Larangan Iklan Rokok di Kulon Progo, Yogyakarta

dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K)

Ketika seorang pemimpin daerah memiliki kerisauan yang besar pada keberlangsungan hidup masyarakat maka ia akan bekerja sungguh-sungguh dengan sepenuh hati. Salah satu contoh pemimpin terbaik di Indonesia adalah Bupati Kulon Progo, dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K). Salah satu regulasi yang dibuat yaitu tidak boleh ada baliho rokok, tidak boleh ada promosi rokok maupun sponsor rokok pada semua kegiatan yang diadakan di Kabupaten Kulon Progo. Kebijakan ini bisa dilihat di Peraturan Daerah No 5 Tahun 2014 tentang kawasan tanpa rokok.

Perokok merupakan gangguan dari gangguan jiwa ringan. Menurut Riskesdas 2013, Prevalensi gangguan jiwa berat terbanyak adalah di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Kabupaten Kulon Progo menjadi daerah yang tertinggi untuk gangguan jiwa di Yogyakarta. Sebagai Bupati Kulon Progo, dr. Hasto  Wardoyo, Sp.OG (K) berharap riskesdas 2018 hasilnya bisa turun untuk gangguan jiwa di Kulon Progo. Walaupun kulon progo, jumlah ganguan jiwa tinggi namun untuk usia harapan hidup tertinggi di Yogyakarta sebesar 75,18 tahun.

Di Kulon Progo tidak ada warga yang tidak tercover jaminan kesehatan. Semua yang memiliki BPJS bisa menggunakan BPJS. Untuk orang dengan gangguan jiwa bisa menggunakan Jamkesus (Jaminan Kesehatan Khusus) termasuk difabel. Di Kulon Progo terdapat Jamkesda yang diperuntukkan untuk warga kulon progo yang memiliki KTP dan KK Kulon progo. Jadi warga yang tidak memiliki BPJS atau Jamkesus maka akan ditanggung dengan Jamkesda sehingga saat berobat ke Puskesmas bisa gratis. Gratis ini untuk yang ingin dirawat di kelas III RS. Terdapat Peraturan Bupati bahwa bila kelas III penuh maka bisa naik ke kelas II. Bila kelas II penuh, bisa naik ke kelas I. Tapi tetap dihitung kelas III. Sudah di evaluasi selama 3 tahun lebih dan RS tidak akan rugi. Bupati Kulon progo, dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K) dalam presentasinya terkait kesehatan jiwa di Kulon Progo mengatakan “Masyarakat itu sebenarnya lebih senang dimudahkan daripada di gratiskan”.

Berdasarkan golongan umur, ternyata umur 20 – 40 tahun yang terkena gangguan jiwa. Mungkin dikarenakan stress karena pengangguran dan pekerjaan. Di Kulon Progo, pengangguran berjumlah 3,3 % namun sekarang berubah 1,9 %. Laki-laki cenderung mengalami stress lebih tinggi karena banyak beban kerja pada laki-laki. Sedangkan gangguan seperti gelisah banyak dialami oleh perempuan sehingga yang dipasung lebih banyak perempuan. Tahun 2013, Kulon Progo mengadakan gerakan untuk melepas pasung sebanyak 22 orang.

Beberapa program yang telah dilakukan Kulon Progo untuk menangani gangguan jiwa diantaranya membuat sms gateway untuk 937 kepala dukuh, mendirikan pondok pesantren dengan merawat orang gangguan jiwa sekaligus treatment narkotika di Kalibawang. Di Kulon Progo juga ada paguyuban sehat jiwa bernama pandawa di RS yang kemudian dikembangkan di Puskesmas, kunjungan ke rumah-rumah untuk memonitor pasien risiko di pasung. Hal ini selalu dilakukan karena untuk menuju Kulon Progo bebas Pasung.

Langkah pencegahan agar terhindar dari gangguan jiwa adalah di Kulon progo kini memiliki dua dokter spesialis jiwa meskipun berusia diatas 35 tahun.

Tata kota sangat berhubungan dengan kondisi kejiwaan. Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah bedah rumah tanpa APBD dan APBN jadi hanya gotong royong dari zakat, infak, shodaqoh. 1 rumah sebesar 10 juta. Bedah rumah dilaksanakan setiap hari minggu. Selama 5 tahun jabatan bupati Kulon Progo, dr. Hasto telah membedah rumah sebanyak 1.500 rumah.

Kulon progo memiliki perda larangan hiburan malam kecuali hotel bintang tiga karena banyak anak-anak yang gangguan emosional melakukan dugem dan minum alkohol. Kulon progo juga memiliki kopi lokal agar menjadi bela beli produk kulon progo dan tidak menjadi penonton. Selain itu, di kulon progo ada “AIRKU” buatan PDAM Kulon progo jadi di setiap kegiatan di Kulon progo menggunakan AIRKU.

Menurut dr. Hasto “bila ingin menyelesaikan masalah yang besar harus dengan yang kecil-kecil karena banyak gangguan kesehatan jiwa mewarnai kemiskinan. Bila ingin mengentaskan kemiskinan, maka kesehatan jiwanya harus baik”. Program-program yang ada di daerah hanya mendeliver dari Pusat.

Sumber : dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K). Seminar Kesiapan Pelayanan Primer dalam promosi Kesehatan.  2 Maret 2018

loading...
Share

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*