Jangan Sampai Ke Baitullah Tak Jumpa Alloh

Jangan Sampai Ke Baitullah Tak Jumpa Alloh
Jangan Sampai Ke Baitullah Tak Jumpa Alloh

“Dan panggillah manusia untuk berhaji”. Ayat tersebut terkait dengan peristiwa setelah selesainya Nabi Ibrahim bersama putranya Nabi Ismail membangun Kabah. Mereka bahu membahu membangun Kabah. Tapi kemudian sang Ayah diperintahkan Alloh SWT untuk menyuruh manusia berdatangan ke Mekkah. Situasi ini tidak mudah bagi Ibrahim karena tempat yang akan dituju bukanlah sebuah tempat rekreasi yang dengan mudah orang bisa mengunjunginya. Jadi kalau jemaah Haji tahun 40an atau tahun 50an memang sering di adzanin sebelum berangkat karena seringkali tidak kembali. Saat itu di jalanan banyak penyamun (perampok) di tengah jalan. Dan suasana saat itu di Saudi Arabia juga lagi miskin-miskinnya, belum dapat minyak. Dapat minyak saat di Raja Faisal. Minyak bukan solusi. Karena Kekayaan yang diberkahi adalah kekayaan yang bisa di nikmati oleh orang miskin sebanyak-banyaknya. Dan di Arab masih banyak orang miskinnya. Sementara di Zaman Umar bin Abdul Aziz, dua setengah tahun Umar bin Abdul Aziz memimpin Jazirah Arab pada masa itu dan dua setengah tahun zakatnya itu di pegang keliling kampung dari satu kampung ke kampung lain tapi tidak ada yang mau menerima zakat. Yang artinya apa? Makmur. Padahal belum ada minyak.

Ibrahim diperintahkan untuk panggil manusia. Datang. Dengan semua resikonya. Resikonya adalah tidak ada sarana komunikasi untuk memanggilnya. Ibrahim sempat bertanya kepada TuhanNya “Tuhan, bagaimana cara saya panggil manusia datang kesini karena perangkat komunikasi tidak ada?”. Kalau perintah Alloh harusnya tidak perlu ditanya karena pasti benar. Tetapi pertanyaan Ibrahim ini menjadi rasional dan diperbolehkan karena untuk memuaskan rasio dan itu tabiat manusia. Tabiat manusia itu lemah. Hanya mau mempercayai kalau sesuatu itu masuk akal. Kalau tidak masuk akal, tidak bisa menerima kebenaran. Kalau begitu, manusia itu lemah atau kuat? Kita akan menjumpai Alloh, kita berada diantara dua misteri. Misteri rasio (yang memuaskan dan terukur) dan misteri wahyu (tidak terlihat dan susah diukur). Bahayanya manusia itu hanya mau menerima kebenaran kalau kebenaran itu masuk akal. Sementara akal ini mau menerima karena kausalitas (sebab akibat). Otak tidak bisa menerima kebenaran sebagai akibat kalau tidak jelas sebabnya. Dan ini yang menentukan kualitas Haji masing-masing.

Perjalanan ke tanah suci sebenarnya perjalanan menjumpai Alloh di BaitNya. Seperti Ibrahim dierintahkan Alloh untuk memanggil manusia ke tanah suci. Sementara kesadaran harus saya tanamkan kepada orang yang saya panggil supaya mereka datang kesini. Secara hukum kausalitas yang namanya orang mau datang kalau ada ketertarikan. Akhirnya Alloh puaskan Ibrahim dengan kata-kata yang kedua “panggil saja niscaya mereka akan datang dari Negeri yang jauh meski harus berjalan kaki dan meski harus kurus kering unta mereka”. Kenyataanya memang begitu. Banyak jamaah Haji yang berjalan kaki dari Timur Tengah, yang tinggalnya di emperan masjid Nabawi sudah bersyukur. Yang penting dapat visa bisa jalan. Pada titik tertentu, kita akan mencapai sesuatu.

Besar kecilnya niat akan menentukan perolehan pulangnya nanti. Khawatirnya ada perasaan-perasaan permukaan yang didukung dana yang cukup dan waktu yang luang maka berangkat.

Pertanyaan Ibrahim yang kedua “Ya Rabb, saya tahu tapi..”. “Stop. Ibrahim jangan bertanya lagi. Tugas kamu hanya menyampaikan dan tugas Aku lah yang menghubungkan penyampaianmu kepada para pendengarmu di seluruh dunia sampai ke dalam hatinya”. Jadi ada kemantaban Ibrahim dan keyakinan yang mendalam akan jaminan Alloh bahwa Alloh akan membawa pesan Ibrahim ke lubuk hati orang-orang yang dikehendaki oleh Alloh untuk masuk ke dalamnya cinta kepada Alloh untuk ruku dan sujud untuk tawaf dan sai di Masjidil Haram.

Satu, kekuatan keyakinan niat dan kedua, kekuatan rasio berdasarkan ilmu yang kita peroleh. Karenanya manasik berapa kalipun tidak akan cukup. Berarti harus kembali kepada individu untuk menggali ilmu sedalam-dalamnya. Keluhan semua orang travel, jamaah haji dan umroh Indonesia adalah sangat minim ilmunya. Modalnya Cuma niat dan uang. Ini faktanya. Harusnya orang pulang Haji itu memberikan banyak sekali manfaat kepada masyarakat. Contoh orang yang tidak pernah Haji tapi dipanggil Haji karena saking banyak manfaatnya dari segi keagamaan yaitu Jenderal Sudirman. Jadi Jenderal Sudirman ini hidupnya lama di gerilya. Kemudian dimana tempat beliau singgah diadakan kajian agama untuk memompa semangat jihad bangsa Indonesia. Itu yang tidak tertulis di Sejarah dan tidak diajarkan di sekolah-sekolah. Karena saking manfaatnya secara keagamaan bagi orang disekitarnya sehigga beliau dipanggil pak Haji. Padahal beliau belum pernah naik Haji. Dan beliaulah yang mengkonsolidasikan Hizbullah dan Fisabilillah, sebuah kekuatan rakyat pada masa itu. Dan kemudian Jenderal Sudirmanlah yang merajut kekuatan Hisbullah dan Fisabilillah ini dengan pesantren-pesantren dimana beliau kunjungi dan disitu ditarik garis jihad fisabilillah untuk membebaskan Indonesia. Sampai lupa pergi Haji tapi dipanggil pak Haji. Indonesia bisa merdeka adalah hasil konsolidasi jemaah Haji di tanah suci.

Ust Bachtiar waktu kuliah di Madinah tahun 90 banyak bertemu dengan orang-orang tua yang tinggal di Madinah yang menceritakan tentang kemerdekaan Indonesia tapi tidak tertulis dalam sejarah. Pak Soeharto ketika pergi Haji tahun 94 itu perjuangan yang tidak mudah karena pak Harto saat itu. Kenapa sulit pergi ke tanah suci? Karena kalau orang sudah pergi ke tanah suci, satu kata kunci yang harus dia miliki. jiwa nya menjadi bebas, merdeka dari berbagai macam penindasan karena akar dari kolonialisme, kemusyirikan, otoritas diluar Alloh SWT tidak ada lagi. Otoritas yang harus ditaati Cuma Alloh dan RasulNya. Dan kalau manusia sudah punya itu didalam jiwanya bahaya karena tidak bisa ditindas, diperbudak. Bahaya manusia dalam kondisi seperti itu tidak bisa dikendalikan dari sisi keduniaan. Inilah yang menyebabkan kenapa jemaah Haji dan umroh pada masa lalu bermanfaat bagi orang banyak yang membuat Indonesia bisa merdeka karena mereka bebas dari kemusyirikan. Inilah misi utama pergi Umroh.

Hanya yang diterima Alloh saja yang mendapat kehormatan sampai kerumahNya. Semoga kita adalah orang yang dipilih Alloh dan diterima oleh Alloh menjadi tamu di Baitullah.

Ada orang berkunjung ke rumah Alloh dirumahNya tetapi tidak diterima oleh Alloh. Lalu indikatornya apa? Orang kelihatan Mabrur itu sudah kelihatan dari berangkatnya. Mau tahu cara mati kita nanti? Lihat cara hidup kita. Hadits Nabi “bagaimana cara hidupmu begitulah cara matimu”. “bagaimana cara kamu dibangkitkan dari kuburmu adalah bagaimana cara mati mu seperti itu nanti kamu dibangkitkan dari kuburmu”. Jadi lihatlah umur kita, kita habiskan buat apa. Yang umurnya dihabiskan dalam ketaatan, in shaa alloh meninggalnya dalam ketaatan.

Kita diterima atau tidak di BaitNya indikatornya sederhana. Kita termasuk orang yang gampang tidak melakukan ketaatan. Misal tanggal 28 akan berangkat, yang perlu dipersiapkan bukan jaket dulu menghadapi musim dingin. Karena Alloh tidak menilai jaketnya. Yang perlu dipersiapkan bekal utama untuk menjumpai Alloh adalah bekal takwa. Sudah cukupkah ketakwaan yang kau bawa untuk berhadapan dengan Alloh. Dan biasanya indikator ketakwaan pertama kali yang kita bawa bukan merasa suci. Ciri orang bertakwa itu akan semakin takut dengan Alloh. Sebetulnya takwa bisa cinta, harap, pasrah, takut. Tetapi kenapa kata takwa itu menggunakan kata tuqon yang artinya takut sebab Indikator modal ketakwaan adalah ketika kesyahduan cinta kepada Alloh dibarengi dengan rasa takut. Apalagi bila sudah merasa takut dalam keadaan sendirian. Dan indikasi orang itu takut pada Alloh dalam kesendirian adalah banyak istighfar nya. Jangan sampai kita diterima diemperan rumah Alloh dan Alloh tidak menjumpai kita karena kita tidak cukup bekal untuk berjumpa dengan Alloh di BaitNya.

Bagaimana ibadah kita menjadi benar? Bekal utama untuk berjumpa dengan Alloh di BaitNya adalah takwa maka takwa harus dijalankan sesuai aturanNya. Apa aturanNya? Puncak ibadah Haji dan Umroh adalah menggunakan pakaian ihram yang merupakan simbol kafan. Utamanya bagaimana kita berharap pandangan Alloh yang puncaknya harus melewati pintu kematian itu. In shaa alloh ada 2 perjumpaan dengan Alloh yaitu perjumpaan dengan Alloh di dunia dan berjumpa di akhirat. Di dunia ini, ghaib tidak bisa melihat fisiknya tapi melihat fisiknya nanti setelah kematian bila terpilih.

Bekal yang harus dibawa adalah persiapan sukses berjumpa dengan Alloh dalam keadaan hidup dan sesudah mati. Perjumpaan dengan Alloh di dunia itu lewat qolbu tapi perjumpaan dengan Alloh nanti di akhirat itu bisa melihat langsung. Kalau begitu, orang yang Mabrur nanti adalah orang yang selalu merasakan kebersamaan dengan Alloh lewat qolbunya. Kelihatan dari dzikirnya, tilawahnya, ibadah-ibadahnya.

Masjid itu jauh jaraknya hanya bisa ditempuh oleh hati yang khusyuk. Para pelari marathon jarang yang sampai ke Masjid. Orang yang Mabrur umrohnya sudah kelihatan dari sini. Ketakwaannya, ibadahnya.

“Barangsiapa yang menuntun orang pada kebaikan maka penuntunnya akan mendapat pahala kebaikan seratus persen seperti orang yang dituntunnya itu”.

Sayangnya kita sering latihan hidup, jarang bagaimana latihan mati. “Wahai manusia, apa yang membuatmu lalai mengingat Tuhanmu yang telah banyak berbuat baik kepadamu”.

Sumber : Ust. Bachtiar Nasir

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*