Doa Mahasiswa Turut Andil pada RencanaNya

Apa yang akan kau katakan saat ada seseorang yang mengatakan “bahagianya jadi kamu. Selalu senang, tak banyak masalah”. Saya hanya bisa tersenyum dengan prasangka teman saya ini tentang saya. Ini hanya obrolan saya dengan teman saya beberapa hari yang lalu. Dan hari ini Allah SWT menunjukkan sesuatu atas prasangka teman saya itu tentang saya. Allah SWT selalu memberi jawaban dari setiap pertanyaan. Karena “bila kau menyebarkan ilmu maka AKU akan memberikan ilmu yang tak kau ketahui”. Inilah kenapa saya suka menulis. Saya selalu ingin menulis tentang apa yang saya ketahui agar bisa di baca dan saya dapat ilmu baru dariNya. Lanjut..

Akhirnya pengumuman magang dosen baru dari Kemenristek DIKTI telah keluar. Dan saya gagal. Nama saya tak tercantum di urutan 1 hingga 63. Sedih? Pasti. Tapi alhamdulillah tidak berlangsung lama. Hanya beberapa menit saja saya sedih. Saya terus berusaha berprasangka baik padaNya. Dalam hati terus saya ulangi “Ini rencana Allah SWT. Rencana Allah SWT baik”. Dan bukan ais namanya bila tidak berpikir (ais anak thinking dari STIFIN) “kenapa saya tidak lulus”. HP pun berbunyi. WA dari mahasiswa “Ibu, maaf mengganggu. Besok ibu ke kampus tidak? Saya ingin konsul”. Inilah cara Allah SWT menjawab semua pertanyaan saya. Tanpa sadar, Allah SWT ingin memberitahu bahwa alasan saya tidak lulus adalah karena saya yang dibutuhkan banyak orang di Yogyakarta dibandingkan saya memikirkan diri saya menimba ilmu di kota Surabaya. Kampus saya ini lebih membutuhkan saya dibandingkan saya harus mengikuti magang selama setengah tahun di UNAIR.

Saya masih ingat saat sebelum lebaran, saya bilang dengan mahasiswa-mahasiswa bimbingan saya bahwa saya akan pergi setengah tahun. Saya mengatakannya agar semua mahasiswa bimbingan saya bisa cepat menyusun skripsi. Kadang mahasiswa perlu di takuti agar bisa semangat belajar. Perkataan saya ini ternyata mendapat respon beragam dari mahasiswa dengan mengatakan “ibu mau kemana? Kalau ibu pergi, siapa yang bimbing saya? Saya tidak mau ganti pembimbing. Saya mau ibu yang jadi pembimbing saya. Saya akan cepat nulis dan cepat konsul”. Saya senyum-senyum dengan perkataan mahasiswa-mahasiswa bimbingan saya ini. Tidak apa berbohong bilang saya mau pergi asal mahasiswa bisa semangat menyusun skripsi. September, mahasiswa wisuda yang artinya kalau saya diterima magang, saya tidak bisa melihat mahasiswa-mahasiswa saya pakai toga. Mungkin doa mahasiswa turut andil pada rencanaNya. Mungkin doa mahasiswa bimbingan saya membuat Allah SWT tidak izinkan saya lolos magang di UNAIR. Disitu kadang saya merasa bahagia di kelilingi mahasiswa-mahasiswa. Walaupun mereka kadang menggemaskan tapi mahasiswalah salah satu semangat saya untuk terus bermanfaat. Terimakasih mahasiswa-mahasiswa bimbingan saya. Semoga saya bisa membantu kalian meraih gelar sarjana.

Apakah hanya mahasiswa yang tidak ingin saya pergi? Masih ada atasan saya dan staf saya yang sedih bila saya diterima magang. Saat saya mengajukan syarat magang bulan mei lalu, saya begitu semangat tapi ternyata tidak dengan atasan saya dan staf saya. Bahkan saya melihat dengan mata kepala saya sendiri bahwa staf saya meneteskan air mata bilang “nanti gimana kalau bu ais ga ada. Siapa yang ngurus SDM. Saya akan kewalahan mengurus semua pekerjaan ini”. Saya menjadi kepala SDM di kampus ini baru 10 bulan. Baru 10 bulan bekerjasama dengan staf SDM saya ini, namun beliau sampai sebegitunya bila saya diterima magang. Bahkan beliau takut bila saya diterima magang, saya akan diterima kerja di tempat magang dan meninggalkan kampus. Sebenarnya saya pun berpikir, bila saya diterima magang siapa yang semua urusan pegawai dari A-Z. Bahkan akhir-akhir ini saya sedang membantu mengurus teman-teman dosen untuk asesor LKD, SK Inpassing, pengurusan AA, dan serdos. Saya sangat senang dengan amanah sebagai kepala SDM. Entah kenapa bila membantu mewujudkan keinginan teman-teman, saya bahagia. Saya senang mengurus keperluan teman-teman. Semangat berangkat pagi bersamaan dengan datangnya penjaga kampus dan pulang sore bersamaan dengan penjaga kampus lagi.

Magang gagal dan kemarin gagal juga masuk S3 UGM. Allah SWT mungkin ingin saya menikah dulu baru lanjut S3. Dan masih ada mahasiswa bimbingan saya yang tak mungkin ditinggalkan bila saya lulus masuk S3. Inilah prasangka baik saya padaNya. Lalu apakah kegagalan saya ini, lantas saya marah pada Allah SWT? Tidak. Sama sekali tidak. Lalu apakah kegagalan saya ini karena saya punya dosa banyak? Tidak. Sama sekali tidak. Allah SWT sangat sayang saya bahkan melebihi kedua orangtua saya. Allah SWT berhak berlaku apa saja pada saya. Allah SWT, sutradara terbaik untuk saya. Saya hanya aktris yang harus memainkan peran sesuai skenarioNya.

Mungkin inilah kenapa saya terlihat senang dan tidak memiliki masalah. Karena saya sudah menyerahkan semua padaNya. Keyakinan saya padaNya tak bisa di provokasi oleh siapapun. Karena saat saya susah & senang hanya DIA yang ada untuk saya. DIA tak pernah meninggalkan saya. Dan satu lagi, orangtua saya. Saya bersyukur memiliki orangtua yang dahsyat. Orangtua saya memiliki prasangka yang sama dengan saya yaitu rencanaNya baik. Inilah yang membuat saya tenang menjalani hidup karena orangtua selalu mendukung dan tak pernah berhenti berdoa untuk saya.

Semoga sedikit cerita yang saya ungkapkan ini bisa memberikan jalan terang bagi teman-teman yang merasa bahwa orang lain begitu bahagia dibandingkan diri sendiri. Mereka yang terlihat senang lebih suka menceritakan masalahnya pada penciptaNya. Tidak perlu menulis status kesedihan dan derita karena itu sama saja melukai Allah SWT. Orang non muslim akan mengira begitu jahatnya Allah SWT padamu. Jangan lukai Allah SWT dengan menampakkan kesedihan di hadapan banyak orang. Cukup tampakkan kebahagiaan kepada banyak orang. Allah SWT sangat sayang pada hambaNya. Selalu memberikan yang terbaik. Terus berprasangka baik padaNya karena sejatinya Allah SWT ada pada prasangka hambaNya.

loading...
Share

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*