Terapi Keluarga

Terapi keluarga

Apa kasus yang seringkali dihadapi di keluarga Anda ? Komunikasi, anak, uang, rekreasi, kerabat, perselingkungan, rumah tangga, kekerasan fisik, atau masalah lainnya. Biasanya untuk penyakit, masalah family therapy juga bisa dikaitkan dengan penyakit keluarga. Kalau penyakit biasa di diagnosa melalui pemeriksaan organ, jaringan, cairan tubuh dan seluruh tubuh. Kalau masalah mental ? Melalui curhat biasanya. Dalam konteks keluarga, bagaimana proses terjadinya penyakit yang ternyata masalah utama adalah komunikasi.

Komunikasi diekspresikan melalui pesan non verbal-gestur, ekspresi wajah, tekanan/intonasi suara, kadang juga ruang fisik antara komunikate/komunikan.

Kadang DIAM itu bisa menjadi pesan dahsyat alias “powerful message”, seperti ketika salah satu pasangan perkawinan, sakit hati dan marah, diam seribu bahasa, puasa bicara satu sama lain untuk beberapa periode waktu. Kita juga sering mendapati dalam sistem cara pandang masing-masing ternyata berkontribusi untuk perilaku yang ditampilkan. Interaksi mencerminkan pengaruh mereka satu sama lain. “Saya begini karena dia begitu”. Buruknya komunikasi adalah problem terbesar.

Kehidupan keluarga yang bercerai “broken home” seringkali melahirkan konflik-konflik baru di luar konteks. Orangtua yang berada dalam situasi ini tentu berat saat harus menjalankan tugas pengasuhan dan pendidikan tanpa partner. Misalnya seorang ibu yang single parent, secara tidak langsung menempatkan dirinya sebagai ibu sekaligus ayah secara bersamaan. Bisa dibayangkan bebannya? Tugas ayah jadi dijalankan dalam satu peran bersamaan. Ayah sosok yang bagi anak perempuan itu menjadi “cinta pertamanya”, ternyata tidak diperolehnya dalam keluarga. Kondisi ini menjadikan seorang ibu figur dominan, bahkan POLA komunikasi ibu seringkali terkesan “egois” memaksakan kehendak, dst. Sampai melarang anaknya untuk berkomunikasi dengan ayahnya, melarang anaknya bertemu ayahnya, dst. Dalam konteks ini perlu diselesaikan dulu “faktor pemicunya” mengapa anak tak diberi pilihan. Apakah karena orangtua khawatir ? Apa yang dikhawatirkan ? Apa yang ada dibenaknya ? Prediksi apa ? Persepsi apa ? Maka alih-alih anak merasa tidak diberi pilihan, lebih baik mencari tahu alasan dibalik sikapnya yang dianggap egois tersebut.

Komunikasi dibangun dengan dialogis. Jika cara ini belum berhasil karena emosional, maka diam sejenak lebih baik untuk meredakan suasana. Setelah itu pikirkan pilihan solusi untuk membuatnya mengerti. Bagi anak remaja atau dewasa, konteks mengambil keputusan dan bertanggungjawab atas keputusan yang diambil bisa meningkatkan kemampuan pemecahan masalah. Semua menjadi bahan pembelajaran. Kunci komunikasi anak adalah berani menjelaskan dan mengungkapkan. Tapi seimbang juga dengan mendengarkan dan menyimak. Saling memahami dan merasakan satu sama lain.

Terapi keluarga berusaha menyelesaikan konflik di akar masalahnya bukan di permukaan. Figur otoritas dalam keluarga diperlukan. Kadang figur bisa lahir dari yang muda loh karena kebijaksanaannya dan teladannya. Tapi juga lebih baik orang yang dituakan. Konflik komunikasi dalam keluarga biasanya disifati oleh POLA ASUH di keluarga. Bahkan pada kasus dilapangan, Bunda Susan menangani seorang ibu yang menurunkan trauma masa lalunya kepada anaknya bahkan cucunya hingga semua terkena dampaknya.

Marah yang cenderung diam tidak langsung mengekspresikannya biasanya menjadi kepribadian secara berpola. Jika demikian, perlu dilatih agar tidak berbahaya. Penting untuk memilih sikap yang paling membuat nyaman. Kalau diam membuat nyaman, menyendiri membuat nyaman, jangan dipaksa untuk ekspresif. Pun sebaliknya ada yang kalau marah itu banting barang, dst. Pelampiasan makan, pergi, setelah pulang sudah baik saja seperti tidak ada apa-apa. Ada baiknya treatment secara berkala dengan mengajaknya bicara. Adik kakak bisa satu karakter jika mendapat pola asuh yang sama bukan turunan melainkan kepada pembiasaan sejak kecil. Kalau dari kecil dilatih ekspresif, mengkomunikasikan terbuka, musyawarah, maka besarnya nanti akan sama. Apa yang dibiasakan di keluarga dibawa ke masyarakat dan saat kelak berkeluarga juga. Putus rantai itu dengan pola asuh komunikasi dialogis yang dibangun.

Komunikasi dengan anak usia SMP sekitar 11-15 tahun sedang masuk dalam tahap komunikasi analitis. Anak SMP, sudah tidak berada di usia kanak-kanak lagi. Ia mengalami usia transisi dari kanak-kanak ke remaja yaitu mulai antara usia 10-15 tahun. Dalam usia ini, remaja sudah memiliki fungsi analitis yang lebih matang.

Fungsi analitis ini sedikit banyak dipengaruhi buku bacaannya, film, musik atau rangsangan lingkungan, pertemanan, pokoknya apapun yang diinderanya selama fase perkembangannya. Anak SMP tidak suka didikte melainkan lebih suka didengarkan, baik keluhannya maupun cerita-ceritanya yang seru (menurut versinya). Jadi kita perlu mendengarkannya lebih banyak apa yang mereka katakan daripada menyela atau mendikte, apalagi melabeli/menghakiminya. Kedua, kita harus menerima dia apa adanya. Menerima semua ceritanya dengan apa adanya, dan kalau soal belajar cukup libatkan dia secara “dewasa”. Ketiga, perlu tulus jadi sahabat. Pendekatan tulus dan bicara dengan bahasa yang sejuk dan menenangkan. Diajak ngobrol santai, mulai dari hobinya, minatnya, atau tren apa yang sedang diikutinya. Akan lebih baik bila kita mengetahui lebih jauh dunia mereka ketimbang memberi penilaian apalagi negatif. Bangun kepercayaan kita terhadapnya.

Bertanya adalah fungsinya rasa ingin tahu dan daya berpikir anak. Bertanya itu bentuk kecerdasan yang kompleks karena untuk bertanya secara kritis perlu menghubungkan fakta, fenomena, pengalaman, referensi dan logika pertanyaan. Bertanya adalah berfilsafat. Banyak setelah kuliah jadi malu bertanya. Ini kematian berpikir. Alloh saja bertanya pada hambanya dalam qur’an. Bertanya adalah jalan peroleh hikmah. Jadi mengapa kita jemu ditanya? Karena banyak faktor misalnya sedang fokus pada hal lain, sehingga merasa terganggu dengan pertanyaan.

Kita membutuhkan terapi keluarga untuk memutus mata rantai stres, agresi, depresi dan kerusakan tatanan masyarakat.

Sumber : Bunda Susan (Susanti Agustina). Biblioterapi Tematik 6 April 2018

loading...
Share

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*