Kenapa harus Aku yang Patah Hati

Pernah merasakan patah hati ? Kalau kamu sudah pernah merasakannya berarti hidupmu luar biasa. Tapi kalau kamu belum pernah merasakannya, hidupmu gak seru banget. Cobalah rasakan patah hati setidaknya sekali dalam hidup. Biar hati lebih kuat dan kebal. Rasanya nyesek banget apalagi kalau patah hati nya dengan yang lebih muda usia nya. Hanya bisa berbisik dalam hati pada Rabb “Kenapa harus aku yang patah hati ? Kenapa tidak dia saja yang patah hati, duhai Rabb ku?”

Lalu, apa yang membuatku patah hati ?? Aku tidak tahu apakah aku pantas untuk jadi dosen. Aku pun tak tahu dosen macam apa aku ini di mata mahasiswa-mahasiswa ku. Rasanya gimana gitu saat tahu mahasiswa akademik tidak menggubris apapun yang ku sampaikan. Haruskah aku diam saja dan tidak peduli lagi dengan mahasiswa?

Setiap dosen memiliki caranya tersendiri menghadapi mahasiswa. Aku tidak ingin menjadi dosen yang “menjaga jarak” dengan mahasiswa. Oleh karenanya, Aku membuat grup whatsapp (WA) untuk pembimbing akademik dan pembimbing skripsi. Harapannya komunikasi antara Aku dan mahasiswa bisa terus terjalin dan dekat. Selain itu, antar mahasiswa pembimbing akademik atau pembimbing skripsi ku bisa akrab dan saling memahami satu sama lain.

Saat ini, di kampus sedang masa ujian tengah semester. mahasiswa bisa mengambil kartu ujian dengan syarat-syarat tertentu. Aku terus mengecek tiap malam siapa mahasiswa yang belum penuhi syarat-syarat untuk cepat diurus. Dan tibalah pada hari ujian. Ada dua mahasiswa yang belum dapat kartu ujian karena belum lengkap syaratnya. Alhasil, dua mahasiswa ku ini tidak ikut ujian hari pertama. Di grup WA, Aku minta segera urus besok mumpung baru hari pertama ujian. Dua mahasiswa ku ini bilang tidak ikut ujian karena sudah terlambat. Aku heran saja dengan statement tersebut. Aku terus ngechat di grup WA kalau masih bisa urus syarat karena aku sudah tanya pada bagian keuangan dan bagian akademik. Tapi ternyata chat saya tidak di respon sama sekali. Saya tanya lagi, tidak di tanggapi juga di grup WA padahal chat saya sudah di read. Kenapa harus aku yang patah hati.

Alhamdulillah, baru saja saya di informasikan bahwa pagi ini 2 mahasiswa saya ikut ujian karena sudah lengkap syarat-syaratnya. walaupun mereka tidak ikut ujian hari pertama dan kedua, tapi setidaknya mereka benar-benar melakukan apa yang saya sampaikan. Bahagia nya saya. Terimakasih Alloh SWT.

Habis kesedihan, akan ada kebahagian. Habis kemarin sedih karena dibuat patah hati oleh mahasiswa yang tidak menggubris chat WA saya di grup. Hari ini, mahasiswa saya langsung action tanpa banyak kata. Ini baru anak bimbingan saya. Bahagianya saya menjadi pembimbing akademik kalian.

Hikmah yang bisa saya ambil dari patah hati yang sesaat ini adalah saya harus terus “cerewet” dengan mahasiswa pembimbing akademik saya dan tidak menyerah untuk menyemangati mereka. Semoga saya bisa mendampingi mahasiswa-mahasiswa saya ini hingga wisuda tanpa putus di tengah jalan. Karena amanah dari orang tua mereka begitu berat untuk saya pikul.

Teruntuk mahasiswa-mahasiswa saya, jangan menyerah. Karena orang tua kalian di rumah tidak pernah menyerah untuk berdoa dan membiayai kuliah kalian.

 Kamu ingin memiliki website pribadi dengan harga yang murah, daftar disini

loading...
Share

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*