Membangun Rasa Saling Percaya pada Klien

Membangun Rasa Saling Percaya pada Klien

Bagi seorang marketer, pondasi utama kesuksesan mengikat klien adalah dengan cara membangun rasa saling percaya. Namun membangun rasa percaya itu perlu ada ilmu dan caranya. Kita semua tahu bahwa setiap hubungan antar manusia selayaknya diawali dengan rasa saling percaya dan nyaman.

Begitu pula dengan hubungan antara seorang marketer dan kliennya, ataupun seorang penjual dengan prospeknya. Apabila seorang klien atau prospek merasa nyaman dan percaya tentu komunikasi akan berjalan dengan lebih lancar.

Banyak sekali manfaat yang akan kita dapatkan apabila kita berhasil membangun rasa percaya dan rasa aman kepada klien atau pun prospek kita. Dengan kita membangun rasa saling percaya, kita akan lebih mudah menemui klien. Sebab apabila seseorang klien sudah merasa nyaman dengan kita, maka dia akan lebih mudah mengijinkan kita untuk menemuinya secara langsung. Tidak hanya itu, dia akan mengijinkan kita untuk mengajukan berbagai pertanyaan lebih mendalam.

Klien akan merasa lebih terbuka terhadap berbagai pertanyaan yang kita ajukan jika kita sudah membangun rasa percaya dan nyaman sejak awal. Rasa saling percaya juga dapat memperlancar proses penawaran maupun penjualan yang pada saat itu kita terapkan. Hingga tahap penjualan kepada klien tersebut.

Klien tentu akan merasa lebih diyakinkan atau mudah menerima saran maupun rekomendasi dari kita dan hampir tidak terjadi adanya penolakan yang berarti.

Sehingga pada intinya, dengan adanya rasa saling percaya dan nyaman, siklus bisnis, penjualan, penawaran dengan klien kita akan terus berputar dan semakin berkembang.

Hal apa saja yang bisa membangun rasa peraya yang positif, tulus, dan menguntungkan bagi kedua belah pihak ?

Pertama, mengajukan pertanyaan yang berkualitas. Maksud dari pertanyaan yang berkualitas disini adalah jenis pertanyaan yang tidak hanya menanyakan informasi sekedarnya, namun untuk menggali lebih dalam lagi kebutuhan klien kita. Informasi tersebut bukan hanya bermanfaat untuk kita, namun juga membuat klien kita menyadarinya.

Untuk membuat pertanyaan yang berkualitas ada 3 langkahnya :

Pertama, pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa kita peduli dan ingin mengetahui apa yang penting bagi klien kita.

Kedua, pertanyaan tersebut membuat klien menceritakan harapan dan ketakutannya

Ketiga, pertanyaan tersebut akan memberikan jawaban apakah kita benar-benar bisa menyediakan solusi untuk mereka. Contohnya program seperti apa yang ibu/bapak butuhkan sehingga masalah yang saat ini terjadi bisa selesai dan dengan selesainya masalah tersebut ibu/bapak akan menemukan lompatan kehidupan yang jauh lebih baik, dalam karier, prestasi, dl. kemudian klien cerita. Ketika klien bercerita kita tangkap dan kebutuhan dan ketakutannya. Kemudian berikan solusi. Pada tahap ini kita belum melakukan penjualan namun hanya memberikan saran dan melakukan pendekatan secara mendalam.

Kedua, banyak mendengar.

Biasanya kita terlalu bersemangat untuk bicara dan mempresentasikan apa yang kita miliki kepada prospek atau maupun klien. Padahal akan lebih banyak kepercayaan yang kita dapat bila kita lebih banyak mendengarkan. Ajukanlah pertanyaan yang bagus seperti tips yang pertama dan dengarkanlah jawaban mereka. Dengan beitu, kita betul-betul memahami apa yang mereka utarakan itu.

Teknik mendengarkan yang efektif adalah memotivasi, menerima, memberi perhatian dan menunjukkan keterlibatan emosioal, mengatakan kembali dengan bahasa yang berbeda, menyimpulkan.

Ketiga yaitu fokus pada harapan dan keinginan mereka. Ini adalah cara yang sangat sederhana dalam membangun rasa percaya. Kita perlu membiasakan diri untuk membicarakan tentang apa yang mereka harapkan atau inginkan dari kita. dan kita fokus memberikan solusi.

Keempat yaitu sampaikan nilai yang kita bisa berikan dengan percaya diri. Kuncinya adalah sampaikan dengan percaya diri dan jelas. Pastikan kita bisa menyampaikan solusi yang berisi value. Cara pada tahap ini menyampaikan kepada klien dengan percaya diri. Karena jika kita tidak percaya diri maka kita akan menularkan ketidakpercayaan diri itu kepada klien.

Kelima yaitu jangan terlalu berasumsi. Menurut riset, rata-rata hanya 10 % dari apa yang kita pikirkan dan komunikasikan adalah fakta sedangkan 90 % nya adalah imajinasi atau asumsi saja. Maka tentulah kebanyakan apa yang kita pikirkan dan katakan belum tentu benar. Lalu bagaimana ? solusinya adalah dengan selalu memverifikasi. Misalkan bila seorang klien atau prospek mengatakan sesuatu yang belum kita pahami dengan jelas, tanyakan ke mereka. Sesekali kita ulangi apa yang dia katakan sehingga mereka bisa mengkoreksi bila ada kekeliruan. Tunjukkan bahwa kita betul-betul ingin mendapatkan informasi yang jelas dari mereka.

Keenam yaitu sesuaikan dengan gaya komunikasi klien. Manusia cenderung merasa nyaman dengan orang yang berkomunikasi dengan cara yang serupa dengan mereka. orang yang gayanya langsung ke pokok pembicaraan akan lebih percaya pada orang yang juga seperti dia. dia akan tidak dengan mudah menyukai orang yang gaya bicara yang bertele-tele misalnya.

Begitu pula sebaliknya, orang yang terbiasa bicara dengan gaya tidak langsung akan tidak nyaman dengan orang yang langsung ke pokok permasalahan. untuk itu, kita perlu lebih fleksibel dalam gaya komunikasi kita hingga bisa menyesuaikan dengan gaya komunikasi prospek atau klien kita.

Caranya sering bertemu dan membangun networking dengan banyak orang dari berbagai profesi. Selain itu, pahami lingkungan tempat mereka berada.

Rasa saling percaya bukanlah hal yang mudah dan tidak dapat dibangun dengan cepat, namun kita pelu melakukannya.

loading...
Share

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*