Ridho dengan Kejadian, Ikhlas dengan Perbuatan

Tanda bahwa kita sudah menuju ke tujuan Alloh adalah membawa hidup kita pada 3 keadaan/tanda yaitu tenang, bahagia dan damai. Bila ada orang sakit datang kerumah kita, bagaimana perasaan kita? Apakah itu membawa berkah atau masalah? Bila ia tenang, tenangnya bersama Alloh. Ia akan tenang dalam semua keadaan. Bahagia bersama sesama. Bahagia bersama sesama. Kalau ia bahagia, ia tidak bisa bahagia sendiri. Kebahagiaan kita ada ketika membahagiakan orang lain. Semangatnya adalah bahagia bersama orang lain.

Damai bukan dengan orang lain melainkan ia bahagia bila damai dengan diri sendiri. Bila ia tidak bisa damai dengan orang lain artinya ia belum berdamai dengan dirinya sendiri. Wujudnya adalah pelit. Orang yang kikir adalah orang yang belum berdamai dengan dirinya sendiri. Alloh tidak akan membiarkanmu sendirian. Untuk bisa mencapai tujuan hidup, maka ta’qilun (memikirkan ayat Alloh dan mengelolanya menuju tujuan yang diinginkan). Tidak ada satupun dalam hidup kita yang tidak ada ayat-ayat Alloh.

Hidup manusia tidak pernah lepas dari dua yaitu kejadian dan perbuatan. Kejadian bisa manis dan pahit. Perbuatan ada yang baik dan buruk karena itu harus ikhlas dan ridho. Ridho dengan kejadian dan ikhlas dengan perbuatan. Ikhlas dalam perbuatan buruk adalah meninggalkannya. Dalam perbuatan pasti disitu ada kejadian. Kejadian adalah ladang amal bagi hidup kita. Kita mengalami kejadian pahit, itu adzab atau ujian? Itu bukan tugas kita. Apapun kejadian dalam hidup kita adalah ladang amal bbaik manis atau pahit. Ladang amal yang paling subur ada pada kejadian pahit. Maka sikap terhadap kejadian pahit. Kita harus ridho karena pengangkat derajat kita bukan adzab atau ujian.

Sumber : Ust. Syatori dalam tadabbur Surah An Nur ayat 61 di Masjid Nurul Ashri Yogyakarta tanggal 24 September 2018

loading...
Share

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*