konsumsi produk rokok 4,4 kali dari biaya pendidikan dan 3,3 kali lebih besar dari biaya kesehatan. Hal ini akan berdampak pada kualitas SDM di masa yang akan datang. Berdasar data, rumah tangga miskin di Indonesia lebih memilih membeli rokok dibanding membeli makanan bergizi (Kompas, 2017).

Dari data yang disajikan diatas maka ada lima alasan perempuan wajib dukung rokok harus mahal, diantaranya

Pertama. berapapun harga rokok, petani tembakau tetap tidak pernah sejahtera karena rokok. Tidak ada dalam sejarah bahwa harga rokok yang tinggi di dunia lalu petani nya langsung gulung tikar. Hal ini karena penurunan prevalensi perokok sangat lambat. Jadi walaupun harga rokok naik hingga 500 ribu/bungkus maka tidak mungkin petani akan gulung tikar. Secara logika, apapun produknya kalau di jual mahal maka produsen akan sangat senang karena harganya tinggi dan seharusnya hidup akan lebih sejahtera. Tapi kenyataannya tidak dengan rokok. Petani tembakau di Indonesia tidak ada hubungan dengan rokok. Saat ini, impor tembakau untuk rokok di Indonesia sudah 60 % karena tanah Indonesia tidak cocok untuk menanam tembakau. Tembakau hanya ditanam pada satu musim yaitu musim kemarau. Sedangkan kemarau di Indonesia masih labil. Bila daun tembakau yang ditanam terkena air hujan maka pasti akan rusak dan harga akan sangat jatuh di pabrik rokok Indonesia. Akibatnya pabrik rokok akan membeli tembakau dari petani tembakau dengan harga murah. Pabrik rokok sebagai produsen pasti menginginkan barang yang bagus tapi murah sehingga yang dilakukan adalah dengan cara impor. Jadi petani tembakau tidak akan sejahtera walaupun rokok laku keras di pasaran.

Kedua, iklan rokok akan semakin merajalela. Beberapa tahun terakhir, kota-kota yang memasang iklan rokok terlihat menampilkan harga rokoknya baik per bungkus maupun per batangnya. Menurut penelitian, iklan rokok kebanyakan berada di sekitar sekolah. Harapannya dengan adanya iklan rokok di sekitar sekolah dan mencantumkan harga rokok yang murah maka akan memancing anak untuk melihat bahwa harga rokok murah sekali dan terjangkau sesuai uang sakunya. Inilah taktik baru yang dilakukan industri rokok untuk memperpanjang pelanggan mereka karena pelanggan usia tua sudah tidak bisa dibujuk lagi karena sudah kecanduan. Sehingga dibutuhkan pelanggan baru melalui iklan dan harga yang harus murah. Karena itu, di industi apapun hanya ada satu industri yang tidak ingin naik harga produknya yaitu industri rokok. Industri rokok selalu mempertahankan harga produknya agar murah. Padahal logikanya jika sebuah industri ingin mendapatkan untung banyak maka harga akan terus dinaikkan. Berbeda dengan industri rokok yang makin murah maka makin bagus karena agar terjangkau oleh anak-anak dan keluarga miskin yang mana jumlahnya masih sangat besar di Indonesia.

Ketiga, toko penjual rokok tidak akan bangkrut karena tidak menjual rokok. Komnas pengendalian tembakau pernah memberikan penghargaan kepada seorang ibu pengusaha di Jawa Tengah yang memiliki jaringan ritel. Beliau benar-benar tidak menjual rokok. Awalnya beliau menjual. Namun, beliau merasa ada beban moral karena telah merusak kesehatan orang dengan menjual rokok. Akhirnya beliau berhenti menjual rokok dan sama sekali tidak ada kekurangan pendapatan. Sampai saat ini belum terbukti sama sekali bahwa bila penjualan rokok dihentikan oleh penjual rokok maka toko tersebut menjadi bangkrut. Ada juga di daerah Bogor, seorang Bapak yang menganalisa dengan berjualan sembako dan rokok ternyata walaupun rokok dibeli orang setiap hari dan terlihat laku sekali tapi ternyata yang sering ini tidak lebih besar dari yang lain. Jadi sebenarnya keuntungan berjualan rokok juga sangat kecil untuk pedagang dibandingkan berjualan yang lain. Bapak di Bogor ini pun akhirnya berhenti menjual rokok di toko nya. Jadi untuk para pedagang jangan khawatir bila tidak menjual rokok lagi. Atau Anda ingin mencoba menganalisis sendiri seperti yang dilakukan Bapak di Bogor.

Keempat, menaikkan harga rokok dapat menurunkan tingkat kematian karena kanker paru-paru dan stroke. Data The Tobacco Atlas (2015) menyebutkan lebih dari 217.400 penduduk Indonesia meninggal dunia akibat merokok. Menurut Pusat Kajian Ekonomi & Kebijakan Kesehatan (PKEKK) FKM UI menjelaskan bahwa harga rokok murah akan membahayakan kelompok miskin dan generasi muda karena akan terus mengkonsumsi rokok. Perokok yang terus merokok akan terkena stroke dan menjadi beban keluarga, kehilangan pita suara akibat kanker tenggorokan, kanker paru, kehilangan anggota tubuh lain. Dalam satu hari jika orang merokok 10 batang dapat menurunkan tingkat harapan hidup rata-rata 5 tahun karena umumnya rokok dapat 20 kali meningkatkan risiko kanker paru-paru (Kania, 2017). Akibat dari konsumsi produk tembakau dalam jumlah tinggi dapat menyebabkan tingginya biaya kesehatan yang di tanggung negara. Silakan dipikirkan penyakit apa yang akan menimpamu jika merokok ? Maka berhentilah merokok sekarang juga.

Kelima, membantu pemerintah terlepas dari ketergantungan cukai rokok. Pada tahun 2015, cukai rokok menjadi penyumbang terbesar pendapatan negara sebesar Rp 139,5 triliun. Sehingga hampir 96 % penerimaan cukai didominasi dari sektor produksi tembakau. Undang-undang Cukai yang mengatur cukai rokok di Indonesia, bagi yang terus menerus merokok maka keuntungnya akan panjang. Rokok sengaja dimurahkan kemudian anak-anak membeli dan kecanduan sehingga tidak bisa berhenti maka mereka akan untung selama umur hidup anak tersebut.

Mahalnya harga rokok adalah salah satu upaya penekanan konsumsi rokok. Hal ini diperkuat dengan penelitian yang dilakukan di Kuningan Jawa Barat pada Mei-Juni 2017 bahwa kenaikan harga rokok dapat menurunkan konsumsi rokok pada remaja di wilayah tersebut rata-rata dua batang per harinya. Hal ini karena remaja pada umumnya mempunyai uang terbatas. Makin mahal harga rokok, daya beli remaja semakin menurun dan akhirnya menurunkan konsumsi perokok pada remaja (Hariadi, 2018).

Kini saatnya kita membantu anak-anak Indonesia & keluarga miskin untuk berhenti membeli rokok. Mari Dukung Rokok Harus Mahal dengan mengunjungi www.change.org/rokokharusmahal lalu klik tandatangan petisi sebagai bentuk dorongan bagi pemerintah terutama Presiden dan Menteri Keuangan agar menaikkan harga rokok.

#rokokharusmahal #rokok50ribu

Sumber :

Riset Kesehatan Dasar. 2013. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia

Kania, Dewi. 2017. 217.400 Penduduk Indonesia meninggal dunia akibat merokok

Hariadi. 2018. Riset dari Kuningan : Harga rokok naik Manjur Turunkan Konsumsi Rokok Remaja. theconversation.com

Nina Samidi. 2018. Talkshow “Perempuan Dukung Rokok harus Mahal”. 11 Mei 2018.

loading...
Share

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*