26 Maret 1987 Lahir Rindu Mayang Puspita

Makam Almh. Rindu Mayang Puspita

Rindu Mayang Puspita. Dia lahir di Bandung, 26 Maret 1987. Dia salah satu teman masa kecilku. Kami seperti langit dan bumi. Aku yang pendiam dan tak punya banyak teman. Berbeda dengan Rindu yang sangat periang dan punya banyak teman. Begitupun dengan takdir Alloh untuk kami berdua jauh berbeda. Alloh sangat sayang padanya hingga meminta Malaikat Izrail untuk mencabut nyawanya pada 4 Januari 2009 di RS Karyadi Semarang.

Seandainya dia masih hidup sampai sekarang, mungkin saat ini dia telah menikah dan punya anak. Dan mungkin dia akan lupa padaku karena sibuk mengurus keluarganya. Itulah khayalan ku bila dia masih hidup.

Alloh memiliki rencana dan kepergiannya mengajarkanku beberapa hal. Jangan tiru kelakuan ku ini pada temanku, Almh Rindu. Aku bukanlah teman baik Almh Rindu. Aku yang berubah sejak kuliah menjadi religius jadi melupakan dan tidak ingin berteman dengan teman yang tidak sevisi termasuk almh. rindu. Kami kuliah di kota yang sama yaitu Semarang. Hanya saja dia tinggal di Pleburan dan aku tinggal di Tembalang. Bagaimanapun aku dan Almh Rindu tidak dekat lagi sejak kuliah, Alloh malah dekatkan aku dengannya di saat akhir hidupnya.

Masih teringat jelas dibenakku, Sabtu malam (malam minggu) sekitar pukul 22.00 WIB, papa ku menelpon ku bilang kalau rindu kecelakaan dan sekarang di IGD RS Karyadi. Papa ku meminta ku untuk segera ke RS Karyadi untuk melihat kondisinya. Karena pak Ramli dan Bu Ani (orangtua Rindu) sedang menuju Semarang. Aku pun langsung meluncur ke RS Karyadi. Selama perjalanan, aku gemetar tak karuan dan mengucap tolong selamatkan rindu ya Rabb. Karena papa ku memberitahu bahwa rindu dalam kondisi kritis.

Sesampainya aku di IGD RS Karyadi, Rindu ada di pojok ruangan IGD. Dia penuh darah dan badannya penuh dengan alat-alat kedokteran. Dokter mengatakan bahwa rindu mengalami gagar otak berat. Dan yang membuatku semakin tak karuan, dokter mengatakan banyak berdoa. Allohu akbar.

Rindu mengalami kecelakaan tunggal motor. Dia membonceng temannya. Dia sudah menggunakan helm namun karena pasang helmnya gak di klik jadi saat jatuh, helmnya terlepas. dan kepalanya terbentur aspal. Motornya menghindari lubang jalan yang dalam dan terpental beberapa meter. Itu cerita yang ku dapat dari temannya yang menyetir. Benar-benar diluar dugaan. Yang nyetir tidak apa-apa hanya luka ringan tapi rindu yang bonceng malah terluka parah. Inilah rencanaNya. Hanya Dia yang tahu mana yang terbaik untuk hambaNya.

Sekitar jam 02.00 WIB, Kakak dan ayahnya Rindu datang. Rindu masih di IGD. Dia terbaring tak sadarkan diri. Aku terus membacakan ayat qur’an di telinganya. Berharap keajaiban Alloh datang. Ayahnya memintaku pulang untuk istirahat tapi aku belum bisa meninggalkan temanku ini sendiri. Aku ingin melihatnya sadar. Mas Yosa (Kakak Rindu) bilang supaya aku pulang nanti sakit dan akan dikabari kalau sudah sadar. Aku masih belum mau beranjak pergi. Dan akhirnya papa ku telpon, minta aku pulang dengan mengatakan tidur dulu sebentar nanti ke RS lagi pagi nanti. Aku pun menurut. Jam 04.00 WIB aku pun pulang. Nyampe kost, langsung adzan. Dan aku pun shalat subuh. Setelah shalat Subuh, aku tidur dan aku pasang alarm jam 06.00 WIB bangun biar bisa pagi ke RS Karyadi.

Rencana Alloh berkata lain, sekitar jam 05.15 Rindu meninggal. Aku di bangunkan mba evi “is, rindu meninggal”. Bercampur aduk rasanya. Seharusnya aku tidak pulang ke kost. Seharusnya aku masih menemaninya. Aku langsung cuci muka dan meluncur ke RS Karyadi. Saat aku sampai di RS Karyadi, Rindu sedang di mandikan. Pak Ramli dan mas Yosa sedang mengurus mobil jenazah yang membawa dari Semarang ke Tegal.

Aku ikut menemani Rindu ke Tegal di dalam mobil jenazah. Di dalam mobil, ada Mas Yosa di depan sebelah sopir. Dibelakang, ada Aswin, Arin. Perjalanan menuju Tegal alhamdulillah lancar. Tidak ada macet atau hambatan apapun.

Sesampai di Tegal, begitu banyak orang yang datang melayat. Rindu adalah orang baik. Dia sahabat terbaik saya. Begitu banyak teman-teman yang datang untuknya. Bahkan kepergiaannya menjadi ajang reuni karena di hari itulah semua teman-teman berkumpul dan berjumpa setelah sekian lama dari lulus sekolah tidak bertemu.

Dan yang membuatku bahagia adalah meninggalnya masih masuk 40 hari dia baru pulang Umroh. Pertengahan Desember, Rindu pergi Umroh beserta Pak Ramli dan Bu Ani. Semoga Alloh melapangkan kuburnya. Mengampuni segala dosa-dosanya. Dan menempatkannya di tempat yang terindah yaitu Surga Firdaus.

Aku memang bukan teman yang baik untuknya. Dan mungkin aku bukan nama yang dia ingat bila dia masih hidup saat ini. Maafkan aku, sahabatku. Maaf.. Maaf.. tidak mengajakmu ke kebaikan. Maaf meninggalkanmu saat aku menjadi lebih baik. Maaf.. Maaf.. Walaupun begitu banyak salahku padamu, kau tetap rela dan mengijinkanku untuk menemanimu di saat kau kritis dan mengantarkanmu bertemu mama mu.

loading...
Share

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*