Anak Pendek Beresiko Obesitas

stunting resiko obesitas

Seminggu ini pemberitaan sedang hangat membahas cucu Presiden Indonesia yang lahir sehari setelah kejadian gerhana matahari total pada 9 Maret 2016 lalu. Ada media yang membuat berita tentang ramalan dibalik hari lahir (kamis wage) cucu pertama pak Jokowi ini. Kata peramal akan jadi pemimpin. Sejatinya, memang kita semua di muka bumi ini adalah pemimpin. Hihi. Tapi bagaimana orang-orang gizi berpendapat tentang cucu Presiden? Dari informasi di media kompas, cucu pak Jokowi memiliki panjang 48,5 cm dengan berat 3,09 kg.

Sebenarnya informasi mengenai panjang dan berat cucu presiden RI ini adalah closing statement dari acara seminar yang saya ikuti hari sabtu lalu. Saya tidak akan ngeh sebenarnya kalau tidak diberitahu. Hehe. Pembicara memberitahukan diakhir acara bukan agar semua peserta seminar ngerasani (membicarakan) cucu pak Jokowi. Melainkan agar bisa dijadikan bahan kajian. Karena pas dengan tema acara seminar yang membahas tema stunting and the future risk of obesity.

Pokja Gizi dalam rangkaian acara ASM 2016 telah berhasil mengadakan seminar 12 Maret 2016 lalu dengan peserta yang luar biasa banyak dan full seat. Ini kedua kalinya saya mengikuti seminar dengan tema stunting. Mungkin terasa aneh karena basic saya yang AKK dan manajemen rumah sakit tapi tertarik dengan stunting. Seminar pertama stunting yang saya ikuti di FKM UNDIP bulan Desember 2015 telah membuat saya aware tentang masalah stunting ini. Hal ini dikarenakan saya sebagai wanita, tante dan calon ibu harus tahu tentang masalah ini.

Acara seminar yang diselenggarakan UGM ini penuh dengan pembicara hebat dari berbagai ranah. Ada lima pembicara seperti Ir. Doddy Izwardy, MA (Kemenkes), dr.Detty Nurdiati,MPH,PhD,Sp.OG; Harry Freitag L,S.Gz,MSc; DR. Indria Laksmi Gamayanti, MSi, Psi; Prof. dr. Madarina Julia,Sp.A(K),MPH,Ph.D dan dr.Endy Paryanto P,MPH,Sp.A(K).

Ternyata stunting di Indonesia, ada 20 provinsi dengan angka balita pendek di atas angka rata-rata nasional. Dan bila dikategorikan stunting menurut WHO, ada 14 provinsi dalam kategori berat (30-39%) dan 15 provinsi kategori serius (>40%).

Stunting adalah gangguan pertumbuhan linear akibat kekurangan gizi kronis. Ditandai dengan tinggi badan kurang dari normal berdasarkan usia dan jenis kelamin. Stunting ini merupakan suatu proses kumulatif yang terjadi sejak kehamilan, masa kanak-kanak dan sepanjang siklus kehidupan terutama dalam 2 tahun pertama kehidupan. Faktor gizi ibu sebelum dan selama kehamilan juga mempengaruhi.

Hal yang penting adalah ternyata tidak ada perbedaan kejadian stunting pada kelompok miskin dengan kelompok kaya. Ini artinya bahwa stunting bisa terjadi pada kelompok mana pun mau itu kaya atau miskin (Riskesda, 2007). Sehingga kemiskinan dan akses pangan tidak selalu menjadi faktor penyebab satu-satunya. Masih banyak penyebab lainnya seperti pola asuh, kejadian penyakit, dll.

Ternyata menurut penelitian yang disampaikan prof.Madarina adalah anak yang dilahirkan kecil bila dirawat antara dengan komprehensif klinik dengan dirawat biasa akan berbeda hasilnya. Anak kecil yang dirawat dengan koprehensif klinik akan lebih sedikit yang pendek atau bisa untuk tinggi.

Pesan penting dari Prof.Madarina adalah hati-hati memberikan intervensi gizi/memberi makan pada anak stunting. Karena jangan-jangan Anda hanya menambah masa lemaknya. Hal yang perlu orangtua ingat adalah anak bisa bertambah berat karena anak bertambah tinggi (penambahan massa tulang dan otot) dan anak bertambah gemuk (penambahan masa lemak).

Pesan penting kedua dari Prof.Madarina adalah tidak semua berat badan yang naik itu karena anak bertambah kurus. Bisa saja karena anak tidak bertambah tinggi. Jangan lupa melihat parameter Tinggi Badan/Umur dan Berat badan/tinggi badan. Bila dia tidak kurus, hati-hati dengan intervensi gizi. Mungkin masalahnya bukan dari segi gizi.

Bersambung…

loading...
Share

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*