Bedah Buku : Menikah untuk Bahagia

Menikah untuk Bahagia

Bahagia untuk menikah atau menikah untuk bahagia? Buku Menikah untuk bahagia adalah salah satu formula cinta membangun surga di Rumah. Meski bisa juga dibalik “bahagia untuk menikah” yaitu formula rasa menjemput jodoh di dunia dan akhirat. Bahagia akan menjadi magnet positif yang membuat semuanya lebih terasa mudah.

Perhatikan mereka yang sulit menikah, mungkin ada POLA RASA tidak bahagia dalam dirinya, boleh jadi semacam penolakan diri yang terjadi di alam bawah sadarnya. Ada juga POLA perkataan yang tanpa disadari menjadi “doa” yang mengikat dirinya, menjadi ikatan keyakinan alam bawah sadarnya. Bahagia itu ketika kita bisa menerima, merasakan dan melepaskan apa yang Alloh takdirkan untuk kehidupan kita.

Contoh pertama. pernikahan yang tidak saling mengenal karena tidak ingin pacaran. Setelah 11 tahun menikah, masih ada ganjalan di hati ternyata ada kebiasaan suami yang kurang berkenan di hati istri. Berharap bisa berubah di awal pernikahan ternyata 11 tahun tetap seperti dulu. Lalu bagaimana cara agar suami mau berubah ? Jawabannya ada pada halaman 38 hubungan transaksional yaitu bila kita selalu “hitung-hitungan”, bisa dijamin hubungan akan segera kandas di tengah jalan. Salah menganut konsep, bisa-bisa hubungan berantakan. Konsep berdagang kurang cocok dipakai. Yang tepat adalah prinsip pertanian. Anda menanam dulu baru boleh mengharapkan hasil. Prinsip sukses dalam konteks apapun SAMA, kalau suksesnya ingin langgeng (baik bisnis, pernikahan, belajar) kuncinya SELALU MEMBERI LEBIH dari YANG DIHARAPKAN. Bermurah hatilah dalam memberi lalu lihat apa yang akan terjadi.

Contoh kedua. Ada seorang anak korban perceraian atau ditinggal orangtua bekerja. Sehingga menjadi anak susah diatur atau bahkan menjadi cenderung pendiam dan tidak bawel. Lalu bagaimana cara guru memotivasi kembali anak yang seperti ini? Pada halaman 110 yaitu mempertahankan pernikahan demi anak. Meski ini bukan jawaban yang bijak. Ada programming yang buruk selama masa kritis pernikahan jika terus menerus dipertunjukkan di hadapan anak di rumah. Solusinya ada di buku Biblioterapi Pengasuhan halaman 270-275. Anda bisa menjadi guru yang paling memahami kondisinya, mungkin saat sang anak mau lebih terbuka dengan Anda karena ada penerimaan dari lingkungan. Anak yang cari perhatian biasanya kurang terisi tangki cintanya. Sama seperti orang dewasa yang suka cari perhatian di media sosial.

Contoh ketiga. Bagaimana menghadapi pasangan yang posesif? Banyak melarang mengikuti berbagai aktivitas? Pada halaman 131 “Nyaman-Trust-Install”, kebanyakan orang ingin langsung masuk ke proses mengubah (install), makanya yang terjadi malah penolakan. Secara halus/frontal. Mungkin ada sebagian orang yang risih jika dilarang-larang ada juga malah yang sebaliknya, berharap pasangannya ada kalanya melarang. Rasa nyaman ini sangat personal. Tapi saking cueknya dibebaskan jadi bablas. Mungkinkah ada pemicu sehingga pasangan bersikap demikian? Kalau tidak ada, alias memang bawaan seperti itu maka untuk bisa membangun trust, ciptakan rasa nyaman lebih dulu. Masing-masing perlu menciptakannya. Kemamuan membangun komunikasi sangat vital, sengaja lah cari tahu apa yang bisa membuat diri kita dan pasangan merasa nyaman pun sebaliknya. Sampaikan saja bahwa Anda kurang nyaman banyak dilarang, yakinkan dan buktikan dengan menjawab segala macam ketakutannya.

Contoh keempat. Bagaimana cara mempertahankan cinta dalam rumah tangga supaya tidak luntus walaupun usia pernikahan sudah lama? Jawabannya ada pada halaman 156. Kencan menciptakan romantis versi kita dan pasangan. Dan di bagian share holder meeting, pujian tidak pernah gagal dalam memberikan rasa nyaman, berbicara melalui mata kita, tatapan teduh bukan payung teduh.

Pada halama 187, jangan curhat pada lawan jenis. Selingkuh salah satunya diawali dengan curhat ke lawan jenis HINDARI. Menghindari ngobrol berdua dengan lawan jenis. Antisipasi. Juga di halaman 61 cita-cita saya selingkuh, kasus selingkuh tidak terjadi secara tiba-tiba. Akhirnya kita mesti bisa dan mau melihat apa faktor pencetusnya. Orang ketiga itu hanya akibat, bukan sebab. Jika hubungan Anda dengan pasangan sudah sangat baik, harmonis, saling memberi, mengerti, tahu kebutuhan masing-masing, kecil kemungkinan terjadinya selingkuh. Apa sih yang dicari dari selingkuh ? Karena dia tidak mendapatkan apa yang dia inginkan di rumah, dari pasangannya. ANDA juga memiliki PERAN yang menyebabkan pasangan Anda selingkuh.

Contoh kelima. Sejak umur 1 tahun, orangtua bercerai sehingga ikut ibu. Lalu ibu menikah lagi sehingga anak dibesarkan bersama ayah tiri. Perlakuan ayah tiri yang kasar baik bicara maupun fisik membuat ia trauma pada laki-laki. Sekarang ia sudah berkeluarga dikaruniai 4 anak tapi masih trauma (masih ada perasaan takut, benci terhadap laki-laki) padahal suami saat ini sangat baik dan sabar. Di dalam pikirannya, kadang terlintas semua itu bohong. Bagaimana cara mengatasi perasaan ini? Jawabannya izinkan diri untuk terima, rasakan dan lepaskan. “Obatmu ada dalam dirimu, mintalah melalui dirimu. Alloh Maha Adil, menjodohkan “pengganti” sosok ayah sehingga dalam perjalanan jika terus secara konsisten membuat diri berharga untuk diperjuangkan. Siap membuat diri menjadi pribadi yang mudah disayangi?

Sumber : Bunda Susan. Komunitas Biblioterapi Indonesia.

loading...
Share

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*