Ngebatin

Ngebatin

Ngebatin merupakan kata tidak baku dari membatin. Membatin dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) berasal dari kata dasar batin yang artina sesuatu yang terdapat di dalam hati, ssuatu yang menyangkut jiwa (perasaan hati dan sebagainya).

Membatin sendiri berarti memikir dalam hati, memikirkan sampai meresap ke dalam hati. Lebih lanjut, Poniman (2018) mengatakan bahwa ngebatin itu melibatkan tambahan “kemistri” dalam hati seseorang, sebuah bentuk reaksi tubuh yang membuat degup jantung berubah, bulu kuduk berdiri, air muka berubah, setelan respek berbeda, spontanitas menoleh, atau memberi perhatian dengan cara berbeda. Artinya sesuatu yang terpendam di dalam hati, karena belum bisa diekspresikan lewat sebuah kata, sikap atau perbuatan. Mungkin inilah yang dimaksud “ngebatin”. Ngebatin juga menghujamkan sesuatu harapan atau doa secara mendalam. Seolah seperti mimpi yang terwujud. Baik secara alam bawah sadar atau bahkan secara sadar saat kita berucap.

Fase ngebatin yang dialami setiap jenis mesin kecerdasan memang berbeda-beda. Terutama porsi “ngebatin” dalam konteks orientasi yang jadi objek untuk dibatinkannya.

Secara umum konsep STIFIn memetakan pola kemistri setiap mesin kecerdasan: Sensing kemistrinya harta, Thinking kemistrinya tahta, Intuiting kemistrinya kata, Feeling kemistrinya cinta, Insting kemistrinya bahagia.

Nah, hal inilah mungkin yang membedakan masing-masing mesin kecerdasan merefleksikan konteks momen “ngebatin” ini dengan konten yang berbeda. Ilustrasinya dapat digambarkan sebagai berikut :

Seorang sensing yang kemistrinya harta, cenderung memiliki momentum ngebatin yang berhubungan dengan harta.

Kejadiannya adalah ketika seorang Sensing melintasi beberapa perusahaan besar dalam satu wilayah tertentu, bentuk “ngebatin” Sensing seperti ini “enak kali yah kerja di perusahaan ini, tempatnya luas, gede, kerjaannya jalan-jalan melulu, gajinya juga gede. Semoga suatu saat bisa kerja disini biar dapet gaji tinggi (sambil menatap lamat-lamat ke arah perusahaan itu)” bicara dalam hati.

Sementara Thinking dengan konteks ilustrasi kejadian serupa, konten “ngebatin”nya seperti ini “kayaknya enak ya kalau aku bisa kerja disini, tempatnya strategis, orang-orangnya necis, jenjang karirnya juga terjamin, suatu saat kalau aku jadi kerja disini, semoga aku bisa dapat jabatan jadi CEO atau direkturnya”.

Bagaimana dengan Intuiting? dalam konteks ilustrasi kejadian yang sama, konten “ngebatin” seorang intuiting seperti ini, paling tidak ia ingat sebuah kutipan di catatan khususnya “who you are tomorrow begins with what you do today”, kemudian ia langsung membayangkan “kayaknya enak ya kalau punya perusahaan sebesar ini”, batinnya.

Lantas seorang Feeling mengalami fase “ngebatin” yang kontennya lebih ke permainan RASA. Memori masa lalunya meregresi. Ia akan terlibat secara emosioal dengan seseorang yang pernah hadir dalam bingkai latar belakang gedung perusahaan tersebut, atau sebuah peristiwa di dalam perusahaan itu yang membuatna terlibat secara emosioal. “Kayaknya enak ya kalau bisa mengulang kembali peristiwa itu disini”, terbawa perasaan (baper), bahkan bisa sampai menangis atau katarsis.

Bagi seorang Insting, fase “ngebatin” yang konteks ilustrasi kejadiannya sama dapat diekspresikan dengan konten “ngebatin” seperti ini “Kayaknya perusahaan sebesar ini punya banyak dana untuk program CSR, bisa bantu Yayasan nih buat bantu bangun sekolah darurat di lokasi bencana”.

Konten “ngebatin” diatas masih dalam ranah personality, pengaruh lingkungan juga cukup dominan.

Pengaruh lingkungan ini dapat menjelma berupa VAKOG (Visual, Auditory, Kinestetik, Olfactory dan Gustatory) yang apabila dipikirkan secara mendalam melibatkan perasaan dan hati akan mewujud diri serupa hukum tarik menarik (law of attraction) sehingga terwujud nyata dalam kehidupan. Contoh sederhana bagi seorang penyanyi yang menyanyikan lagunya dengan penuh penjiwaan. Seolah apa yang dinyanyikannya itu terjadi pada dirinya, hal ini nyata terbukti juga. Rosa dengan lagu tegar, Kristina dengan lagu jatuh bangun-nya, Aril dengan topeng, bahka juga sesuatu yang diperankan dengan “ngebatin” ini bisa terjadi nyara, seperti Sheila Marcia yang memerankan video klip sebagai seorang penghuni sel tahanan, nyatanya itu terjadi juga.

Dan kini jika bukti-bukti empiris makin meyakinkan kita baha segala sesuatu berasal dari cara pikir kita, seberapa mendalam pikiran itu merasuk ke palung hati menghujam menghasilkan pola-pola yang nyaris diimani, diamini, diniati, diucapkan, ditindaklanjuti, maka porsi “ngebatin” bukan lagi apa yang tidak nampak.

Semua telah berubah menjadi partikel-partikel yang nampak ke permukaan. Apa yang nampak berasal dari yang tidak nampak. Yang tak nampak adalah pikiran dan perasaan dalam proses “ngebatin” tadi, sementara yang nampak adalah realitanya.

Kendalikan pikiran dan perasaanmu, sebab ia akan lahir jadi ucapmu. Kendalikan ucapmu, sebab nantina ia jadi tindakanmu. Kendalikan tindakanmu, sebab kelak ia jadi kebiasaanmu, kendalikan kebiasaanmu karena nanti akan jadi karaktermu. Kendalikan karaktermu, sebab ia akan menjadi takdirmu. Kendalikan “ngebatin” secara positif lewat STIFIn agar menemukan jalan yang lurus dan benar yang diridhoiNya.

Sumber : Susan Motherpreneur untuk Komunitas Biblioterapi Indonesia. 9 Oktober 2018.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*